Sidoarjo, wartapoint – SMA Muhammadiyah 1 Taman (Smamita) kembali menegaskan komitmennya sebagai sekolah berwawasan global melalui penguatan diplomasi pendidikan internasional bersama Guangzhou Tiongkok. Langkah strategis ini menjadi bagian dari upaya Smamita menembus batas negeri dan memperluas jejaring kolaborasi lintas negara, Selasa (14/4/2026).
Rombongan dipimpin oleh perwakilan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, yakni Ir Tamhid Masyhudi (Wakil Ketua), Dr Hidayatulloh M.Si (Wakil Ketua Bidang Pendidikan), Prof Dr Khozin M.Si (Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF), serta Dr Eko Hardi Ansyah M.Psi (Sekretaris Majelis Dikdasmen dan PNF).
Dari pihak Smamita, turut hadir Direktur Edwin Yogi Laayrananta M.IKom, Wakil Kepala Bidang Kesiswaan Wahyu Bimas Kurniasandi S.IKom, serta Koordinator International Class Imara Al Hamani S.S. Hadir pula jajaran Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Sepanjang, yakni Fityan Izza Noor Abidin SE Ak MSA (Bendahara), Isa Haji Sulaiman ST (Sekretaris), dan Dr Abdullah Smith, MM (Wakil Ketua).
Selama berada di Guangzhou, rombongan mengikuti berbagai agenda edukatif, mulai dari kunjungan ke institusi pendidikan, dialog akademik, hingga pertukaran budaya bersama mitra setempat. Salah satu capaian penting dalam kunjungan ini adalah terjalinnya kerja sama dengan Guangzhou Development Zone Foreign Language School.
Program kerja sama yang dikemas dalam rangkaian kunjungan dan dialog pendidikan tersebut bukan sekadar agenda seremonial. Sejak tahap persiapan hingga pelaksanaan, Smamita menjalani proses panjang yang melibatkan komunikasi intensif dengan berbagai pihak, termasuk perwakilan diplomatik dan institusi pendidikan di Tiongkok. Hasilnya, terjalin hubungan kemitraan yang saling menguatkan dalam bidang akademik, budaya, dan pengembangan sumber daya manusia.
Direktur Smamita, Edwin Yogi Laayrananta, menjelaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar kunjungan antarsekolah “Selama kurang lebih tiga bulan, kami menjalani proses intensif bersama Konsulat Jenderal Tiongkok hingga akhirnya ditetapkan beberapa institusi terbaik, termasuk sekolah dan rumah sakit, berdasarkan penilaian resmi. Karena itu, kerja sama ini kami sebut sebagai perjalanan Sister City antara Surabaya dan Guangzhou,” ujarnya.
Seluruh rangkaian kegiatan didampingi oleh Kementerian Luar Negeri serta Kementerian Pendidikan Tiongkok wilayah Guangzhou. Pendampingan ini menegaskan bahwa misi yang dijalankan tidak hanya membawa nama Smamita atau PWM Jawa Timur, tetapi juga menjadi bagian dari penguatan diplomasi pendidikan antara Surabaya dan Guangzhou.
Edwin menambahkan, aktivitas internasional ini merupakan implementasi nyata visi sekolah, khususnya Global Insight.
“Melalui visi ini, Smamita ingin menumbuhkan daya juang warga sekolah agar tidak hanya berkembang di tingkat lokal dan nasional, tetapi juga siap berkiprah di kancah internasional,” ungkapnya.
Menurutnya, kegiatan internasional menjadi sarana strategis untuk memperluas wawasan, membangun jejaring global, serta mempelajari praktik baik dari berbagai budaya pendidikan dunia. Hal tersebut diharapkan dapat diadaptasi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah.
Program Sister City ini juga melalui proses panjang. Sekitar empat bulan sebelumnya, Smamita telah menjalin komunikasi intensif dengan Konsulat Jenderal Tiongkok, yang difasilitasi oleh PWM Jawa Timur. Sejumlah pertemuan lanjutan juga dilakukan untuk membahas perkembangan pendidikan di kedua belah pihak.
Perjalanan ini menjadi motivasi bagi Smamita untuk terus melangkah lebih jauh, memperkuat daya saing global, serta memperluas perspektif pendidikan. Melalui program ini, Smamita tidak hanya membawa nama sekolah, tetapi juga memperkenalkan wajah pendidikan Indonesia yang inklusif, adaptif, dan siap bersaing di tingkat dunia. (Nashiiruddin)





