
Surabaya, wartapoint — Dinding-dinding kusam Panti Asuhan atau Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Muhammadiyah “Nyai Walidah” kini telah rata dengan tanah. Langkah besar merobohkan seluruh struktur bangunan lama ini sengaja diambil demi menyudahi keprihatinan panjang, sekaligus membuka harapan baru bagi pengasuhan anak-anak yatim dan telantar.
Selama hampir satu dekade, lembaga ini beroperasi dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Saat intensitas hujan tinggi, para pengurus dan anak asuh kerap terjaga semalaman akibat kebocoran atap di berbagai sudut. Ruangan yang sempit serta struktur bangunan yang mulai melapuk membuat atmosfer belajar dan bernaung menjadi jauh dari standar layak.
Keterbatasan fisik bangunan ini juga menyisakan pilu tersendiri bagi pengelola. Akibat kapasitas yang overkapasitas, pihak panti sering kali terpaksa menolak anak-anak yatim baru yang dibawa oleh warga sekitar. Saat ini, bangunan tersebut harus menampung 40 anak asuh mukim, ditambah 30 anak usia SD hingga SMP dari keluarga prasejahtera di lingkungan sekitar yang rutin mengaji secara gratis setiap sore.
Menolak Anak Yatim dengan Berat Hati
Kepala LKSA Muhammadiyah Nyai Walidah, Fitria Leliana, mengungkapkan rasa berat hati yang selama bertahun-tahun dipendam oleh jajaran pengurus ketika terpaksa membatasi daya tampung anak.
”Hati kami hancur setiap kali terpaksa menolak anak yatim yang datang ke sini. Mereka butuh perlindungan, tapi kapasitas kasur dan ruangan kami benar-benar sudah tidak muat, belum lagi atap yang terus bocor. Itulah mengapa bangunan ini harus dirobohkan total. Kami ingin membangun tempat yang lebih luas agar tidak ada lagi anak yatim yang terpaksa kami tolak,” ujar Fitria Leliana dengan suara bergetar.
Di atas lahan yang kini telah dibersihkan tersebut, pihak pengurus berikhtiar mendirikan bangunan baru yang kokoh berlantai tiga. Gedung baru ini dirancang untuk memiliki fasilitas yang lebih representatif, antara lain:
- Kamar Tidur Manusiawi: Ruang tidur yang lebih luas untuk meningkatkan daya tampung anak asuh baru.
- Ruang Belajar Khusus: Fasilitas edukasi terintegrasi bagi santri mukim dan 30 anak TPQ warga sekitar.
- Aula Pertemuan: Ruang serbaguna di lantai atas sebagai pusat syiar, pelatihan, dan ruang interaksi sosial bersama masyarakat.
Membuka Dompet Donasi Rp 1,2 Miliar
Ikhtiar besar untuk merajut kembali mimpi dan masa depan anak-anak telantar ini membutuhkan estimasi total biaya pembangunan mencapai Rp 1,2 Miliar.
Untuk sementara waktu, aktivitas pengajaran dan lantunan ayat suci Al-Qur’an dari 70 anak-anak kurang mampu di lembaga tersebut harus mengalah pada riuh suara hantaman proyek. Terkait hal tersebut, Fitria Leliana mengajak keterlibatan publik dan para dermawan untuk ikut serta mengulurkan bantuan dalam program pembangunan ini.
Pihak LKSA Muhammadiyah Nyai Walidah membuka pintu donasi seluas-luasnya bagi masyarakat yang ingin menyalurkan kepeduliannya. Setiap partisipasi dari donatur dinilai akan menjadi bata-bata awal bagi terciptanya ruang perlindungan, kehidupan baru, dan masa depan yang lebih cerah bagi anak-anak yatim yang membutuhkan.
Panggilan Kemanusiaan: Mari Berdonasi
Pihak pengelola LKSA Nyai Walidah mengundang masyarakat, instansi, maupun komunitas untuk turut serta dalam “pembangunan harapan” ini. Bagi masyarakat yang ingin menyalurkan bantuan, dapat melalui kanal resmi berikut:
- Rekening BSI: 6400460062 (a.n. PA Muhammadiyah Nyai Walidah)
- Kode Unik: Mohon tambahkan angka 4 di akhir nominal (Contoh: Rp 1.000.004,-)
Untuk koordinasi kunjungan atau konfirmasi donasi, masyarakat dapat menghubungi nomor layanan informasi:
- Fitria: 0817-0363-8594
- Hilqoir: 0812-3434-3164
- Sutikno: 0852-3024-4436
- Hambali: 0815-1518-3979
Pihak lembaga memohon maaf kepada para donatur dan tamu atas ketidaknyamanan yang mungkin timbul akibat perpindahan lokasi ini. “Mohon doa restu dari masyarakat agar gedung baru ini segera terwujud demi kenyamanan anak-anak negeri,” pungkasnya.
Sekretariat Sementara:
Jl. Dupak Bandarejo No. 11, Surabaya
Telp: (031) 3539388
(Sutikno)





