Dilema Puasa 28 atau 31 Hari: Urgensi Kalender Hijriah Global Tak Lagi Bisa Ditunda

Must read

- Advertisement -

Surabaya, wartapoint – Fenomena perbedaan awal Ramadhan dan Idul Fitri antarnegara kembali memicu diskusi hangat mengenai kepastian ibadah umat Muslim. Kisah nyata seorang jamaah umrah yang terancam menjalani puasa selama 31 hari sekembalinya ke tanah air pada Maret 2026 menjadi pemantik evaluasi besar: perlukah umat Islam beralih ke Kalender Hijriah Global?

​Menurut Agus Rosid, mantan aktivis Pemuda Muhammadiyah Kota Surabaya, menyoroti kompleksitas yang dialami umat akibat perbedaan mathla’ (titik pandang hilal) yang belum seragam di seluruh dunia.

​Anomali Jumlah Hari Ibadah

​Secara astronomis, umur bulan Qamariyah tidak pernah kurang dari 29 hari atau lebih dari 30 hari. Namun, karena perbedaan zona waktu dan ketetapan negara, seseorang yang berpindah lokasi (seperti jamaah umrah) berisiko mengalami anomali jumlah hari puasa.

  • ​Kasus Pulang ke Indonesia: Jamaah yang memulai puasa lebih awal di Arab Saudi (18 Februari 2026) namun pulang ke Indonesia yang menetapkan Idul Fitri pada 21 Maret 2026, akan menjalani puasa selama 31 hari.
  • ​Kasus Berangkat ke Tanah Suci: Sebaliknya, mereka yang berangkat ke Arab Saudi di akhir Ramadhan berisiko hanya berpuasa 28 hari jika negara tujuan merayakan Lebaran lebih cepat.

​”Secara fikih, persoalan ini ada solusinya melalui qadha atau mengikuti imam setempat. Namun secara psikologis dan sosial, ini menimbulkan rasa ganjil, kelelahan fisik, hingga perasaan terisolasi dari kebersamaan umat,” tulis Agus Rosid.

​Tiga Keuntungan Kalender Hijriah Global (KHG)

​Menurut Agus, satu-satunya solusi jangka panjang untuk mengakhiri kebingungan ini adalah pemberlakuan Kalender Hijriah Global. Ada tiga keuntungan fundamental yang ditawarkan:

  1. ​Konsistensi Syariat: Mengembalikan esensi bulan Qamariyah yang pasti (29 atau 30 hari). Tidak ada lagi umat yang merasa “berdosa” karena kurang hari atau “kelelahan” karena kelebihan hari.
  2. ​Ukhuwah Islamiyah yang Kuat: Menghilangkan ego “hilal sendiri” antarnegara. Keserentakan Idul Fitri, Idul Adha, hingga puasa Arafah akan menciptakan harmoni spiritual global.
  3. ​Kepastian dan Efisiensi: Berbasis metode hisab akurat, KHG memungkinkan perencanaan kegiatan keagamaan, ekonomi, hingga libur nasional disusun jauh-jauh hari secara prediktif.

​Tantangan Menuju Peradaban Berkemajuan

​Meski menawarkan kepastian, Agus mengakui bahwa transisi menuju KHG tidaklah mudah. Perbedaan cara pandang terhadap teks syariat serta tradisi lokal menjadi tantangan utama yang memerlukan dialog inklusif dan edukasi lintas negara.

​Namun, ia menegaskan bahwa eksistensi Kalender Hijriah Global bukan sekadar alat penanggalan teknis.

“Ini adalah ikhtiar besar untuk mempersatukan umat Islam dalam satu penanda waktu. Menuju satu umat, satu kiblat, satu penanggalan sebagai landasan peradaban Islam yang berkemajuan,” pungkasnya.

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article