Generasi Cemas, Indonesia Lemas

Must read

- Advertisement -

Oleh: Mubarak, S.Ak., M.Ak., CTT (Lazismu Pamekasan)

​Generasi muda hari ini dibesarkan dalam panggung kehidupan yang penuh dengan kelimpahan pilihan, tetapi sekaligus paling sulit menemukan ketenangan. Di satu sisi, mereka dituntut untuk serba cepat: berprestasi, mendapatkan pekerjaan layak, meraih kemandirian finansial, membangun karier, memiliki hunian, menikah, dan pada saat yang sama harus tampil bahagia serta sempurna di etalase media sosial. Kegagalan tidak lagi dipandang sebagai bagian alami dari proses bertumbuh, melainkan menjelma menjadi aib sosial yang harus ditutupi rapat-rapat.

​Inilah paradoks besar generasi muda Indonesia. Lompatan teknologi yang begitu pesat ternyata tidak berbanding lurus dengan kedamaian batin. Data Kementerian Kesehatan pada Maret 2026 menjadi sinyal bahaya yang nyata. Dari sekitar tujuh juta anak yang mengikuti skrining Cek Kesehatan Gratis, sebanyak 4,4 persen menunjukkan gejala kecemasan dan 4,8 persen mengindikasikan gejala depresi. Bahkan, Kemenkes melansir fakta yang menghentak: tren anak yang pernah mencoba bunuh diri melonjak tajam dari 3,9 persen pada tahun 2015 menjadi 10,7 persen pada tahun 2023.

​Tentu saja, persoalan ini tidak berdiri tunggal dalam ranah psikologis belaka, melainkan berakar kuat pada kecemasan ekonomi dan sosial. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat Youth NEET (Not in Employment, Education, or Training) Indonesia pada Agustus 2024 mencapai 20,31 persen. Artinya, ada sekitar sembilan juta dari total 44 juta anak muda Indonesia yang berada dalam kondisi tidak bersekolah, tidak bekerja, dan tidak sedang mengikuti pelatihan. Angka-angka ini mempertegas bahwa rasa cemas yang menghantui anak muda berkaitan erat dengan ketidakpastian masa depan, ketersediaan kesempatan ekonomi, relasi sosial, serta kerapuhan rasa percaya diri.

Kritik atas Tuntutan Standar Tunggal

​Masyarakat kerap menyederhanakan masalah dengan menuntut generasi muda untuk “lebih kuat” dan tahan banting. Namun, kita jarang berefleksi: kuat menghadapi apa? Mereka dihadapkan pada tingginya biaya hidup, kompetisi dunia kerja yang makin ketat, standar kesuksesan yang melangit, budaya perbandingan di media sosial (social comparison), serta tekanan tak kasatmata untuk selalu terlihat baik-baik saja. Laporan World Happiness Report 2026 bahkan menyoroti relasi sosial dan dampak media sosial sebagai faktor krusial yang memengaruhi tingkat kebahagiaan anak muda hari ini.

​Di tengah situasi tersebut, pemikiran Imam Al-Ghazali mengenai sa’adah (kebahagiaan sejati) dalam karya monumentalnya, Kimiya’ al-Sa’adah, menjadi penawar yang sangat relevan. Al-Ghazali menegaskan bahwa kebahagiaan hakiki tidak diukur dari penguasaan materi, popularitas, atau kepuasan sesaat. Kebahagiaan bersumber dari kebersihan jiwa (tazkiyatun nafs), pengenalan yang mendalam terhadap diri sendiri (ma’rifatun nafs), serta kedekatan hubungan dengan Allah SWT. Pemikiran ini menekankan bahwa sa’adah dibangun di atas landasan ilmu dan amal, kebajikan, kearifan akal, serta pembentukan karakter yang tangguh.

​Pesan spiritual tersebut membawa koreksi mendasar: hidup yang baik bukanlah hidup yang paling tampak sukses di mata orang lain, melainkan hidup yang memiliki arah dan orientasi yang jelas.

Membangun Ekosistem yang Menopang

​Generasi muda tidak membutuhkan ceramah atau penghakiman moral agar mereka bahagia. Yang mereka butuhkan adalah ekosistem yang sehat—lingkungan keluarga, sosial, maupun kebijakan publik—yang memungkinkan mereka menemukan makna hidup. Mereka memerlukan ruang untuk belajar, bekerja, beribadah, dan berkontribusi secara bermakna tanpa dihinggapi perasaan cemas berlebih akibat terus-menerus merasa tertinggal.

​Masa depan Indonesia sangat bergantung pada kondisi mental dan produktivitas generasi mudanya. Jika generasinya terus-menerus dibiarkan dalam kecemasan dan kerapuhan, maka bangsa ini akan bergerak lambat dan lemas. Sudah saatnya kita meredefini arti kesuksesan, memperluas kesempatan, dan merawat kesehatan jiwa anak muda agar mereka mampu melangkah dengan tenang, terarah, dan penuh optimisme.

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article