Surabaya, wartapoint – SMA Muhammadiyah 2 Surabaya (Smamda) menyelenggarakan kegiatan kajian I’tikaf pada Jumat (13/3/2026) dengan fokus pembahasan yang krusial bagi umat Islam, yakni Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Bertempat di lingkungan sekolah, kajian ini menghadirkan pakar astronomi Islam, Dr. Akhmad Mukarrom, M.Hum., yang merupakan anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Dipandu oleh moderator Alif Jatmiko, kegiatan ini diikuti dengan antusias oleh jajaran guru serta karyawan Smamda Surabaya. Fokus utama diskusi adalah bagaimana Muhammadiyah melakukan transformasi sistem penanggalan dari metode hisab wujudul hilal menuju KHGT yang lebih universal.
Satu Hari, Satu Tanggal untuk Dunia
Dalam paparannya yang bertajuk “Implementasi KHGT bagi Warga Muhammadiyah,” Dr. Akhmad Mukarrom menjelaskan bahwa KHGT adalah upaya besar untuk menyatukan penentuan awal bulan Hijriah di seluruh dunia. Prinsip utamanya adalah satu hari satu tanggal global.
“Kalender Hijriah Global Tunggal adalah wujud dari upaya menyatukan umat Islam di seluruh dunia agar tidak lagi terjadi perbedaan pelaksanaan ibadah akibat batasan geografis,” ujarnya.
Meskipun bersifat global, beliau menegaskan bahwa KHGT tetap menjaga konsistensi syarat syar’i kalender Islam, yaitu jumlah hari dalam satu bulan yang tetap berada pada rentang 29 hingga 30 hari, sesuai dengan peredaran bulan yang sebenarnya.
Mengatasi Tantangan Astronomis dan Geografis
Dr. Mukarrom memaparkan bahwa perbedaan awal Ramadan atau Idulfitri selama ini sering dipicu oleh metode rukyatul hilal yang sangat bergantung pada kondisi cuaca dan posisi pengamat di bumi.
Faktor-faktor seperti:
- Posisi bulan terhadap matahari.
- Ketinggian hilal dan sudut elongasi.
- Letak geografis (seperti pengaruh garis khatulistiwa).
Kompleksitas inilah yang sering menyebabkan ketidakpastian. Sebagai bukti akurasi perhitungan astronomi modern, ia mencontohkan peristiwa Gerhana Bulan Total pada 3–4 Maret 2026 yang lalu, yang terbukti presisi terjadi pada malam 14–15 Ramadan 1447 Hijriah.
Integrasi ke Kurikulum Sekolah
Sesi diskusi menjadi bagian paling dinamis ketika para guru Smamda menanyakan cara menyosialisasikan konsep rumit ini kepada siswa. Menanggapi hal tersebut, Dr. Mukarrom menekankan pentingnya integrasi materi astronomi Islam ke dalam kurikulum sekolah melalui kolaborasi antar-guru mata pelajaran.
Terkait kekhawatiran ilmiah mengenai bulan yang menjauh dari bumi sekitar 3,8 cm per tahun, Dr. Mukarrom menenangkan audiens dengan penjelasan saintifik.
Ia menjelaskan bahwa model matematika astronomi saat ini sudah sangat canggih sehingga pergeseran sekecil itu tidak akan mengganggu akurasi kalender hingga ratusan tahun ke depan.
Komitmen Menuju Kepastian Ibadah
Keputusan penggunaan KHGT ini sejatinya merupakan amanat Muktamar Muhammadiyah ke-47 di Makassar tahun 2015. Dengan implementasi ini pada tahun 2026/2027, Smamda Surabaya berkomitmen untuk menjadi pionir dalam memberikan pemahaman yang sistematis kepada warga sekolah dan masyarakat luas mengenai pentingnya kepastian waktu ibadah secara internasional. (Salsabila)




