
Gresik wartapoint – Suasana khidmat menyelimuti Masjid Al-Khoory KH Faqih Oesman di lingkungan Universitas Muhammadiyah Gresik pada Sabtu (16/5/2026) pagi. Sekitar 200 jemaah memenuhi ruang utama masjid sejak pelaksanaan shalat subuh untuk mengikuti kajian bedah buku berjudul “Jejak-Jejak Berpijak”.
Kajian rutin yang digelar setiap hari Sabtu pekan ketiga ini menghadirkan langsung sang penulis buku, Najib Sulhan. Dalam pemaparannya hingga pukul 06.00 WIB, Najib membedah tema krusial mengenai “Peran Orang Tua dalam Penguatan Akidah” dengan merefleksikan kisah-kisah pola asuh para utusan Allah.
Pintu Masuknya Ilmu dan Keteladanan
Najib mengawali pemaparannya secara interaktif dengan memutar sebuah video reflektif bertajuk “Anak Meniru Orang Tuanya”. Visualisasi tersebut kemudian dikorelasikan secara mendalam dengan kandungan Al-Qur’an Surat An-Nahl Ayat 78.
Dalam penjelasannya, Najib menekankan bahwa proses penyerapan nilai dan ilmu pada anak sejatinya bersumber dari tiga pintu utama yang dianugerahkan oleh Sang Pencipta.
“Pada dasarnya, pintu masuknya ilmu dan pembentukan karakter anak itu bermula dari pendengaran, penglihatan, dan hati,” ujar Najib di hadapan ratusan jemaah yang hadir.
Refleksi Empat Kisah Rasul dan Ujian Hidayah
Memasuki inti kajian, Najib mengupas tuntas empat fragmen sejarah para rasul dalam mengasuh putra-putri mereka, yakni Nabi Nuh AS, Nabi Luth AS, Nabi Ya’qub AS, dan Nabi Ibrahim AS. Setiap figur nabi memiliki dinamika perjuangan domestik yang berbeda dengan akhir cerita yang beragam pula.
Untuk kisah Nabi Nuh AS dan Nabi Luth AS, Najib memperkuat ulasannya dengan merujuk pada Surat At-Tahrim Ayat 10. Ayat tersebut mengisahkan perumpamaan tentang istri-istri nabi yang berada di bawah pengawasan hamba yang saleh, namun tetap memilih jalan pengkhianatan terhadap kebenaran hingga berujung pada ancaman neraka.
Melalui kisah ini, Najib memberikan catatan teologis penting bagi para orang tua bahwa ikhtiar mendidik harus dibarengi dengan kesadaran penuh akan hakikat spiritual. “Ini merupakan penegasan bahwa pada akhirnya, hidayah itu mutlak milik Allah,” tuturnya.
Kesabaran Nabi Ya’qub: Tanggung Jawab hingga Embusan Napas Terakhir
Selanjutnya, jemaah diajak menyelami kisah Nabi Ya’qub AS yang memiliki 12 putra. Najib menggambarkan narasi yang tertuang dalam Surat Yusuf ayat 1 sampai 111 tersebut laksana sebuah novel kehidupan yang kaya akan dinamika emosi, mulai dari kecemburuan kasih sayang antar-saudara, dendam, jalinan percintaan, hingga akhir cerita yang sangat menarik.
Bentuk kesabaran paripurna diperlihatkan oleh Nabi Ya’qub AS saat menghadapi karakter anak-anaknya yang sangat beragam. Meski ujian tersebut begitu berat hingga membuat matanya memutih akibat duka yang mendalam, doa dan harapan kepada Allah tidak pernah terputus.
Puncak dari tanggung jawab pengasuhan akidah ini terekam jelas dalam Surat Al-Baqarah Ayat 133. Saat menjelang sakaratul maut, Nabi Ya’qub mengumpulkan anak-anaknya untuk melemparkan satu pertanyaan krusial: “Sepeninggalku nanti, siapa yang kausembah?” Pertanyaan itu kemudian dijawab serentak oleh putra-putranya, “Kami menyembah Tuhanmu, Tuhan ayahmu Ibrahim, Ismail, dan Ishak, Tuhan Yang Esa.”
Najib menegaskan bahwa fragmen ini memberikan kontras yang mendalam mengenai batas tanggung jawab orang tua. Jika Kan’an dan Nabi Nuh AS dipisahkan oleh hempasan air banjir dalam keadaan mendurhaka, maka Nabi Ya’qub AS dan putra-putranya dipisahkan oleh kematian dalam indahnya ketauhidan. Hingga embusan napas terakhir, prioritas utama orang tua adalah memastikan anak-anaknya tetap taat kepada Allah.
Keteguhan Ibrahim AS dan Abadinya Sejarah
Kajian subuh ini ditutup dengan kupasan tuntas mengenai figur Nabi Ibrahim AS bersama putranya, Nabi Ismail AS. Najib memaparkan sejumlah gelar agung yang melekat pada diri Nabi Ibrahim AS, antara lain:
- Abul Anbiya (Bapaknya Para Nabi): Mengingat dari garis keturunannya bersama Sarah maupun Hajar, lahir silsilah panjang para nabi dan rasul.
- Khalilullah (Kekasih Allah): Sebagai bapak tauhid yang senantiasa melaksanakan segala perintah-Nya dengan keyakinan penuh tanpa rasa takut kepada siapa pun selain Allah.
- Ulul Azmi: Golongan rasul yang menerima tingkat ujian teramat berat.
Najib menggarisbawahi bahwa keyakinan kokoh yang dimiliki Nabi Ibrahim AS terbukti mampu mengubah setiap ujian berat yang dialaminya berakhir dengan sangat indah. Bahkan, berbagai peristiwa heroik dan sarat pengorbanan dalam ujian keluarga Ibrahim tersebut kini diabadikan menjadi ritual sakral dalam syariat Ibadah Haji yang terus hidup hingga saat ini.
Melalui momentum kajian ini, jemaah diingatkan kembali bahwa fondasi keluarga yang kokoh hanya dapat dibangun di atas pilar akidah dan keteladanan yang konsisten dari orang tua.





