Surabaya, wartapoint – Idul Fitri 1447 H bukan sekadar ritual tahunan bertukar hantaran atau ajang pamer pakaian baru. Bagi orang tua dan pendidik, momen kemenangan ini sejatinya adalah sebuah “ruang kelas terbuka” yang menyajikan kurikulum kehidupan paling autentik bagi anak-anak.
Tokoh masyarakat sekaligus tokoh agama, H. Sutikno, S.Sos, M.H, menegaskan bahwa jika sekolah formal fokus pada kecerdasan intelektual (IQ), maka ruang tamu di hari lebaran adalah laboratorium terbaik untuk mengasah kecerdasan emosional (EQ) melalui “Kurikulum Maaf”.
Urgensi Menanamkan Esensi Maaf di Era Digital
Di tahun 2026 ini, di mana teknologi sering kali membuat interaksi manusia terasa transaksional, mengajarkan esensi memaafkan menjadi sebuah urgensi. Menurut Sutikno, anak-anak perlu memahami bahwa meminta maaf bukanlah tanda kelemahan.
”Meminta maaf adalah bukti kekuatan jiwa dan kerendahan hati untuk memperbaiki hubungan antarmanusia. Ini juga merupakan jalan turunnya ampunan dari Allah SWT,” ungkapnya.
Adab Bertamu: Pelatihan Manajemen Diri Nyata
Ruang tamu di hari raya bertransformasi menjadi panggung praktik adab. Di sana, anak-anak belajar secara langsung cara mengetuk pintu dengan sopan, mengucapkan salam, duduk dengan tertib, hingga menghormati orang yang lebih tua.
Interaksi ini bukan sekadar basa-basi, melainkan pelatihan nyata tentang manajemen diri dan penghormatan terhadap orang lain. Anak-anak diajak mempraktikkan empati dan resiliensi sosial saat bertemu dengan berbagai macam karakter keluarga yang berbeda-beda. Hal ini sangat penting untuk membentuk mental yang fleksibel dalam pergaulan di masa depan.
Anak adalah Peniru Ulung
Sutikno menekankan bahwa pelajaran karakter paling kuat berasal dari keteladanan orang tua. Dalam “Kurikulum Maaf”, anak-anak melihat langsung bagaimana orang tua mereka bersalaman dengan tulus atau memeluk kerabat sambil melepas ego.
”Pelajaran ini akan membekas jauh lebih kuat daripada teori di buku manapun. Anak adalah peniru ulung; mereka belajar lebih banyak dari apa yang dilihat daripada apa yang didengar,” jelas Sutikno.
Melalui pengamatan tersebut, anak akan memahami bahwa menjaga hubungan baik antarmanusia jauh lebih berharga daripada sekadar mempertahankan gengsi atau kebenaran pribadi.
Mencetak Generasi Berhati Lembut
Menjadikan Idul Fitri sebagai sekolah karakter berarti sedang mempersiapkan generasi masa depan yang seimbang. Tidak hanya pintar secara akademis, tetapi juga memiliki kelembutan hati dan akhlak yang mulia.
Dengan menjadikan setiap interaksi di hari raya sebagai ruang belajar, Lebaran tidak hanya akan meninggalkan kenangan manis, tetapi juga warisan nilai yang akan terus dibawa anak-anak hingga mereka dewasa. (yupan)




