Green Hajj: Ikhtiar Muhammadiyah Ubah Ibadah Haji Menjadi Solusi Krisis Sampah Global

Must read

- Advertisement -

Yogyakarta, wartapoint — Persoalan sampah di Indonesia telah mencapai titik darurat yang memerlukan revolusi kesadaran dari tingkat hulu. Merespons hal tersebut, Majelis Lingkungan Hidup (MLH) Pimpinan Pusat Muhammadiyah meluncurkan gagasan “Green Hajj” (Haji Hijau) sebagai instrumen edukasi pengelolaan sampah dan pelestarian alam.

​Dalam acara Tadarus Lingkungan yang digelar secara daring pada Rabu (11/3/2026), Ketua PP Muhammadiyah, Buya Anwar Abbas, menegaskan bahwa kunci utama penyelesaian masalah lingkungan hidup harus dimulai dari rumah tangga.

Edukasi dari Hulu: Sampah Jadi Kompos

​Buya Anwar Abbas menyoroti bahwa budaya pengelolaan sampah masyarakat Indonesia masih sangat rendah. Ia mendorong MLH Muhammadiyah untuk tidak hanya berteori, tetapi memberikan panduan praktis kepada umat.

“Masalah sampah sangat meresahkan. MLH perlu menyusun buku panduan praktis agar masyarakat bisa mengolah sampah rumah tangga menggunakan bakteri menjadi kompos. Ini adalah langkah konkret membangun budaya baru di tingkat hulu,” ujar Buya Anwar.

Haji sebagai Laboratorium Perilaku

​Konsep Green Hajj yang diusung bukan sekadar slogan. Ketua MLH PP Muhammadiyah, M. Azrul Tanjung, menjelaskan bahwa ibadah haji memiliki potensi besar sebagai “laboratorium sosial”. Mengingat jemaah haji Indonesia adalah yang terbesar di dunia, perilaku mereka selama beribadah dapat menjadi contoh nyata pengelolaan lingkungan.

​Staf Ahli Kementerian Lingkungan Hidup, Hanifah Dwi Nirwana, mendukung penuh langkah ini. Ia mengungkapkan data bahwa baru sekitar 25% sampah di Indonesia yang terkelola dengan baik.

“Haji bisa menjadi laboratorium perilaku dalam pengelolaan sampah. Pemerintah memerlukan kolaborasi dengan organisasi seperti Muhammadiyah untuk mengejar target nasional yang tersisa,” ungkap Hanifah.

Wakaf Pohon dan Investasi Sukuk Hijau

​Dari sisi implementasi, Anggota BPKH RI, Harry Alexander, memaparkan mekanisme teknis Green Hajj melalui skema carbon offsetting. Para jemaah haji didorong untuk melakukan wakaf pohon guna mengimbangi emisi CO_2 yang dihasilkan selama perjalanan udara ke Tanah Suci.

  • Skema Investasi: Wakaf pohon dilakukan melalui instrumen sukuk.
  • Manfaat Ekonomi: Sebagai contoh, pengelolaan 100 hektar lahan kelapa dari hasil wakaf ini diproyeksikan mampu menghasilkan manfaat ekonomi sekitar Rp40 juta per bulan bagi umat.
  • Go International: Buku Panduan Green Hajj yang disusun Muhammadiyah bersama BPKH akan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Arab untuk menjadi referensi dunia.

Spiritualitas yang Ramah Lingkungan

​Menutup diskusi, Gatot Supangkat menekankan bahwa dimensi spiritual dalam Islam tidak boleh dipisahkan dari tanggung jawab ekologis. Haji yang mabrur sejatinya adalah haji yang membawa kemaslahatan bagi alam semesta.

​Melalui gerakan Green Hajj ini, Muhammadiyah berharap jamaah pasca-haji dapat pulang ke tanah air dengan membawa “oleh-oleh” berupa gaya hidup baru: peduli lingkungan, minim sampah, dan aktif menanam pohon.

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article