
Surabaya, Wartapoint – Cahaya wajah-wajah polos itu tampak begitu indah menghiasi lantai enam SMA Muhammadiyah 2 Surabaya, Sabtu (16/5/2026). Dengan balutan busana rapi, peci hitam, dan senyum yang sulit disembunyikan, puluhan siswa SD Muhammadiyah 10 Surabaya berjalan perlahan menuju panggung Wisuda Tahfidzul Qur’an. Di tangan mungil mereka tergenggam syahadah penuh makna, sementara di hati para orang tua mengalir rasa haru dan bangga yang sulit dilukiskan dengan kata-kata.
Sebanyak 43 siswa SD Mumtas resmi mengikuti Wisuda IV Tahfidzul Qur’an yang diselenggarakan K3 SD/MI Muhammadiyah Kota Surabaya. Jumlah tersebut menjadi yang terbanyak di antara 28 SD/MI Muhammadiyah se-Kota Surabaya yang turut ambil bagian dalam pagelaran penuh makna bertema “Membumikan Al-Qur’an, Melangitkan Harapan.”
Total terdapat 297 peserta wisuda dari berbagai sekolah Muhammadiyah. Namun, kehadiran 43 siswa Mumtas menghadirkan perhatian tersendiri. Mereka hadir bukan sekadar membawa hafalan, tetapi juga membawa cahaya Al-Qur’an yang terus dijaga agar tetap hidup di tengah generasi muda.
Di balik keberhasilan itu, tersimpan perjuangan panjang yang penuh kesabaran dan ketekunan. Sebelum dinyatakan layak mengikuti wisuda, para siswa harus melewati proses ikhtibar atau ujian hafalan, mulai dari tingkat sekolah hingga ujian eksternal bersama Tim Tajdied Center PWM Jawa Timur. Hari-hari mereka dipenuhi murojaah, mengulang hafalan selepas subuh, menyetorkan ayat demi ayat, hingga belajar menjaga istiqamah di tengah aktivitas belajar dan bermain.
Direktur Roudlotul Huffadz SD Mumtas, M. Saifunnur, menyampaikan bahwa sebenarnya ada 51 siswa yang telah dinyatakan lulus ikhtibar. Namun, tahun ini baru 43 siswa yang dapat mengikuti wisuda bersama.
“Semoga tahun depan semakin banyak siswa yang bisa mengikuti wisuda dengan hafalan yang lebih baik dan lebih kuat,” ujarnya penuh harap.
Suasana aula pun semakin syahdu ketika satu per satu nama siswa dipanggil menuju panggung kehormatan. Ada yang tersenyum bahagia, ada pula yang menundukkan kepala menahan haru. Para orang tua tampak tak henti mengabadikan momen berharga itu. Bagi mereka, melihat anak mampu menghafal Kalamullah adalah anugerah kehidupan yang tak ternilai.
Keberhasilan para siswa tentu tidak lepas dari peran guru-guru pendamping yang setia membersamai perjalanan mereka. Di antaranya Nanda Aidatul Fitri, Ashriyatur Rosyidah, Maulidiya, dan Amilatur Rosidah yang terus mendampingi siswa menjaga hafalan dengan penuh kesabaran dan kasih sayang.
Kepala SD Mumtas, M. Khoirul Anam, mengaku bangga atas capaian para siswa. Menurutnya, wisuda tahfidz bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal untuk terus menjaga hafalan serta mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
“Sebagai sekolah generasi Qur’ani, SD Mumtas akan terus berkomitmen membentuk anak-anak yang cerdas, berakhlak mulia, dan dekat dengan Al-Qur’an,” tuturnya.
Di tengah gemerlap Kota Surabaya, SD Mumtas perlahan terus menyalakan cahaya itu—cahaya generasi Qur’ani yang kelak diharapkan mampu menerangi masa depan bangsa dengan nilai-nilai. (yupan)





