OPINI | 2 April 2026
Di tengah arus modernitas yang semakin deras, sosok Khadijah binti Khuwailid kembali menjadi sorotan sebagai figur sentral yang melampaui zamannya. Namun, sebuah refleksi mendalam muncul: apakah perempuan Muslim masa kini benar-benar meneladani spirit perjuangannya, atau justru terjebak dalam jebakan simbolisme belaka?
Dalam tulisan terbarunya, pengamat sosial Andi Muh Ikram Alqivari membedah jurang yang kian lebar antara keteladanan Khadijah dengan realitas perempuan Muslim modern yang ia sebut sedang mengalami “krisis substansi.”
Khadijah: Lebih dari Sekadar Pendamping
Khadijah binti Khuwailid bukan hanya istri Nabi Muhammad SAW; ia adalah fondasi peradaban Islam. Alqivari menekankan bahwa Khadijah adalah orang pertama yang beriman tanpa menunggu legitimasi sosial. Ia tidak hanya hadir dengan dukungan moral, tetapi juga menguras seluruh sumber daya materialnya demi dakwah Islam.
“Ia bukan perempuan yang sekadar berada di belakang layar dalam arti pasif. Ia adalah penggerak, pemilik sumber daya, dan penentu arah,” tulis Alqivari.
Keimanan Khadijah diterjemahkan secara nyata melalui pengorbanan harta dan waktu, sejalan dengan pesan QS. Ali Imran: 92 tentang kebajikan sempurna yang dicapai melalui pemberian apa yang paling dicintai.
Paradoks Modernitas: Terbuka namun Hampa?
Kritik tajam diarahkan pada kondisi saat ini. Meski akses pendidikan dan karier bagi perempuan telah terbuka lebar, Alqivari melihat adanya tren yang mengkhawatirkan: reduksi nilai.
Islam sering kali hanya tampak sebagai identitas simbolik di media sosial, namun kehilangan kedalaman makna dalam tindakan. Fenomena ini disorot melalui beberapa poin utama:
- Keimanan sebagai Tampilan: Berhenti pada pakaian dan label, bukan pada perjuangan nyata.
- Komodifikasi Kebaikan: Di era digital, nilai seseorang sering diukur dari seberapa terlihat (“konten”), bukan seberapa tulus.
- Budaya Instan: Keinginan untuk diakui (pencitraan) sering kali mengalahkan keteguhan untuk berproses dan berkorban.
Mengembalikan Substansi Nilai
Meneladani Khadijah di era bising ini berarti memiliki keberanian untuk menjadi “cahaya” ketimbang sekadar mencari “sorotan.” Alqivari mengingatkan kembali pada hadis riwayat Muslim bahwa Allah tidak melihat rupa atau harta, melainkan hati dan amal.
“Khadijah tidak dikenal karena apa yang ia tampilkan, tetapi karena apa yang ia korbankan,” tegasnya.
Catatan Penutup: Menjadi Fondasi Peradaban
Tulisan ini diakhiri dengan sebuah pertanyaan reflektif bagi seluruh perempuan Muslim: Apakah modernitas justru menjauhkan mereka dari substansi nilai yang diperjuangkan Khadijah?
Jika Islam hanya berhenti pada simbol, ia akan kehilangan daya transformasinya. Peradaban besar tidak dibangun oleh mereka yang sekadar tampil di permukaan, melainkan oleh mereka yang setia pada nilai meski tanpa pengakuan. Khadijah bukan sekadar sejarah untuk dikenang, melainkan cermin untuk mengukur sejauh mana integritas diri diuji oleh zaman.




