Surabaya, wartapoint – Ratusan warga Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Pusat Madiun dari Ranting Pakal, Cabang Surabaya, menggelar kegiatan doa bersama dan zikir kultural, Jumat (3/7/2026) malam. Bertempat di Rayon Pondok Benowo Indah (PBI), Jalan PBI Blok BZ, Surabaya, forum ini digelar sebagai bentuk penghormatan sekaligus pelestarian nilai historis perjuangan para pendiri organisasi.
Selain menjadi sarana kirim doa kepada leluhur, momentum yang dimulai pukul 20.00 WIB ini juga dimanfaatkan sebagai wadah konsolidasi internal dan temu kangen antargenerasi, mulai dari angkatan (liting) tahun 2021 hingga 2026. Acara kemudian ditutup dengan Ngangklang, sebuah tradisi ronda malam khas organisasi untuk memastikan keamanan wilayah sekitar.
Refleksi Historis dan Nilai Keadilan
Tradisi kirim doa ini merupakan agenda rutin yang sakral bagi warga PSHT guna mengenang jasa para tokoh bangsa sekaligus perintis organisasi, di antaranya pahlawan perintis kemerdekaan Ki Hajar Hardjo Oetomo (Pilangbango), RM Imam Koes Supangat, serta Kangmas Tarmadji Boedi Harsono.
Ketua Rayon PBI, Dwi Handoko, menegaskan bahwa kegiatan ini memuat esensi moral yang mendalam bagi spiritualitas seorang pendekar. Menurut dia, tradisi ini bukan sekadar rutinitas seremonial, melainkan bagian dari pembentukan karakter agar para anggota tidak melupakan akar sejarah.
”Acara kirim doa ini berfungsi sebagai momen refleksi diri bagi seluruh pendekar agar selalu setia pada ajaran dan falsafah organisasi. Kami mengenang kembali perjuangan Ki Hadjar Hardjo Oetomo yang mendirikan organisasi ini sejak tahun 1922 sebagai alat perjuangan fisik dan moral melawan penjajah,” ujar Dwi Handoko, Jumat malam.
Ia menambahkan, penghormatan kepada para sesepuh merupakan fondasi penting bagi para warga baru untuk mendapatkan kemantapan hati dan keberkahan dalam mengabdi di tengah masyarakat.
Memperkuat Soliditas Antargenerasi
Apresiasi senada juga disampaikan oleh Ketua PSHT Ranting Pakal, Deni Supriyanto, yang hadir didampingi oleh tim pelatih Cabang Surabaya, Purwanto. Deni menilai inisiatif yang diambil oleh Rayon PBI merupakan langkah konkret dalam menjaga soliditas serta kohesi sosial antaranggota di tingkat akar rumput.
”Kegiatan ini merupakan tradisi yang sangat baik dan positif karena mampu mempererat tali silaturahmi antarlintas angkatan. Kami berharap ini bisa menjadi percontohan yang konsisten untuk rayon-rayon lain di wilayah Surabaya,” kata Deni.
Melalui perpaduan antara doa bersama, refleksi sejarah, dan penguatan tradisi Ngangklang, PSHT Ranting Pakal berupaya merelevansikan nilai-nilai pencak silat bukan hanya sebagai seni bela diri, melainkan sebagai instrumen sosial yang berkontribusi pada kerukunan warga dan keamanan ketertiban masyarakat (kamtibmas) di Kota Surabaya. (Sigit Santoso)





