Salinan dari Donasi Pembangunan Masjid Poster
Wednesday, May 13, 2026
Salinan dari Donasi Pembangunan Masjid Poster

Cegah DBD Sejak Dini, Siswa MI Muhammadiyah 25 Surabaya Belajar Jadi “Juru Pemantau Jentik” Cilik

Must read

Surabaya, wartapoint – Bahaya penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) terus mengintai, terutama di lingkungan padat penduduk. Menyadari pentingnya kewaspadaan sejak dini, MI Muhammadiyah 25 Surabaya menggelar program Guest Teacher (Guru Tamu) yang mengajak siswa terjun langsung mempraktikkan gaya hidup sehat.

​Kegiatan yang berlangsung pada Rabu (13/5/2026) ini menyasar siswa kelas 2D. Berbeda dengan pelajaran di dalam kelas pada umumnya, kali ini para siswa diajak menjadi “detektif” kebersihan untuk mengantisipasi perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti.

Praktik Lapangan di Kamar Mandi Sekolah

​Hadir sebagai narasumber adalah Eka Yanie Yunitasari, Kader Surabaya Hebat (KSH) Kelurahan Sidotopo. Dalam paparannya, Eka tidak hanya memberikan teori, tetapi juga memboyong para siswa ke area kamar mandi sekolah untuk praktik inspeksi bak mandi secara langsung.

​”Kebersihan lingkungan bukan sekadar bebas sampah, tapi juga bebas dari genangan air yang bisa menjadi sumber penyakit. Anak-anak perlu melihat sendiri bagaimana kondisi air yang bersih dan bagaimana potensi jentik nyamuk muncul,” ujarnya.

​Ia menekankan pentingnya konsep 3M Plus:

  1. Menguras tempat penampungan air secara rutin.
  2. Menutup rapat wadah air.
  3. Mendaur ulang barang bekas.
  4. Plus: Menggunakan losion anti-nyamuk, menaburkan bubuk abate, dan menghindari kebiasaan menggantung pakaian terlalu lama.

Mengenali Gejala Sedini Mungkin

​Selain pencegahan, siswa juga dibekali pengetahuan mengenai gejala klinis DBD. Hal ini dimaksudkan agar siswa mampu melakukan deteksi mandiri jika merasa tidak sehat.

​Beberapa gejala yang dikenalkan antara lain demam tinggi mendadak, tubuh lemas, sakit kepala, hingga munculnya bintik merah pada kulit atau mimisan. Dengan pengetahuan ini, siswa diharapkan segera melapor kepada orang tua atau guru jika mengalami keluhan serupa.

​Aldebaran Natha Bumi, salah satu siswa kelas 2D, mengaku antusias dengan metode belajar ini. “Materinya bagus karena kami diajak praktik langsung melihat bak mandi di sekolah. Jadi lebih mengerti,” tuturnya semangat.

Membangun Karakter Peduli Lingkungan

​Kepala MI Muhammadiyah 25 Surabaya, Ferry Rismawan, memberikan apresiasi tinggi terhadap kolaborasi antara sekolah dan wali murid/masyarakat melalui program Guest Teacher ini. Menurutnya, edukasi kesehatan adalah tanggung jawab kolektif.

​”Menjaga kebersihan adalah tanggung jawab bersama. Jika kebiasaan ini ditanamkan sejak usia dini, maka akan menjadi karakter yang melekat hingga mereka dewasa kelak. Lingkungan yang bersih adalah kunci kenyamanan belajar,” kata Ferry.

​Senada dengan hal tersebut, wali kelas 2D, Ustadzah Nurul, melihat adanya perubahan energi belajar saat anak-anak dilibatkan dalam aksi nyata seperti kerja bakti kelas dan pemantauan saluran air.

​Melalui langkah kecil dari bangku sekolah ini, MI Muhammadiyah 25 Surabaya berharap para siswa tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga menjadi agen perubahan (agent of change) dalam menjaga kesehatan keluarga dan lingkungan sekitarnya. (Siti Islaha)

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article