Mitigasi Bencana Berbasis Masjid, DMI Jatim Gandeng BPBD Latih 100 Takmir se-Jawa Timur

Must read

- Advertisement -

Surabaya, wartapoint – Masjid didorong untuk tidak sekadar menjadi tempat ibadah, melainkan juga pusat edukasi dan motor penggerak kesiapsiagaan bencana bagi masyarakat.

​Guna mewujudkan peran strategis tersebut, Pimpinan Wilayah Dewan Masjid Indonesia (PW DMI) Jawa Timur berkolaborasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) meluncurkan Pelatihan Tanggap Bencana Berbasis Masjid bertajuk “Masjid Tangguh, Masyarakat Bersama Wujudkan Kesiapsiagaan Bencana”.

​Agenda tersebut digelar di Ballroom Lantai 7 Hotel MEX Tunjungan, Surabaya, pada Kamis (15/10/2026), dan diikuti oleh 100 peserta pengurus DMI yang mewakili 38 kabupaten/kota di seluruh Jawa Timur.

​Antisipasi Musim Hujan dan Pembentukan Satgas

​Sekretaris PW DMI Jawa Timur sekaligus Ketua Yayasan Demasindo Jatim, Drs. H. Suhadi, menjelaskan bahwa pelatihan ini dirancang sebagai langkah konkret kewaspadaan dini mengingat kondisi geografis Jawa Timur yang tergolong rawan bencana.

​Beberapa potensi ancaman yang patut diwaspadai dalam waktu dekat antara lain banjir akibat tingginya curah hujan hingga potensi erosi dan banjir lahar dingin.

​”Dua hingga tiga bulan lagi kita akan menghadapi musim hujan dengan curah hujan tinggi. Karena itu, kita harus siap melakukan mitigasi bencana,” ujar Suhadi.

​Suhadi menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar agenda formalitas penyampaian materi. DMI Jatim mendorong para peserta untuk membawa pulang pemahaman mitigasi ini ke daerahnya masing-masing.

​”Tindak lanjutnya, kami berharap dapat dibentuk satuan tugas (satgas) bencana di setiap kabupaten/kota di Jawa Timur,” tambahnya.

​Posisi Strategis Masjid di Tengah Umat

​Dalam kesempatan yang sama, Ketua PW DMI Jawa Timur, Dr. H. M. Sujak, M.Ag., menggarisbawahi pentingnya keterlibatan takmir dan pengurus masjid. Kedekatan emosional serta interaksi harian antara pengurus masjid dan warga dinilai sebagai modal sosial yang sangat kuat.

​Sujak menyebut, keterlibatan DMI dan takmir masjid dibutuhkan di seluruh siklus kebencanaan—mulai dari pra-bencana (pencegahan), saat tanggap darurat, hingga pemulihan pascabencana.

​”Peran Dewan Masjid Indonesia sangat penting karena panjenengan (anda) semua bersentuhan langsung dengan umat. Mulai dari pencegahan, pada saat kejadian, dan pascakejadian, peran kita semua sangat dibutuhkan,” tegas Sujak.

​Melalui kerja sama dengan BPBD, jaringan masjid diharapkan dapat bertransformasi menjadi simpul informasi, pusat mitigasi mandiri, serta pusat bantuan solidaritas warga ketika bencana melanda.

​Dorong Program Unggulan Masjid

​Selain fokus pada isu mitigasi kebencanaan, Sujak memaparkan sejumlah program prioritas DMI Jawa Timur yang sedang berjalan. Di antaranya adalah pengawalan uang kehormatan untuk imam masjid bekerja sama dengan Pemprov Jatim, ajang penghargaan Masjid Award, hingga pendampingan sertifikasi halal UMKM melalui LP3H.

​”Melalui pendampingan ini, DMI Jatim telah berhasil membantu menerbitkan 1.000 sertifikat halal bagi produk-produk UMKM,” paparnya.

​Rangkaian acara pembukaan pelatihan diakhiri dengan doa bersama yang dipimpin oleh Drs. H. Abdullah Sani, M.Pd.I. Melalui sinergi lintas lembaga ini, DMI Jatim optimistis peran masjid akan semakin kuat dalam membentuk ketahanan masyarakat menghadapi risiko bencana.

​Penulis: Ahmad Mahmudi

Editor: (yupan)

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article