Kematian Adalah Guru yang Jujur: Catatan Refleksi H. Sutikno Menghadapi Deru Kabar Duka

Must read

- Advertisement -

Surabaya, wartapoint – Belakangan ini, ruang percakapan kita dipenuhi oleh untaian doa dan berita duka. Mulai dari berpulangnya tokoh-tokoh besar bangsa, hingga kabar duka yang datang dari lingkaran terdekat—teman masa kecil, tetangga, hingga kerabat yang sedang berjuang melawan sakit berat.

​Menyikapi fenomena ini, tokoh masyarakat/agama, H. Sutikno, S.Sos., M.H., menyampaikan sebuah refleksi mendalam bagi kita yang masih diberi kesempatan menghirup udara pagi.

​Bukan Sekadar Angka, Tapi Lonceng Pengingat

​Bagi Sutikno, kematian yang beruntun terjadi di sekitar kita bukanlah sekadar statistik dalam berita duka.

​”Kematian adalah lonceng pengingat bagi kita yang masih diberi napas untuk tidak lagi menunda sapa. Ia adalah guru yang paling diam, namun paling jujur. Ia tidak memandang usia, jabatan, atau seberapa penting posisi kita di mata masyarakat,” ungkapnya.

​Ia mengutip firman Allah SWT dalam QS. Ali ‘Imran: 185:

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu.”

​Ayat ini, menurut Sutikno, menegaskan bahwa kematian bukanlah sebuah ‘kemungkinan’, melainkan ‘kepastian’ yang tidak bisa dihindari oleh negosiasi apa pun.

​Cermin dari Kepergian Sahabat dan Tokoh

​Kehilangan teman masa kecil karena sakit stroke, kanker, maupun musibah kecelakaan kerja di minggu ini menjadi pukulan batin yang mendalam. Sutikno memandang jejak para tokoh dan sahabat yang telah mendahului kita sebagai sebuah cermin besar.

​”Mereka telah menuntaskan bagian hidupnya dan meninggalkan jejak amal. Pertanyaan besarnya bagi kita yang masih ada di sini adalah: Jejak apa yang akan kita tinggalkan?” tuturnya.

​Melawan Kelalaian di Sisa Waktu

​Seringkali, manusia terjebak dalam delusi bahwa waktu masih panjang. Kita menunda pertobatan, menunda berbuat baik, dan merasa seolah-olah maut masih jauh di depan mata. Padahal, maut datang tanpa janji dan tanpa aba-aba.

​Sutikno menyitir perkataan ulama besar Hasan Al-Bashri رحمه الله:

​“Tidaklah aku melihat sesuatu yang lebih pasti daripada kematian, namun manusia justru paling lalai darinya.“

​Pesan Penutup: Menjadikan Akhirat sebagai Tujuan

​Menutup pernyataannya, Sutikno mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia dan merenung.

​”Hari ini kita mengantar sahabat kita ke liang lahat, esok bisa jadi kitalah yang diantarkan. Mari kita jadikan setiap kabar kematian sebagai pengingat bahwa hidup ini hanya sementara, dan akhirat adalah tujuan utama. Jangan tunggu besok untuk berbuat baik, karena kita tidak pernah tahu apakah esok masih menjadi milik kita,” pungkasnya.

​Semoga kita semua tidak termasuk golongan orang-orang yang lalai, dan senantiasa siap saat waktu itu tiba. (yupan)

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article