
Surabaya, wartapoint — “GAS!”
Teriakan serentak ratusan siswa kelas V dan VI SD Muhammadiyah 16 Surabaya itu menggema di Hall Lantai 3, Senin (7/9/2026). Bukan sekadar yel-yel, “GAS” menjadi pintu masuk bagi siswa Sekolah Kreatif Baratajaya untuk memahami pentingnya menjaga kesehatan sejak usia sekolah.
Seruan tersebut muncul saat dr. Calcarina Nira Pramesthi dari Divisi Endokrin Pediatri Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (UNAIR) mengajak siswa mengenal Gerakan Anak Sehat (GAS) dalam kegiatan edukasi pencegahan diabetes melitus dan obesitas.
Kunjungan tim UNAIR itu merupakan bagian dari kolaborasi dengan SD Muhammadiyah 16 Surabaya. Kegiatan dimulai pukul 09.30 WIB dan dibuka oleh Sofwan Hidayat, M.Pd.
Wakil Kepala Sekolah SD Muhammadiyah 16 Surabaya, Ida Afifah, S.Pd., menyambut positif kegiatan tersebut. Menurutnya, kehadiran dokter secara langsung memberikan pengalaman belajar yang berbeda bagi siswa.
“Terima kasih atas perhatian dan atensinya kepada sekolah kami, Sekolah Kreatif Baratajaya. Pengabdian ini tentu sangat bermanfaat untuk kami dan anak-anak,” ujarnya.
Ida menilai siswa mendapatkan kesempatan untuk belajar kesehatan bukan hanya melalui buku atau penjelasan guru.
“Mereka bisa belajar kesehatan langsung dari ahlinya, dari dokter UNAIR,” tambahnya.
Setelah sesi pembuka, dr. Nira mulai membangun komunikasi dengan siswa melalui slogan Gerakan Anak Sehat. Respons siswa yang kompak membuat suasana hall semakin hidup.
“Gerakan Anak Sehat!” seru dr. Nira.
“GAS!” jawab siswa bersamaan.
Dari yel-yel tersebut, siswa kemudian diajak memahami persoalan yang lebih serius, yakni diabetes melitus dan obesitas yang salah satunya berkaitan dengan pola hidup dan pola makan.
“Pencegahan diabetes melitus dan obesitas dapat kita lakukan dengan makanan yang sehat, bergizi, dan seimbang,” jelas dr. Nira.
Ia juga mengingatkan siswa agar tidak berlebihan mengonsumsi gula.
“Jangan sampai konsumsi gula berlebihan karena dapat meningkatkan risiko diabetes,” katanya.
Materi kemudian dilanjutkan oleh dr. Rayi Kurnia Perwitasari. Ia tidak hanya menjelaskan apa yang dimaksud dengan pola hidup sehat, tetapi juga mengajak siswa melihat kebiasaan mereka sehari-hari.
Mulai dari memilih makanan, mengukur konsumsi gula hingga membiasakan diri berolahraga menjadi bagian dari materi.
“Untuk hidup sehat, kita bisa memulainya dari kebiasaan sederhana setiap hari,” kata dr. Rayi.
Perhatian siswa semakin terpusat ketika dr. Rayi menunjukkan sejumlah tanda fisik yang perlu dikenali. Salah satunya perubahan warna kulit pada bagian leher yang dapat berkaitan dengan kondisi resistensi insulin.
Sontak siswa saling memperhatikan leher masing-masing. Ada yang melihat kondisi dirinya sendiri, ada pula yang mengecek temannya.
Momen tersebut membuat edukasi kesehatan terasa lebih dekat dengan kehidupan siswa.
Sesi tanya jawab pun berlangsung aktif. Siswa tidak sekadar mendengarkan, tetapi mulai menguji pengetahuan yang mereka dapatkan dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana.
Noura Malia, siswi kelas VI, misalnya, penasaran apakah kekurangan gula juga dapat berbahaya bagi tubuh.
“Apakah kekurangan gula berbahaya?” tanyanya.
Dr. Rayi menjelaskan bahwa tubuh tetap membutuhkan gula sebagai sumber energi.
“Kekurangan gula juga bisa berbahaya karena gula merupakan salah satu sumber energi,” jawabnya.
Pertanyaan berikutnya datang dari Bramastha Damar Gandhi Wijaya, siswa kelas V.
“Boleh tidak kita makan yang manis-manis?” tanyanya.
Dr. Rayi menjawab bahwa makanan manis tidak harus sepenuhnya dihindari, tetapi konsumsinya perlu dikendalikan.
“Makanan manis memang sumber energi, tetapi kalau berlebihan juga bisa menyebabkan masalah kesehatan,” jelasnya.
Sementara Zaky Naufal Arshad, siswa kelas V, mencoba menggali lebih jauh mengenai dampak konsumsi gula.
“Terlalu banyak gula selain diabetes dapat menyebabkan penyakit apa saja?” tanyanya.
Dr. Rayi menjelaskan bahwa dampaknya tidak berhenti pada diabetes.
“Selain berpotensi meningkatkan risiko diabetes, makanan manis seperti cokelat juga dapat merusak gigi,” terangnya.
Bagi siswa, pertemuan tersebut menjadi pengingat bahwa menjaga kesehatan tidak harus menunggu dewasa atau menunggu munculnya penyakit.
Pesan “Mulai dari sekarang untuk masa depan yang lebih sehat” menjadi salah satu benang merah kegiatan tersebut.
Siswa juga diajak memahami bahwa hidup sehat merupakan kebiasaan yang dibangun sedikit demi sedikit. Memilih makanan yang lebih sehat, membatasi makanan manis dan rajin bergerak merupakan langkah sederhana yang dapat dilakukan setiap hari.
“Sehat bersama, tumbuh lebih hebat,” menjadi pesan yang kembali digaungkan dalam kegiatan tersebut.
Kolaborasi Divisi Endokrin Pediatri FK UNAIR dengan SD Muhammadiyah 16 Surabaya akhirnya tidak hanya menghadirkan dokter ke ruang sekolah. Lebih dari itu, kegiatan tersebut membuka ruang bagi siswa untuk bertanya, mengenali tubuhnya dan mulai memahami bahwa kesehatan merupakan bagian penting dari masa depan mereka.
GAS bukan sekadar teriakan di dalam hall. Bagi siswa Sekolah Kreatif Baratajaya, GAS menjadi ajakan untuk mulai membangun kebiasaan sehat sejak sekarang.
(Ahmad Mahmudi)
#beritanasional #indonesia #jawatimur #sekolah #muhammadiyah





