Salinan dari Donasi Pembangunan Masjid Poster
Monday, June 1, 2026
Salinan dari Donasi Pembangunan Masjid Poster

Retakkan “Cangkang” Pola Pikir, Puluhan Kepala TK Aisyiyah Surabaya Siap Jadi Pemimpin Pembelajar

Must read

Malang, wartapoint – Majelis PAUD Dasmen Pimpinan Daerah Aisyiyah Kota Surabaya menggelar Pendidikan Khusus Kepala Sekolah (Diksuspala) yang diikuti oleh 38 Kepala PAUD ‘Aisyiyah Bustanul Athfal se-Kota Surabaya.

​Agenda yang berlangsung di Hotel Kapal Garden, Malang, Jawa Timur, sejak 24 hingga 26 Mei 2026 ini mengusung tema “Mewujudkan PAUD Inspiratif, Profesional, dan Berkemajuan”.

​Pada hari pertama pelatihan, Ahad (24/5/2026), para peserta langsung dibekali materi krusial mengenai pentingnya growth mindset (pola pikir bertumbuh) dalam kepemimpinan sekolah.

​Hadir sebagai narasumber utama, Kepala SD Muhammadiyah 24 Surabaya, Norma Setyaningrum, M.Pd., yang mengupas tuntas materi bertajuk “Growth Mindset Menjadi Pemimpin Pembelajar: Menumbuhkan Generasi Berkemajuan”.

​Refleksi Diri: Keluar dari Zona Nyaman

​Dalam sesi yang berlangsung dinamis di Aula Hotel Kapal Garden, Norma melemparkan sebuah pertanyaan pemantik yang reflektif sekaligus menggelitik para peserta.

​”Apakah kita sedang memimpin sekolah yang benar-benar berumur 15 tahun, atau jangan-jangan kita memimpin sekolah yang sebenarnya baru berumur 1 tahun, tetapi diulang sebanyak 15 kali?” seloroh Norma, yang disambut senyum bermakna dari para kepala sekolah yang hadir.

​Norma menegaskan bahwa setiap pertumbuhan selalu menuntut proses “meretakkan diri”. Menjadi pemimpin di lembaga PAUD ‘Aisyiyah Bustanul Athfal yang berkemajuan membutuhkan kesiapan mental untuk keluar dari zona nyaman, berani menerima tantangan, serta terus belajar tanpa henti.

​Untuk mengukur sejauh mana kesiapan tersebut, para peserta diajak mengisi instrumen psikologi kepemimpinan bernama The Leadership Mirror.

​Melalui instrumen ini, para kepala sekolah ditantang untuk jujur menilai diri mereka sendiri dalam memandang kecerdasan, menghadapi risiko inovasi program, merespons keberhasilan sekolah kompetitor, hingga bagaimana menyikapi umpan balik dan kritik.

​Mengubah “Gembok” Menjadi “Kunci” lewat Kasus Nyata

​Suasana diskusi kelompok semakin hangat saat peserta diminta memecahkan studi kasus nyata, yaitu mengubah fixed mindset (diumpamakan sebagai gembok) menjadi growth mindset (sebagai kunci).

​Salah satu kasus konkrit yang dibahas adalah tantangan migrasi administrasi digital melalui aplikasi “Sipena” yang diwajibkan oleh Majelis PAUD Dasmen. Di lapangan, kebijakan ini sempat memicu protes dari mayoritas guru senior yang merasa terbebani dengan sistem digital.

​Melalui diskusi tersebut, para peserta merumuskan strategi untuk mengajak para guru melihat tantangan digitalisasi bukan sebagai beban, melainkan peluang (opportunity) untuk menaikkan kelas kapasitas lembaga. Salah satu trik psikologis yang ditekankan adalah penggunaan kata kunci ajaib: “BELUM”. Kata ini mengubah narasi “tidak bisa digital” menjadi “belum bisa digital”, yang membuka ruang untuk terus belajar.

​Membakar Rasa Percaya Diri Pemimpin Muda

​Pemaparan materi yang aplikatif dan menyentuh sisi psikologis ini menuai respons positif dari para peserta. Kepala TK ABA 38, Humaizah, S.Ag., mengaku materi ini sangat menginspirasi sekaligus mendongkrak rasa percaya dirinya dalam menakhodai sekolah.

​Hal senada diungkapkan oleh Rofi’atus Sholicha, S.Pd., dari KB ABA 17. Bagi Rofi’atus, ruang Diksuspala ini memberikan atmosfer yang aman bagi para kepala sekolah untuk bertumbuh.

​”Kegiatan dan materi ini memberikan kesempatan besar bagi saya untuk terus belajar dan berani menyatakan pendapat di depan umum,” tutur Rofi’atus.

​Tekanan adalah Sebuah Hak Istimewa

​Sebagai penutup hari pertama, seluruh Kepala TK ‘Aisyiyah Surabaya mendeklarasikan komitmen bersama dengan menuliskan kebiasaan lama apa saja yang ingin mereka tinggalkan demi kemajuan sekolah.

​Mereka juga diajak meredefinisi arti tekanan dalam dunia kerja lewat sebuah pesan penutup yang kuat: “Pressure is a privilege” (tekanan adalah sebuah hak istimewa). Istilah ini bermakna bahwa ketika seseorang menerima tekanan tugas yang besar, artinya dunia mempercayai kapasitas mereka untuk mengemban tanggung jawab yang besar pula.

​Hari pertama Diksuspala ini pun ditutup dengan tekad bulat dari para kepala sekolah untuk menyempurnakan ikhtiar profesional dan bertawakal demi melahirkan generasi emas yang berkemajuan di Surabaya. (yupan)

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article