
Ramadhan 1447 H segera mencapai puncaknya. Seluruh rangkaian ibadah, mulai dari menahan lapar hingga qiyamul lail, telah kita lalui sebagai ikhtiar kolektif meraih derajat takwa. Kini, umat Islam bersiap menyongsong fajar kemenangan 1 Syawal—sebuah momentum untuk kembali suci sebagaimana janji Rasulullah SAW bahwa Ramadhan adalah penggugur dosa (HR. Muslim).
Namun, di tengah persiapan Idul Fitri, fenomena klasik sering kali membayangi: silang pendapat mengenai penetapan tanggal hari raya.
Akar Perbedaan: Antara Hisab dan Rukyat
Perbedaan penetapan 1 Syawal sejatinya adalah wilayah ijtihad yang sangat teknis. Pemerintah, melalui Sidang Isbat, berpegang pada kriteria visibilitas hilal (rukyat) yang disepakati negara-negara MABIMS. Di sisi lain, sebagian umat menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal yang secara astronomis mungkin menetapkan tanggal berbeda lebih awal.
Sayangnya, perbedaan posisi benda langit ini sering kali berujung pada saling menghakimi di media sosial. Saling sindir antara pendukung metode hisab dan rukyat seolah mengerdilkan esensi puasa itu sendiri. Kita sering lupa bahwa puasa adalah latihan menahan diri, termasuk menahan ego untuk merasa paling benar.
Belajar dari Sejarah: Diplomasi Takzim KH Ahmad Dahlan
Di tengah hiruk-pikuk klaim kebenaran, kita patut menengok kembali teladan KH Ahmad Dahlan. Sosok pendiri Muhammadiyah ini bukan hanya ahli falak yang mumpuni, tetapi juga pribadi dengan kedewasaan sosial yang luar biasa.
Sebuah catatan sejarah (sumber: muhammadiyah.or.id) mengisahkan momen menyentuh saat KH Ahmad Dahlan menghadap Sri Sultan Hamengkubuwono VII. Berdasarkan hitungan falaknya, Idul Fitri jatuh pada hari Rabu, sementara keraton yang menggunakan kalender Aboge menetapkan hari Kamis.
Dalam pertemuan tersebut, tidak ada debat kusir maupun paksaan untuk seragam.
- Sikap KH Ahmad Dahlan: Menyampaikan hasil ilmu dengan penuh takzim tanpa merendahkan otoritas.
- Sikap Sri Sultan: Dengan bijak memberikan kebebasan bagi umat untuk merayakan Idul Fitri sesuai keyakinan masing-masing.
Inilah cermin kelapangan jiwa. Perbedaan tidak harus dipaksakan menjadi keseragaman. Keduanya adalah arus berbeda yang menuju lautan yang sama.
Kedewasaan Beragama: Ujian Sejati Umat
Jika tahun ini hilal terlihat jelas dan Idul Fitri dirayakan serentak, tentu itu adalah kado yang patut disyukuri. Namun, pesan KH Ahmad Dahlan tetap relevan: persatuan umat tidak boleh tercerai-berai hanya karena perbedaan metode melihat posisi bulan.
Kedewasaan kita tidak diukur saat kita sama, melainkan saat kita mampu tetap dalam satu barisan meski cara menghitung kita berbeda. Kemenangan sejati ada pada kemampuan kita untuk saling memaafkan di tengah perbedaan.
Simpulan
Mari kita rayakan Idul Fitri tanpa terjebak dalam sentimen “menang-kalah” soal penentuan tanggal. Kita menyembah Tuhan yang sama dan menghadap kiblat yang sama. Taqabbalallahu minna wa minkum. Selamat merayakan kemenangan bagi siapa pun, kapan pun hari yang diyakini, karena pada akhirnya yang dinilai adalah ketakwaan, bukan sekadar penanggalan.





