Boyolali, wartapoint – Di bawah terik matahari Kabupaten Boyolali, deru cangkul dan tawa ringan antara prajurit TNI dan warga Desa Kauman memecah keheningan Kecamatan Wonosegoro, Selasa (12/5/2026). Mereka tidak sedang melakukan latihan militer, melainkan bahu-membahu meruntuhkan sekat ketidaklayakan hunian milik salah satu warga, Ibu Manisri.
Melalui program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Sengkuyung Tahap II Tahun 2026, Kodim 0724/Boyolali menargetkan rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) sebagai salah satu sasaran fisik utama. Bagi Ibu Manisri, tumpukan batako dan adukan semen yang dikerjakan para personel Satgas bukan sekadar material bangunan, melainkan manifestasi dari harapan baru untuk hari tua yang lebih teduh.
Gotong Royong sebagai Napas Pembangunan
Kebersamaan di lapangan menjadi pemandangan harian yang menonjol selama program berlangsung. Personel Satgas TMMD tidak bekerja sendirian; warga setempat turut turun tangan mengangkut material hingga memasang rangka bangunan. Fenomena ini mempertegas bahwa semangat kemanunggalan TNI dengan rakyat masih menjadi fondasi kuat dalam pembangunan di tingkat perdesaan.
Koordinator lapangan, Peltu Sutarto, menjelaskan bahwa progres pengerjaan terus dipacu agar hunian tersebut dapat segera ditempati. “Kami akan terus berupaya semaksimal mungkin agar rehab rumah ini selesai sesuai waktu yang telah ditentukan,” ujar Sutarto di sela-sela kegiatannya memantau lokasi.
Menurutnya, pengerjaan yang dikebut ini bukan semata-mata mengejar tenggat waktu penutupan program, melainkan bentuk komitmen untuk segera menghadirkan kenyamanan bagi penerima manfaat.
Lebih dari Sekadar Fisik Bangunan
TMMD Sengkuyung di Desa Kauman ini memberikan potret nyata mengenai intervensi militer dalam ranah kesejahteraan sosial. Bagi Peltu Sutarto dan timnya, program RTLH adalah cara negara hadir untuk memberikan standar hidup yang lebih manusiawi bagi warga yang membutuhkan.
”Program tersebut bukan hanya membangun rumah, tetapi juga memberi harapan baru bagi warga untuk memiliki tempat tinggal yang lebih layak dan nyaman,” tambah Sutarto.
Hingga Selasa siang, pembangunan fisik rumah Ibu Manisri terus menunjukkan kemajuan signifikan. Dinding-dinding permanen mulai tegak berdiri, menggantikan struktur lama yang sebelumnya lapuk dimakan usia. Harapannya, sebelum program TMMD resmi ditutup, Ibu Manisri sudah bisa tersenyum lebar di dalam hunian barunya yang tidak lagi bocor saat hujan maupun berdebu saat kemarau.
Program TMMD Sengkuyung di Boyolali ini kembali membuktikan bahwa kolaborasi antara lintas sektoral dan partisipasi aktif masyarakat adalah kunci utama dalam mempercepat pemerataan pembangunan hingga ke pelosok desa. (Agus)





