Surabaya, wartapoint – Ada yang berbeda dengan atmosfer di SD Muhammadiyah 26 (M26) Surabaya pada Selasa (19/5/2026). Koridor dan ruang kelas sekolah yang biasanya riuh dengan interaksi harian, mendadak berubah menjadi panggung global.
Pihak sekolah sengaja mendatangkan empat penutur asing (native speaker) asal India dan Jerman. Kehadiran mereka bertujuan untuk menguji sekaligus mengasah kemampuan linguistik para siswa kelas International Class Program (ICP).
Program berkala tiap semester yang bertajuk “FLUENT: Fun Way Learning English with Native” ini bukan sekadar agenda seremonial. Langkah ini menjadi strategi taktis sekolah untuk mengikis dinding kecemasan dan membangun rasa percaya diri siswa dalam berkomunikasi menggunakan bahasa internasional.
Menguji Nyali Lewat Metode ‘Pos-to-Pos’
Kepala SD Muhammadiyah 26 Surabaya, Yunita Puspitasari, menegaskan bahwa penguasaan bahasa asing tidak akan pernah matang jika siswa hanya terpaku pada teori di dalam buku teks.
”Kita harus berani mencoba hal baru, contohnya dengan belajar bahasa Inggris langsung bersama native speakers,” ujarnya.
Agar pembelajaran berlangsung efektif dan tidak menjemukan, sekolah menerapkan metode pos-to-pos games yang kompetitif. Konsep ini dirancang untuk memaksa siswa keluar dari zona nyaman melalui simulasi langsung.
- Sistem Kelompok: Siswa dipecah ke dalam beberapa tim kecil untuk menyelesaikan berbagai tantangan (challenges) di setiap pos.
- Syarat Kelulusan Pos: Tiket untuk dapat lolos dan melaju ke pos berikutnya adalah komunikasi aktif. Setiap kelompok wajib berinteraksi dan berbicara langsung menggunakan bahasa Inggris dengan para penutur asing yang menjaga pos tersebut.
Apresiasi dari Penutur Asing
Meski awalnya diliputi rasa cemas dan takut salah, ketakutan para siswa perlahan mencair menjadi tawa dan antusiasme. Menariknya, energi positif ini dirasakan langsung oleh para penutur asing. Mereka mengaku kagum dengan daya tangkap dan keberanian anak-anak.
Vanshika, salah satu native speaker yang terlibat dalam kegiatan ini, tidak dapat menyembunyikan rasa terkesannya saat ditemui di sela-sela acara.
“The students are so interactive and active,” (Para siswa sangat interaktif dan aktif), ungkap Vanshika.
Ia menambahkan bahwa antusiasme luar biasa dari para siswa memberikan pengalaman yang sangat berkesan (memorable). Terlebih, ini merupakan pengalaman pertama bagi mereka merasakan langsung atmosfer pendidikan dasar di Kota Surabaya.
Melatih Mental di Era ‘Global English’
Pada era Generasi Z dan Alfa, kendala terbesar anak dalam berbahasa asing kerap kali bukan terletak pada minimnya kosakata (vocabulary), melainkan pada krisis kepercayaan diri dan ketakutan akan melakukan kesalahan tata bahasa.
Dengan menghadirkan penutur asing dengan aksen yang beragam—dalam hal ini India dan Jerman—SD Muhammadiyah 26 Surabaya sebenarnya sedang melatih kepekaan mendengar (listening skill) dan mental siswa. Mereka dipersiapkan untuk menghadapi realitas Global English, di mana bahasa Inggris kini dituturkan dengan berbagai dialek di seluruh belahan dunia.
Langkah inovatif ini menjadi contoh nyata bahwa mencetak generasi berwawasan global harus dimulai dengan metode yang menyenangkan, terukur, dan aplikatif sejak dini.
(Penulis: Tina, Diah)





