spot_img
Friday, July 3, 2026
spot_img
spot_img

Tingkatkan Kompetensi AIK Guru, Mahasiswa Doktoral PAI UMM Gelar Pengabdian Masyarakat di SD Muhammadiyah 29 Surabaya

Must read

Surabaya, wartapoint — Memasuki usia ke-7 tahun sejak didirikan, SD Muhammadiyah 29 Surabaya terus menunjukkan lompatan kuantum yang signifikan. Sekolah yang akrab disapa SD Mudalan ini tidak hanya sukses memikat kepercayaan masyarakat secara kuantitas—dengan jumlah siswa baru yang melampaui beberapa sekolah senior—tetapi juga moncer secara kualitas lewat rentetan prestasi akademik, olimpiade sains, hingga kompetisi tahfidz tingkat nasional.

​Namun, pertumbuhan masif ini menyisakan tantangan tersendiri pada sektor Sumber Daya Manusia (SDM). Mayoritas tenaga pendidik dan karyawan di sekolah ini relatif baru, berusia muda, serta dominan berlatar belakang pendidikan umum. Hal inilah yang memicu minimnya pemahaman mendalam terkait Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK).

​Merespons kebutuhan mendesak tersebut, Program Doktor Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) turun tangan melalui skema Pengabdian Masyarakat. Dua mahasiswa doktoral PAI UMM, Irwan (NIM 202510520110002) dan Fauzan (NIM 202510520110004), menggelar pelatihan intensif bertajuk “Pemantapan Kompetensi Al Islam dan Kemuhammadiyahan Guru/Karyawan SD Muhammadiyah 29” pada Senin (22/6/2026).

​Menambal Celah Pemahaman Ideologi

​Kepala SD Muhammadiyah 29 Surabaya, Irwan, S.Pd., M.Pd.I., menjelaskan bahwa akselerasi sekolah yang cepat harus diimbangi dengan standardisasi ideologi yang kuat di kalangan guru.

“Kami menyadari mayoritas guru di sini adalah anak-anak muda potensial, namun karena input-nya rata-rata dari iklim pendidikan umum, pemahaman ke-Muhammadiyah-an mereka masih perlu diseragamkan dan diperkuat. Pengabdian dari kampus UMM ini hadir di momentum yang sangat tepat sebagai solusi konkret,” ujar Irwan kepada awak media wartapoint.id via WhatsApp, Sabtu (27/6/2026).

​Dalam sesi utama, para peserta dibekali materi Muatan Al-Islam tentang Thoharoh menurut Manhaj Tarjih Muhammadiyah yang dikupas tuntas oleh Ustaz Fauzan. Sementara itu, Irwan sendiri turun langsung mengurai materi Kemuhammadiyahan tentang Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah (MKCHM) serta Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM).

​Langkah ini diambil agar setiap gerak-gerik pelayanan dan pengajaran di sekolah ini tetap berada pada koridor ideologi persyarikatan yang sahih.

​Menjaga Jargon ‘Sekolah Tahfidz Berkemajuan’

​Selain memperkuat aspek ideologis, pelatihan ini secara khusus menyisipkan materi teknis penunjang, yakni penguatan pembelajaran Tahsin dan Tahfidz Al-Quran yang masing-masing diampu oleh Fauzan dan Irwan.

​Bukan tanpa alasan materi suplemen ini diberikan. Irwan, S.Pd., M.Pd.I., menegaskan bahwa SD Mudalan memikul tanggung jawab moral yang besar kepada wali murid karena jargon yang mereka usung.

​”Sekolah ini membranding diri sebagai Sekolah Tahfidz Berkemajuan. Target lulusan kami tidak main-main, minimal harus hafal 6 juz Al-Quran. Bagaimana mungkin target itu tercapai kalau guru-gurunya tidak kita upgrade kemampuan tahsin dan metode tahfidznya? Jadi, penguatan ini hukumnya wajib demi menjaga kualitas lulusan,” tegasnya.

​Sinergi Tri Darma Perguruan Tinggi

​Program pengabdian ini juga menjadi bukti nyata bagaimana mahasiswa program doktor tidak hanya berkutat pada teori di atas meja, melainkan mampu menyatu dan memberikan dampak bermakna secara langsung di akar rumput masyarakat pendidikan, sesuai amanat Tri Darma Perguruan Tinggi.

​Irwan menyampaikan optimisme tinggi terhadap masa depan institusi yang dipimpinnya pasca-pelatihan ini.

​”Harapan besar kami, lewat sinergi dengan program doktoral UMM ini, kompetensi pedagogis dan ideologis guru-karyawan kami melesat tajam. Imbasnya tentu pada akselerasi dan kemajuan SD Mudalan yang semakin kokoh di masa depan,” pungkasnya. (yupan)

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article