Salinan dari Donasi Pembangunan Masjid Poster
Sunday, May 31, 2026
Salinan dari Donasi Pembangunan Masjid Poster

Refleksi Idul Kurban: Taat, Tulus, dan Sabar dalam Berorganisasi Muhammadiyah

Must read


Oleh: Ali Fauzi, Kepala SMA Muhammadiyah 4 Surabaya

Idul Kurban bukan sekadar perayaan menyembelih hewan. Ia adalah momentum untuk merenung tentang makna ketaatan, pengorbanan, ketulusan, dan kesabaran. Nilai-nilai itu kita warisi dari Nabi Ibrahim AS, seorang hamba yang diuji Allah dengan perintah paling berat: mengorbankan putranya sendiri.

Ibrahim tidak membantah. Ia memilih taat. Ismail pun menjawab dengan ridha. Inilah teladan sami’na wa atha’na — “kami mendengar dan kami taat”. Sebuah sikap yang tidak menawar ketika perintah datang dari Yang Maha Benar.

Lalu apa hubungan kisah ini dengan kita yang berorganisasi di Muhammadiyah?

Muhammadiyah lahir dari kesadaran untuk kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah, beramal, berjuang, dan berkorban demi menegakkan agama Allah di muka bumi. Organisasi ini bukan milik pribadi. Ia adalah wasilah perjuangan. Karena itu, cara kita berorganisasi harus meniru semangat Ibrahim: taat, tulus, dan sabar.

1. Taat pada tujuan organisasi
Ketaatan Ibrahim adalah ketaatan tanpa syarat. Dalam Muhammadiyah, ketaatan itu berarti kita tunduk pada Khittah, Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga, dan keputusan-keputusan musyawarah. Perbedaan pendapat boleh ada, tapi setelah diputuskan bersama, kita bergerak satu barisan.
Berorganisasi bukan tempat mencari menang sendiri. Kalau setiap kader membawa egonya, maka organisasi akan retak. Sami’na wa atha’na dalam Mars Muhammadiyah mengingatkan kita: setelah mendengar keputusan, maka laksanakan. Tidak cukup setuju di mulut, tapi harus taat dalam tindakan.

2. Berjuang dengan ketulusan dalam pengorbanan
Kurban Ibrahim adalah kurban yang paling mahal: anak, harta, dan kenyamanan. Muhammadiyah juga berdiri di atas pengorbanan para pendiri dan kader terdahulu. Mereka mendirikan sekolah, rumah sakit, panti, dan masjid tanpa menghitung untung rugi dunia.
Hari ini kita dituntut meneruskan. Berorganisasi di Muhammadiyah berarti siap mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, bahkan materi. Tapi pengorbanan itu harus tulus. Tidak mengharap jabatan, pujian, atau balas budi. Kalau ada pamrih, maka lelahnya sia-sia. Tulus itu bekerja karena Allah, bukan karena manusia melihat.

3. Menjalani dengan kesabaran
Jalan dakwah Muhammadiyah tidak selalu mulus. Ada kritik, ada fitnah, ada keterbatasan sumber daya, ada perbedaan internal. Ibrahim diuji berkali-kali dan ia sabar. Begitu pula kita.
Kesabaran dalam organisasi artinya tidak mudah kecewa ketika hasil tidak sesuai harapan, tidak mudah meninggalkan ketika ada masalah, dan tidak mudah mencaci ketika berbeda pandangan. Sabar menjaga lisan, sabar merawat ukhuwah, sabar menyelesaikan amanah sampai tuntas. Organisasi besar ditempa oleh kader yang sabar, bukan oleh yang cepat pergi.

Bagaimana seharusnya kita berorganisasi?
Seharusnya kita menjadi kader yang mendengar aturan lalu taat melaksanakannya. Bekerja dengan hati, bukan sekadar hadir. Berkorban tanpa pamrih, dan tetap bertahan meski ujian datang. Itulah implementasi sami’na wa atha’na dalam gerak Muhammadiyah.

Mars Muhammadiyah sendiri mengumandangkan:
“Kami semua Muhammadiyah, taat setia pada pimpinan. Sami’na wa atha’na, bekerja giat sentosa.”
Filosofinya dalam: ketaatan melahirkan kesetiaan, kesetiaan melahirkan kerja giat, dan kerja giat yang tulus akan membawa organisasi menuju kejayaan.

Idul Kurban mengingatkan kita: Allah tidak melihat daging dan darah hewan kurban, tapi ketakwaan kita. Begitu juga Muhammadiyah tidak butuh kader yang hanya pandai berpidato. Muhammadiyah butuh kader yang takwa dalam amal organisasi: taat, tulus berkorban, dan sabar berjuang.

Mari jadikan setiap Idul Kurban sebagai titik evaluasi. Sudahkah kita berorganisasi seperti Ibrahim? Sudahkah kita benar-benar mengamalkan sami’na wa atha’na dalam langkah Muhammadiyah?

Jika jawabannya belum, maka inilah saatnya kita memperbaiki. Karena Muhammadiyah akan terus maju jika setiap anggotanya hidup dengan semangat kurban: taat, tulus, dan sabar. Wallahu a’lam.

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article