Surabaya, wartapoint – Gema takbir Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahilhamd membahana di kawasan utara Surabaya. Ribuan jamaah meluber hingga memadati sepanjang Jalan Perak Barat dan Perak Timur untuk melaksanakan Shalat Idul Fitri 1447 H di Masjid Mujahidin, Jumat (20/3/2026).
Antusiasme warga yang luar biasa ini menciptakan pemandangan spiritual yang menggugah, di mana shaf-shaf shalat tersusun rapi hingga ke bahu jalan protokol. Kehadiran massa yang masif ini sekaligus menjadi bukti kerinduan umat akan siraman rohani yang menyejukkan di hari kemenangan.
Ramadan Sebagai Titik Start, Bukan Garis Finish
Dalam kesempatan istimewa ini, Muchamad Arifin, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, hadir sebagai khatib. Dalam khutbahnya yang bertajuk “Dari Ramadan Menuju Ketakwaan Sejati”, ia memberikan pesan kuat bahwa berakhirnya Ramadan bukan berarti berakhirnya ketaatan.
”Ramadan bukanlah akhir dari perjalanan spiritual, melainkan awal untuk menjaga ketakwaan dan merawat ampunan Allah dalam kehidupan sehari-hari,” tegasnya.
Mengutip QS. Asy-Syam ayat 9-10, ia mengingatkan bahwa kunci keberuntungan hidup terletak pada kemampuan manusia dalam menjaga kesucian jiwanya. Ia menekankan bahwa indikator keberhasilan puasa seseorang justru baru akan terlihat setelah Ramadan berlalu—yakni sejauh mana kualitas ibadah, penjagaan lisan, dan amal saleh tetap konsisten dipertahankan.
Analogi Perubahan: Ulat dan Ular
Guna menyentuh aspek refleksi mendalam, Muchamad Arifin menggunakan analogi alam yang menarik. Ia membandingkan proses transformasi manusia pasca-Ramadan dengan ulat yang berubah menjadi kupu-kupu yang indah, atau ular yang berganti kulit.
Analogi ini mengajak jamaah untuk bertanya pada diri sendiri: Apakah Ramadan telah mengubah kita menjadi pribadi yang lebih baik, atau hanya sekadar rutinitas tanpa makna?
”Idul Fitri adalah momentum memperkuat keikhlasan. Setiap amal, baik shalat maupun sedekah, harus dilakukan semata-mata karena Allah, bukan sekadar perayaan kemenangan semu,” imbuhnya.
Dakwah di Era Digital
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, Ketua LDK PP Muhammadiyah ini juga memberikan catatan penting bagi generasi masa kini. Ia menyerukan agar kemajuan teknologi digital tidak menjadi penghalang dalam menjaga nilai-nilai kebaikan.
”Sebaliknya, teknologi harus kita manfaatkan sebagai sarana untuk memperkuat iman dan memperluas jangkauan dakwah,” pungkasnya.
Pelaksanaan Shalat Id di Masjid Mujahidin ini diakhiri dengan doa bersama yang khusyuk. Pesan utama yang dibawa pulang oleh jamaah sangat jelas: Kemenangan sejati adalah perubahan diri yang berkelanjutan—menjadi pribadi yang lebih bersih, lebih ikhlas, dan lebih bertakwa di sisa sebelas bulan ke depan. (yupan)




