Oleh: Sobirin Malian (Dosen, Penggiat Literasi)
Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar…
Gema takbir yang membelah langit subuh Idul Adha selalu membawa getaran yang sama setiap tahunnya. Kita berdiri di tepi lapangan atau halaman masjid, menyaksikan sekelompok orang merebahkan seekor lembu yang tambun atau domba yang gemuk ke atas tanah. Pisau yang diasah tajam berkilat di bawah sinar matahari pagi, menyentuh urat leher sang hewan, lalu dalam satu gerakan mantap, darah pun mengalir membasahi bumi. Namun, jika kita mau menepikan keriuhan sesaat dan menatap darah yang meresap ke dalam tanah itu, sebuah pertanyaan sunyi akan mengetuk dinding kesadaran kita: Siapa sebenarnya yang sedang kita sembelih hari ini?
Fatamorgana Monster yang Tak Pernah Kenyang
Hewan ternak yang pasrah di bawah sebilah baja itu hanyalah sebuah simbol visual. “Hewan” yang sesungguhnya—yang jauh lebih liar, lebih rakus, dan tak pernah kenyang—justru sedang berdiri tegak di dalam dada kita sendiri. Ia adalah nafsu keserakahan. Sifat kebinatangan inilah yang setiap hari berbisik agar kita terus menimbun harta, memonopoli kebahagiaan, dan mencengkeram dunia seolah-olah kita akan hidup selamanya.
Selama ini kita keliru berpikir bahwa dengan memberi makan monster keserakahan ini dengan takhta dan materi, ia akan menjinak. Padahal, ia seperti api; semakin diberi kayu bakar, semakin ia berkobar hebat hingga menghanguskan rumah tempat ia tinggal, yaitu kedamaian hati kita sendiri. Di sinilah esensi qurban universal mengetuk kemanusiaan kita: kita diminta merebahkan ego yang gemuk itu, lalu menyembelihnya tanpa belas kasihan bersamaan dengan runtuhnya sang hewan sembelihan.
Mengetuk Pintu Langit Melalui Tangan yang Terbuka
Tuhan sama sekali tidak membutuhkan tumpukan daging atau aliran darah itu. Yang mengetuk pintu langit adalah ketakwaan dan keikhlasan kita untuk melepaskan. Sifat serakah selalu cemas akan masa depan, selalu takut kekurangan, dan enggan berbagi karena menganggap apa yang ada di tangan adalah mutlak milik sendiri.
Melalui syariat qurban, kita dipaksa untuk memotong urat nadi ketakutan itu. Ketika sepotong daging berpindah dari tangan kita ke atas piring kosong seorang fakir miskin yang mungkin hanya makan daging setahun sekali, di situlah keajaiban penyembelihan ego terjadi. Kita sedang mencabut akar ketamakan yang menyumbat empati, menginsafi bahwa di dalam setiap jengkal rezeki yang kita kejar siang dan malam, ada hak orang lain yang harus dibebaskan.
Belajar Melepaskan Genggaman di Altar Nabi Ibrahim
Perjalanan spiritual ini membawa ingatan kita mundur jauh ke masa Nabi Ibrahim Alaihissalam. Bayangkan kilatan pisau di tangan seorang ayah yang harus diarahkan ke leher putra tercintanya, Ismail. Ujian Ibrahim bukanlah sekadar ujian menyembelih seorang anak, melainkan ujian melawan “keserakahan emosional”—sebuah teguran keras agar manusia tidak mencintai makhluk atau materi secara berlebihan hingga membutakan hati dari Sang Pemberi hidup.
Ismail adalah simbol dari puncak kepemilikan duniawi, sesuatu yang paling ingin digenggam erat dan dimiliki sepenuhnya. Detik ketika Ibrahim merelakan putranya dan meletakkan pisau itu, beliau telah berhasil menyembelih keterikatan dunianya. Beliau membuktikan bahwa hati seorang hamba harus steril dari ketamakan memiliki dunia.
Pulang dengan Hati yang Lapang dan Jiwa yang Manusiawi
Maka, ketika ritual qurban usai dan tanah mulai mengering dari sisa-sisa darah, haruskah monster keserakahan di dalam dada kita tumbuh subur kembali? Sungguh malang jika kita hanya mendapatkan lelah karena menonton atau merugi karena sekadar mengeluarkan uang, sementara jiwa kita tetap sekaku dulu.
Manusia yang berhasil meresapi makna Idul Qurban adalah mereka yang berjalan pulang dengan dada yang lebih lapang dan tangan yang terbuka. Mereka tidak lagi menggenggam dunia dengan jemari yang gemetar karena cemas. Mereka sadar, hewan qurban mereka telah mati agar rasa kemানুsiaan dan keinsafan di dalam jiwa mereka dapat hidup kembali. Kita menyembelih hewan itu agar kita tidak hidup seperti hewan; agar kita menjadi manusia seutuhnya yang tahu cara mengeja kata “cukup” dan menemukan kekayaan sejati dalam indahnya berbagi.





