
Surabaya, wartapoint – Ada pemandangan unik di Masjid Nurul Ilmi SMA Muhammadiyah 2 (SMAMDA) Surabaya pada Senin (9/3). Memasuki hari ke-20 Ramadan 1447 H, masjid sekolah tersebut disulap bak bioskop religi. Layar lebar dibentangkan dan lampu dipadamkan, menciptakan suasana khidmat bagi siswa kelas XII untuk menyelami kisah perjuangan KH Ahmad Dahlan melalui film legendaris “Sang Pencerah“.
Agenda “Ngabuburit Literasi” yang dimulai ba’da Ashar ini bukan sekadar nonton bareng biasa. SMAMDA menghadirkan Ustaz M. Sjamsu Hudaja, S.Ag., guru Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK), untuk membedah nilai-nilai filosofis dan sosiologis yang terkandung dalam film garapan Hanung Bramantyo tersebut.
Menantang ‘Posisi Wenak’ (PW)
Diskusi berlangsung hangat saat para siswa mulai mengaitkan adegan film dengan realitas sosial. Alfi Rofidah, siswi kelas 12.13, menarik perhatian audiens saat mengulas film tersebut menggunakan kacamata Teori Perubahan Sosial.
Menurut Alfi, resistensi yang dihadapi Ahmad Dahlan saat membenarkan arah kiblat adalah bukti nyata sulitnya mendobrak zona nyaman masyarakat.
“Masyarakat cenderung menolak hal baru jika struktur lama sudah dianggap nyaman atau ‘PW’ (Posisi Wenak). Merubah arah kiblat agar presisi menghadap Ka’bah itu sulit karena harus berhadapan dengan ego kelompok,” jelas Alfi.
Spirit Tajdid dan Keberanian Berinovasi
Senada dengan Alfi, Aurell dari kelas 12.5 menyoroti aspek Tajdid (pembaharuan) yang menjadi fondasi Muhammadiyah. Ia merefleksikan bagaimana inovasi pendidikan yang dibawa Ahmad Dahlan—seperti penggunaan meja, kursi, dan papan tulis—dahulu sempat dicap “kafir” karena dianggap meniru gaya kolonial Belanda.
”Sebuah pembaharuan membutuhkan keberanian mental yang luar biasa. Jika dulu beliau gentar karena dihujat, mungkin kita tidak akan bisa menikmati sistem pendidikan modern seperti sekarang,” ungkap Aurell.
Menapak Tilas Spirit Perjuangan
Bagi para siswa, kegiatan ini menjadi momen refleksi kolektif. Kemegahan gedung SMAMDA saat ini disadari sebagai buah manis dari benih perjuangan yang ditanam KH Ahmad Dahlan di masa lampau.
Dimas, siswa kelas 12.12 yang juga menjadi peserta aktif, mengaku terkesan dengan format acara ini. Selain mendapatkan hadiah karena keberaniannya beropini, ia merasa dilatih untuk berpikir kritis.
“Ini momen ngabuburit paling berkesan. Kami diajak mencari integrasi antara film dengan teori sosiologi, sekaligus menapak tilas spirit amar ma’ruf nahi munkar,” pungkasnya.
Melalui inisiatif “Bioskop Dadakan” ini, SMAMDA Surabaya membuktikan bahwa mempelajari sejarah dan ideologi organisasi tidak harus kaku. Dengan pendekatan yang relevan dan seru, nilai-nilai perjuangan justru lebih mudah meresap ke dalam sanubari generasi Z. (Fakhrial/yupan)





