Menjaga Marwah Persyarikatan: Ketika Muhammadiyah Adalah Ladang Pengabdian, Bukan Batu Loncatan

Must read

- Advertisement -

Refleksi mendalam dihadirkan oleh Dr. Risman Muchtar melalui tulisannya yang berjudul “Jangan Jadikan Muhammadiyah Sebagai Batu Loncatan”. Di tengah dinamika sosial-politik yang kian pragmatis, esai ini datang sebagai alarm pengingat (early warning system) bagi keutuhan moral kader dan orientasi strategis Persyarikatan. Muhammadiyah, dengan usianya yang melintasi abad, dibangun di atas fondasi keikhlasan, dakwah, dan tajdid—bukan sebagai panggung transaksional untuk memupuk ambisi kekuasaan personal.

​Fenomena menjadikan organisasi Islam besar sebagai kendaraan transit karier atau batu loncatan politik bukanlah hal baru dalam sosiologi organisasi modern. Ketika godaan jabatan, popularitas, dan akses ekonomi melenyapkan orientasi pengabdian, di situlah degradasi moral kader bermula. Esai ini berhasil membedah persoalan tersebut secara komprehensif melalui tiga pilar utama: orientasi amanah, uji keikhlasan, serta standar loyalitas yang objektif.

​1. Dekonstruksi Mentalitas: Dari “Meminta” Menjadi “Memberi”

​Persoalan mendasar yang sering menghinggapi sebagian kalangan di dalam organisasi massa adalah pergeseran paradigma: dari memberi (kontribusi) menjadi meminta (fasilitas dan kedudukan). Padahal, dalam tradisi Muhammadiyah, jabatan struktural maupun posisi strategis apa pun hanyalah sebuah amanah, bukan hak istimewa.

​Kutipan reflektif di bagian akhir tulisan Dr. Risman menjadi poin paling krusial: “Jangan hanya bertanya, ‘Apa yang dapat saya peroleh dari Muhammadiyah?’ Akan tetapi, tanyakan pula, ‘Apa yang telah saya berikan dan wariskan untuk kemajuan Muhammadiyah?’” Kalimat ini meruntuhkan mentalitas pragmatis yang kerap menjebak sebagian kader yang melihat organisasi sekadar sebagai alat legitimasi sosial.

​2. Membedah Loyalitas: Rekam Jejak Versus Pencitraan

​Di era digital hari ini, loyalitas sering kali direduksi menjadi sekadar retorika di ruang publik, kefasihan beretorika, atau kedekatan simbolik dengan elite tertentu. Padahal, loyalitas sejati diuji di ruang sunyi: konsistensi mengurus amal usaha, kejujuran mengelola sumber daya, serta kesiapan untuk tetap berkhidmat meskipun tidak duduk di kursi struktural.

​Dr. Risman secara tepat menempatkan rekam jejak (track record) sebagai indikator utama integritas kader. Loyalitas tidak diukur dari seberapa besar panggung pencitraan yang dibangun, melainkan dari seberapa besar ketulusan seseorang dalam menaati aturan organisasi dan menjaga marwah musyawarah.

​3. Menyelaraskan Pengabdian Publik dengan Independensi Persyarikatan

​Tidak bisa dipungkiri, banyak kader Muhammadiyah yang terjun ke gelanggang sosial, ekonomi, hingga politik kebangsaan. Hal ini tentu sejalan dengan misi kekhalifahan umat Islam. Namun, batasan etisnya menjadi sangat tipis jika batas antara “membawa nilai Muhammadiyah” dan “memanfaatkan Muhammadiyah” menjadi kabur.

​Opini ini mengingatkan kita bahwa keterlibatan kader di luar Persyarikatan harus mendatangkan kemaslahatan bagi umat, bukan menjadikan organisasi sebagai batu loncatan yang ditinggalkan begitu ambisi personal tercapai. Menjaga independensi kolektif jauh lebih utama daripada mendewakan ambisi personal segelintir elite.

​Penutup: Kembali ke Khittah Perjuangan

​Pada akhirnya, Muhammadiyah tidak kekurangan orang cerdas atau kader yang cakap secara manajerial. Yang dibutuhkan hari ini adalah integritas moral dan kedalaman spiritual.

​Tulisan Dr. Risman Muchtar ini bukan sekadar kritik internal, melainkan sebuah manifesto moral untuk membersihkan Persyarikatan dari virus transaksionalisme. Sudah saatnya setiap kader merefleksikan kembali niat berkhidmatnya: apakah hadir untuk membesarkan Muhammadiyah, atau justru membesar-besarkan diri di atas pundak Muhammadiyah? Jawabannya tentu ada pada keikhlasan amal dan rekam jejak pengabdian kita masing-masing.

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article