Surabaya, wartapoint – Semangat literasi terus dipupuk sejak dini di lingkungan sekolah. Bertepatan dengan kegiatan ekstrakurikuler jurnalistik rutin pada Kamis (23/4/2026), suasana di MI Muhammadiyah 28 Bangkingan tampak berbeda. Dua jurnalis cilik berbakat, Fatimah Azzahra dan Delisha Aulia Sharena, membahas pentingnya membaca dalam rangka memperingati Hari Buku Sedunia.
Menghargai Karya dan Budaya Membaca
Dalam sesi wawancara tersebut, Fatimah Azzahra membuka pertanyaan mengenai alasan mendasar mengapa Hari Buku Sedunia perlu dirayakan. Menanggapi hal tersebut, Delisha menjelaskan bahwa peringatan ini merupakan momentum penting untuk mendorong budaya literasi di masyarakat.
”Peringatan ini bertujuan untuk mendorong budaya literasi, menghargai para penulis atas hak ciptanya, serta terus meningkatkan kesadaran kita semua akan pentingnya membaca,” ujar Delisha.
Nostalgia Bacaan Masa Kecil
Percakapan berlanjut ke arah yang lebih personal saat Fatimah menanyakan buku favorit Delisha sewaktu kecil. Sambil mengenang masa lalu, Delisha mengungkapkan kegemarannya pada bacaan bergambar.
”Waktu kecil, aku sangat menyukai buku komik yang berjudul Kobo Chan,” ungkapnya.
Buku vs Gadget: Mengapa Membaca Tetap Utama?
Di tengah gempuran teknologi dan banyaknya permainan (game) di ponsel saat ini, Fatimah melontarkan pertanyaan kritis mengenai relevansi membaca buku fisik. Jawaban Delisha pun cukup menyentuh sisi edukasi yang mendalam.
Menurutnya, membaca buku memberikan manfaat yang jauh lebih mendalam dibandingkan hanya menatap layar gawai (gadget). Manfaat-manfaat tersebut sering kali tidak bisa didapatkan hanya melalui konten digital singkat.
Kegiatan wawancara antar jurnalis cilik ini diharapkan dapat menginspirasi siswa-siswi lainnya di MI Muhammadiyah 28 Bangkingan untuk kembali mencintai buku dan menjadikan membaca sebagai gaya hidup, bukan sekadar tugas sekolah.





