
Jakarta, wartapoint — Rezeki dalam pandangan Islam memiliki makna yang sangat luas dan tidak selalu diukur dari melimpahnya materi. Kesehatan, ketenangan hati, keberkahan hidup, keluarga yang harmonis, hingga kesempatan memberi manfaat bagi sesama merupakan wujud rezeki yang tak kalah bernilai.
Hal tersebut ditegaskan oleh Faozan Amar, Wakil Ketua Majelis Pembina Kesejahteraan Sosial (MPKS) Pimpinan Pusat Muhammadiyah sekaligus Associate Professor FEB UHAMKA, saat menyampaikan khutbah Jumat di Masjid At-Tanwir PP Muhammadiyah, Jakarta.
Dalam ceramahnya, Faozan memaparkan tiga jalan utama yang dapat ditempuh seorang Muslim untuk menjemput kelapangan rezeki:
1. Bersungguh-sungguh dalam Berikhtiar
Islam melarang umatnya berpangku tangan dan sekadar menunggu keajaiban. Ikhtiar merupakan kewajiban yang berjalan seiring dengan ibadah ritual. Faozan mengutip QS Al-Jumu’ah ayat 10, yang memerintahkan umat beriman untuk bertebaran di muka bumi mencari karunia Allah setelah menunaikan shalat.
“Setelah shalat, Allah memerintahkan kita untuk bertebaran di muka bumi dan mencari karunia-Nya. Ini menunjukkan bahwa ibadah dan ikhtiar ekonomi tidak boleh dipisahkan,” ujar Faozan.
2. Memperkuat Tawakal Setelah Usaha Maksimal
Bekerja secara profesional, meningkatkan kompetensi, serta merencanakan peluang harus disempurnakan dengan sikap tawakal—menyerahkan segala hasil akhir kepada Allah SWT.
Mengutip hadis riwayat Umar bin Khattab RA tentang burung yang pergi pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore dalam keadaan kenyang, Faozan menekankan bahwa tawakal bukan berarti pasrah tanpa tindakan.
“Burung saja keluar dari sarangnya untuk mencari rezeki. Karena itu, tawakal bukan berarti berhenti berusaha, melainkan bekerja sungguh-sungguh lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah,” jelasnya.
Sikap ini memagari diri agar tidak sombong saat rezeki lapang, dan tidak berputus asa ketika menghadapi kesempitan.
3. Gemar Bersedekah dan Berbagi
Jalan ketiga adalah mengikis sifat kikir melalui sedekah. Berdasarkan QS Saba ayat 39 dan sabda Rasulullah SAW (Mā naqaṣat ṣadaqatun min māl — Sedekah tidak akan mengurangi harta), berbagi justru menjadi pintu pembuka keberkahan.
Faozan mengingatkan bahwa balasan sedekah tidak selalu berupa penambahan angka di rekening, melainkan bisa berwujud ketenteraman, kesehatan, maupun terbukanya relasi sosial yang baik. Sedekah juga merekatkan kepedulian sosial agar rezeki dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas.
Menjaga Keseimbangan Ikhtiar, Tawakal, dan Sedekah
Sebagai penutup, Faozan mengajak jamaah untuk menjaga keseimbangan di antara ketiga elemen tersebut. Menurutnya, bekerja tanpa tawakal dapat melahirkan kesombongan, tawakal tanpa ikhtiar menjelma menjadi kemalasan, sedangkan harta tanpa kepedulian sosial akan kehilangan makna keberkahannya.
“Jangan hanya berdoa agar pintu rezeki dibuka. Kita juga harus bergerak mengetuk pintu-pintu ikhtiar yang halal. Setelah itu, bertawakal dan jangan lupa berbagi,” pungkasnya.





