Menapaki Sejarah Peradaban Islam di Istanbul, Kepala SMK Mudisa Surabaya Tunaikan Salat Dhuhur di Hagia Sophia

Must read

- Advertisement -

Istanbul, wartapoint — Perjalanan melintasi batas negara tidak sekadar menjadi ajang meluaskan wawasan, tetapi juga momentum merenungi kebesaran sejarah dan memperkuat keimanan. Hal itulah yang dirasakan Kepala SMK Muhammadiyah 1 Surabaya (SMK Mudisa), Irvandy Andriansyah, S.T., M.T., saat melakukan kunjungan ke Turkiye pada Ahad (8/11/2026).

​Di tengah agenda lawatannya menyusuri negeri yang kaya akan warisan sejarah tersebut, Irvandy menyempatkan diri mendatangi salah satu ikon peradaban dunia: Masjid Agung Hagia Sophia (Ayasofya Grand Mosque) di Istanbul.

​Tak sekadar mengagumi kemegahan arsitektur bangunan berusia belasan abad itu, Irvandy turut bersujud dan menunaikan salat Dhuhur berjamaah di dalam ruang utama masjid bersejarah tersebut.

​Terpukau Kemegahan dan Wasiat Wakaf Sultan Mehmed II

​Hagia Sophia yang didirikan pada abad ke-6 bertransformasi menjadi ikon peradaban Islam setelah penaklukan Konstantinopel oleh Sultan Mehmed II pada 29 Mei 1453. Di balik dinding dan kubahnya yang megah, tersimpan nilai sejarah serta spiritual yang mendalam.

​Bagi Irvandy, pengalaman menunaikan ibadah di Hagia Sophia menghadirkan rasa haru dan takjub yang sulit dilukiskan.

​”Alhamdulillah, sebuah pengalaman yang sangat luar biasa dan sulit dilupakan. Bisa berkunjung ke Hagia Sophia, melihat langsung bangunan bersejarah yang selama ini hanya kita kenal melalui buku-buku sejarah, kemudian berkesempatan melaksanakan salat Dhuhur berjamaah di dalamnya, menjadi pengalaman spiritual tersendiri,” ujar Irvandy.

​Salah satu hal yang paling menyentuh perhatiannya adalah ketika membaca dokumen keputusasaan dan ketentuan wakaf Sultan Mehmed II untuk Hagia Sophia. Pemimpin Kesultanan Utsmaniyah tersebut tidak hanya merancang bangunan fisik, tetapi mengatur keberlanjutan operasional masjid secara terperinci—mulai dari kesejahteraan imam, muazin, guru, hingga petugas kebersihan dan penerangan.

“Jujur, saya sangat tersentuh ketika membaca ketentuan wakaf Sultan Mehmed II. Beliau tidak hanya berpikir bagaimana membangun atau memiliki bangunan yang megah, tetapi juga bagaimana masjid itu terus hidup, terawat, dimakmurkan, dan memberikan manfaat bagi umat,” ungkapnya.

​Membawa Semangat Peradaban ke Dunia Pendidikan

​Pelajaran kepemimpinan dari penakluk Konstantinopel tersebut menjadi cermin refleksi bagi Irvandy dalam mengelola lembaga pendidikan Muhammadiyah di Surabaya. Menurutnya, tata kelola visi besar Sultan Mehmed II sangat relevan dalam membina generasi muda di SMK Mudisa.

​Ia menegaskan bahwa sekolah tidak boleh hanya berfokus pada pembangunan fisik, fasilitas modern, atau sekadar perolehan trofi prestasi, melainkan harus menyasar pada pembentukan karakter dan jiwa anak didik.

​”Kita membangun sekolah bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk masa depan generasi. Jangan sampai kita hanya membangun gedung sekolah, tetapi lupa membangun jiwa dan karakter anak-anak kita. Jangan hanya mengejar prestasi, tetapi melupakan adab, kejujuran, amanah, dan tanggung jawab,” tegas Irvandy.

​Perjalanan ke Istanbul ini membawa pesan mendalam yang siap diterapkan di Surabaya: semangat memadukan nilai keislaman, keunggulan kompetensi keahlian, serta wawasan global demi melahirkan lulusan yang tangguh dan berakhlaqul karimah. (yupan)

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article