
Surabaya, wartapoint – Kemeriahan memperingati Hari Batik Nasional terpancar jelas di SD Muhammadiyah 10 Surabaya (SD Mumtas). Pada Sabtu (3/10/2026), dua jurnalis cilik SD Mumtas, Mahira Nur Al Karimah dan Leonard Assha Al-fath, berbincang hangat mengenai makna mendalam di balik peringatan hari bersejarah bagi budaya Indonesia tersebut.
Dalam kesempatan wawancara tersebut, Leonard menjelaskan alasan utama bangsa Indonesia memperingati Hari Batik Nasional setiap tanggal 2 Oktober. Menurutnya, penetapan ini merujuk pada peristiwa bersejarah di tahun 2009 ketika UNESCO secara resmi mengakui batik sebagai Warisan Budaya Takbenda milik Indonesia.
Tak hanya memahami sejarahnya, warga SD Mumtas juga menyambut momen ini dengan beragam aktivitas kreatif dan edukatif. “Banyak sekali kegiatan serunya! Hari ini seluruh siswa dan guru memakai baju batik bebas, ada lomba mewarnai motif batik untuk kelas bawah, serta pameran karya batik ciptaan teman-teman kelas atas,” ungkap Leonard penuh semangat.
Lebih lanjut, Leonard menegaskan pentingnya peran generasi muda, khususnya para siswa SD Mumtas, dalam melestarikan batik. Menggunakan batik bukan sekadar mengenakan pakaian biasa, melainkan bentuk rasa bangga terhadap identitas dan budaya bangsa. Melestarikan batik juga menjadi tanggung jawab bersama agar warisan leluhur tidak hilang ditelan zaman.
Menutup perbincangan, Leonard menyampaikan harapan optimisnya untuk seluruh rekan sebaya di SD Mumtas. “Semoga teman-teman makin suka memakai batik, tidak hanya di sekolah, tetapi juga di rumah. Jangan malu memakai batik, karena batik itu indah dan membanggakan!” pungkasnya.
Semangat yang ditunjukkan oleh Mahira dan Leonard menjadi pengingat bahwa cinta budaya harus dipupuk sejak dini. Melalui aksi nyata dan edukasi di sekolah, batik akan terus lestari dan menjadi kebanggaan generasi penerus bangsa. (Tim jurnalis cilik SD Muhammadiyah 10 Surabaya)





