Surabaya, wartapoint – Riuh rendah suara ratusan siswa menggema di halaman SD Muhammadiyah 16 Surabaya, Kamis (21/5/2026) pagi. Sejak pukul 08.00 WIB, anak-anak tersebut tampak bergantian memeragakan adegan demi adegan dalam drama musikal. Mereka tengah menjalani gladi bersih untuk ajang tahunan Family Festival (Famfest) 2026.
Meski dilaksanakan di bawah terik matahari tanpa tata cahaya penuh, efek asap, maupun dekorasi panggung utama, atmosfer pertunjukan tetap terasa magis. Narasi kejayaan Islam—mulai dari era Khulafaur Rasyidin hingga jejak sejarah Islam di Nusantara—mampu dihadirkan dengan apik oleh para siswa.
Tahun ini, festival tahunan garapan Sekolah Kreatif Baratajaya tersebut mengusung tema besar “Kami Muslim, Kami Pemimpin”. Puncak acara rencananya akan menyapa publik pada Sabtu (23/5/2026) mendatang di Airlangga Convention Center Surabaya.
Lebih dari Sekadar Hiburan
Bagi pihak sekolah, gelaran ini bukan sekadar panggung hiburan akhir tahun. Kepala Urusan Hubungan Masyarakat SD Muhammadiyah 16 Surabaya, Agus Mulyadi, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa drama musikal ini merupakan media pembelajaran kontekstual untuk menghidupkan sejarah di benak siswa.
“Tanpa dukungan tata panggung yang lengkap sekalipun di masa latihan ini, performa anak-anak sudah mampu membawa kita seolah melintasi waktu ke masa lalu,” ujar Agus.
Keseriusan tim di balik layar pun tidak main-main. Di sudut halaman, tim editing dan kreatif bekerja ekstra detail guna memastikan sinkronisasi antara pergerakan aktor di lapangan, musik latar, visual, hingga rancangan tata cahaya.
Wakil Koordinator Acara, Sofwan Hidayat, S.Hum., M.Pd., yang memantau langsung jalannya penyelarasan ini, menyebutkan bahwa detail-detail teknis tersebut krusial agar pesan emosional dan nilai estetis drama dapat tersampaikan utuh kepada penonton.
Evaluasi ketat juga datang dari para wali kelas yang terlibat aktif. Ishwara Pranidana, S.Pd., guru kelas I, misalnya, menyoroti pentingnya keharmonisan warna. Menurutnya, pemilihan warna lampu kilat (lighting) di panggung nanti harus benar-benar selaras dengan kostum siswa dan latar visual agar pertunjukan terasa hidup.
Refleksi Budaya Inovasi Guru
Di luar aspek artistik, Famfest menjadi cermin dari dinamika kompetensi para pendidik di Sekolah Kreatif Baratajaya. Kepala SD Muhammadiyah 16 Surabaya, Elly Rhodlifah, SH., M.Pd., menyatakan bahwa konsistensi sekolah untuk mengubah tema dan konsep festival setiap tahun adalah bukti nyata diterapkannya pola pikir bertumbuh (growth mindset) di kalangan guru.
”Famfest adalah bentuk implementasi pembelajaran yang dinamis. Guru-guru ditantang untuk tidak terjebak dalam rutinitas, melainkan terus berkembang dan berinovasi,” kata Elly.
Melalui festival ini, materi pembelajaran yang biasanya ada di dalam buku teks berhasil dikontekstualisasikan menjadi pertunjukan yang kreatif. Elly menambahkan, kolaborasi antarguru yang didukung pemanfaatan properti modern serta teknologi visual menjadi bukti bahwa budaya inovasi telah mengakar kuat di lingkungan sekolah.
(Ahmad Mahmudi)





