Surabaya, wartapoint – Suasana ekstrakurikuler jurnalistik SD Muhammadiyah 29 Surabaya tampak lebih hidup pada Rabu (29/4/2026). Bertepatan dengan momen pasca peringatan Hari Puisi Nasional yang jatuh setiap tanggal 28 April, empat jurnalis cilik sekolah tersebut mempraktikkan kemampuan komunikasi mereka melalui sesi wawancara kreatif.
Keempat jurnalis cilik tersebut adalah Aura Putri Kusuma Dewi Pion Makung, Alesha Sarah Abdillah, Jihan Meylia Syifany, dan Gisela Agnes Saralee. Dalam kegiatan rutin ekskul setiap hari Rabu ini, mereka belajar menggali perspektif mengenai makna puisi bagi generasi sekolah dasar.
Puisi: Antara Keindahan dan Tantangan
Dalam sesi wawancara, para jurnalis cilik ini saling bertukar pandangan mengenai dunia literasi. Bagi mereka, puisi bukan sekadar barisan kata, melainkan sebuah karya seni yang “keren” karena kemampuan merangkai kata-kata menjadi indah, meski diakui mencari padanan kata yang pas bukanlah perkara mudah.
”Menurutku keren banget, soalnya kita bisa merangkai kata-kata jadi indah, meskipun agak sulit mencari kata yang pas,” ujar salah satu siswa dalam sesi tersebut.
Membangun Karakter Melalui Tulisan
Tak hanya membahas teknik, mereka juga berbagi pengalaman emosional saat menulis puisi. Salah satu jurnalis menceritakan pengalamannya menulis puisi pendek untuk ibunda tercinta pada Hari Ibu, yang berhasil membuat sang ibu merasa terharu.
Selain itu, pengalaman tampil membaca puisi di depan kelas dalam pelajaran Bahasa Indonesia juga menjadi topik hangat. Meski awalnya mengaku malu, para siswa merasakan kepuasan dan kesenangan tersendiri setelah berhasil menaklukkan rasa groginya di depan teman-teman dan guru.
Menumbuhkan Budaya Literasi Sejak Dini
Melalui latihan wawancara seputar Hari Puisi Nasional ini, diharapkan siswa-siswi SD Muhammadiyah 29 Surabaya tidak hanya mahir dalam teknik jurnalistik, tetapi juga memiliki kepekaan rasa dan kecintaan terhadap karya sastra Indonesia.
Semangat para jurnalis cilik ini menjadi bukti bahwa peringatan tokoh sastra seperti Chairil Anwar (yang menginspirasi Hari Puisi Nasional) tetap relevan dan mampu menginspirasi anak-anak zaman sekarang untuk terus berkarya. (yupan)





