Surabaya, wartapoint — Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Republik Indonesia, Natalius Pigai, melakukan kunjungan kerja mendadak ke Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) IBI Surabaya, Rabu (13/5/2026). Kunjungan ini dilakukan guna memastikan penanganan medis terhadap puluhan siswa yang menjadi korban dugaan keracunan massal dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) berjalan optimal.
Insiden ini menimpa ratusan pelajar di wilayah Kelurahan Tembok Dukuh, Kota Surabaya. Hingga Rabu siang, dilaporkan sebanyak 131 peserta didik sempat dilarikan ke rumah sakit setelah mengonsumsi paket makanan dari program tersebut.
Pantau Kondisi Pasien
Dalam kunjungannya, Natalius Pigai didampingi oleh Kepala Kanwil Kementerian HAM Jawa Timur, Toar R. E. Mangaribi, serta Asisten I Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Imam Hidayat. Pigai menyempatkan diri berdialog dengan keluarga pasien dan meninjau langsung tujuh siswa yang masih harus menjalani rawat inap intensif.
”Laporan medis menunjukkan kondisi seluruh pasien saat ini sudah stabil dan menunjukkan progres pemulihan yang signifikan. Kami ingin memastikan mereka mendapatkan hak atas pelayanan kesehatan yang terbaik,” ujar Pigai di RSIA IBI Surabaya.
Berdasarkan data yang dihimpun, dari total 131 korban, sebanyak 124 siswa telah dinyatakan pulih dan diperbolehkan pulang, sementara 7 lainnya masih dalam observasi tim medis.
Alarm Keras Keamanan Pangan
Meski mengapresiasi tujuan mulia program MBG untuk meningkatkan kualitas tumbuh kembang anak, Pigai memberikan catatan kritis terkait implementasi di lapangan. Ia menegaskan bahwa aspek keamanan pangan adalah hal yang tidak dapat ditawar.
”Program MBG ini tujuannya mulia. Namun, jika terjadi kegagalan dalam pengelolaan, terutama pada sisi dapur atau sanitasi, ini adalah alarm keras. Harus ada evaluasi total dan tindak lanjut, baik secara administratif maupun hukum,” tegasnya.
Ia juga memberikan dorongan moril kepada para siswa agar tidak mengalami trauma pasca-kejadian dan tetap semangat untuk kembali bersekolah setelah dinyatakan sembuh total oleh tim dokter.
Investigasi Satuan Pelayanan Gizi
Dugaan sementara, sumber keracunan berasal dari paket makanan yang disiapkan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bubutan Tembok Dukuh. Insiden ini berdampak luas, mencakup peserta didik dari 11 instansi pendidikan di Surabaya, mulai dari tingkat TK hingga SMP, termasuk SDN Tembok Dukuh, Kompleks Sekolah Aletheia, SD Pancasila 45, SD Raden Wijaya, hingga Kompleks Sekolah Ubaid.
Menutup keterangannya, Menteri HAM meminta pihak berwenang melakukan investigasi menyeluruh terhadap vendor atau pengelola SPPG terkait.
”Negara harus hadir memastikan perlindungan hak anak atas keamanan pangan. Jika terbukti ada kelalaian prosedur, sanksi tegas harus diberikan agar kejadian serupa tidak terulang di daerah lain,” pungkasnya. (Armand/yupan)





