Oleh : Gandhung Fajar Panjalu
(Anggota MTT PDM Surabaya)
Menjelang Hari Raya Iduladha 1447 H, umat Islam kembali bersiap menghidupkan salah satu syiar paling agung, ibadah kurban. Namun, atmosfer Iduladha kali ini membawa rasa kehilangan yang mendalam bagi dunia pemikiran Islam di Indonesia. Berpulangnya Prof. Dr. KH. Hamim Ilyas, M.A., Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah beberapa hari lalu, meninggalkan duka sekaligus warisan intelektual yang sangat berharga untuk direfleksikan, terutama dalam memandang hakikat ibadah kurban.
Salah satu catatan pemikiran monumental yang beliau tinggalkan adalah gagasan tentang “Transformasi Nilai Ibadah Kurban”. Melalui pemikirannya, Kiai Hamim mengajak kita melihat ritual penyembelihan hewan tidak sekadar sebagai rutinitas fikih tahunan, melainkan sebuah proklamasi kemanusiaan dan kasih sayang yang melintasi zaman.
Dari Agama Demoniak Menuju Agama Etis
Dalam salah satu pengajiannya, Kiai Hamim membedah akar sejarah kurban dengan sangat jeli. Beliau kontraskan antara praktik keagamaan kuno yang bersifat demoniak, di mana dewa-dewa disembah melalui darah dan daging manusia sebagai persembahan, dengan agama Ibrahimiyah (Islam) yang bersifat etis.
Peristiwa digantikannya Nabi Ismail AS dengan seekor domba bukan sekadar mukjizat sesaat, melainkan sebuah antitesis terhadap teologi maut yang merendahkan martabat manusia.
“Tuhan menunjukkan kebaikan kepada manusia. Agama yang jahat pada manusia itu simbolnya adalah kurban persembahan kepada Tuhan dengan manusia. Sementara agama Ibrahim itu agama etis, yaitu agama yang mengajarkan bahwa Tuhan itu baik kepada manusia, disimbolkan dengan digantikannya Ismail menjadi seekor domba,” urai Kiai Hamim.
Pesan spiritual dari fragmen sejarah ini sangat tegas: Islam datang untuk menyelamatkan manusia, bukan mengorbankannya. Kurban adalah manifestasi kasih sayang Allah (rahmah) agar manusia berhenti saling menumpahkan darah dan beralih saling berbagi kesejahteraan.
Menemukan Sunah dalam Kaleng: Spirit Hari Tasyrik
Kontribusi besar Kiai Hamim dalam konteks fikih kontemporer adalah kemampuannya melakukan kontekstualisasi teks (manhaj tarjih) secara progresif. Ketika Lazismu (Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Muhammadiyah) menginisiasi program pengalengan daging kurban seperti produk RendangMu, sebagian kalangan mungkin melihatnya sebagai bid’ah atau keluar dari pakem klasik yang mengharuskan daging dibagikan segar seketika.
Namun, di tangan Kiai Hamim, inovasi ini justru menemukan pijakan sunah yang sangat kuat lewat pelacakan historis istilah Hari Tasyrik (11, 12, dan 13 Dzulhijjah).
Secara bahasa, tasyrik berarti menjemur atau mengeringkan sesuatu di bawah terik matahari. Mengapa daging kurban disembelih hingga hari-hari tersebut? Kiai Hamim menjelaskan bahwa pada zaman Nabi SAW, masyarakat mengeringkan daging kurban menjadi dendeng agar bisa bertahan lama dan dikonsumsi sepanjang tahun, bukan dihabiskan dalam satu hari.
Dengan cerdas, beliau menarik benang merah bahwa pada Zaman Nabi SAW, Daging di-tasyrik-kan (dijemur/dikeringkan) untuk ketahanan pangan. Pada zaman Modern ini, daging dikalengkan (menjadi rendang siap saji) dengan teknologi modern.
Secara esensi (substansi), apa yang dilakukan melalui pengalengan daging kurban hari ini adalah representasi sejati dari tradisi Nabi SAW. Metodenya berubah mengikuti perkembangan zaman, tetapi spirit-nya tetap sama: memperpanjang masa manfaat demi kemaslahatan umat.
Kurban sebagai Fondasi Ketahanan Pangan
Melalui kacamata pemikiran Kiai Hamim, ibadah kurban bertransformasi dari sekadar kesalehan ritual-individual menjadi instrumen ketahanan pangan dan mitigasi bencana yang bersifat struktural.
Daging kurban yang telah dikalengkan tidak lagi menumpuk dan memicu pembusukan di area-area yang surplus (perkotaan), melainkan dapat didistribusikan secara merata sepanjang tahun ke wilayah-wilayah pelosok yang mengalami stunting, atau wilayah yang sedang dilanda bencana alam. Di saat akses logistik terputus akibat gempa atau banjir, kaleng-kaleng daging siap saji ini hadir sebagai penyelamat nutrisi bagi para korban.
Inilah puncak dari “Berkurban dengan Kasih Sayang” yang sering beliau dengungkan. Kasih sayang yang tidak berhenti saat hewan kurban roboh di tangan jagal, melainkan kasih sayang yang terus mengalir dalam kaleng-kaleng logistik kemanusiaan berbulan-bulan setelahnya.
Meneladani Sang Mujaddid
Kepergian KH. Hamim Ilyas adalah kehilangan besar bagi dunia pemikiran Islam moderat-kemajuan di Indonesia. Beliau telah mencontohkan bagaimana menjadi seorang intelektual yang mapan secara khazanah klasik, namun lincah dan berani dalam menjawab tantangan modernitas.
Menyambut Iduladha tahun ini, menjadi momentum untuk merawat pemikirannya. Mari maknai kurban bukan lagi sebatas ritual tumpah darah hewan, melainkan sebagai momentum mengalirkan kasih sayang, merawat kemanusiaan, dan membangun ketahanan pangan bagi sesama.
Selamat jalan, Kiai Hamim Ilyas. Jejak intelektualmu akan selalu hidup dalam setiap helai daging kurban yang membawa maslahat bagi semesta.





