Surabaya, wartapoint – Atmosfer haru dan bangga menyelimuti SMAMDA Tower pada Sabtu (13/6/2026). Sebanyak 771 siswa SD Muhammadiyah 4 (Mudipat) Surabaya mengikuti agenda Wisuda Munaqosyah Tahfidzul Qur’an XII. Mengusung tema “Generasi Qur’ani, Berakhlak Mulia, dan Berprestasi”, acara ini menjadi momen bersejarah bagi para santri cilik penghafal Al-Qur’an.
Ketua Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen PNF) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Surabaya, H. Dikky Syadqomullah, M.H.E.S., hadir langsung memberikan apresiasi dan motivasi mendalam bagi para wisudawan serta orang tua yang hadir.
“Ini momen penting, momen yang tidak bisa kita lupakan. Kami bangga kepada anak-anak ini karena mereka adalah anak-anak yang hebat dan luar biasa,” ujarnya.
Aksi Nyata Melawan Godaan Setan
Dikky menegaskan bahwa menjadi anak hebat tidak boleh berhenti hanya sampai pada prosesi wisuda semata. Predikat penghafal Al-Qur’an harus dibuktikan melalui aksi nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Ia mengingatkan bahwa pencapaian para siswa yang berhasil menghafal beberapa juz Al-Qur’an secara tidak langsung telah memicu “permusuhan” dengan setan. Setan tidak akan pernah rida melihat anak-anak tumbuh menjadi generasi yang hebat bersama Al-Qur’an.
Oleh karena itu, menyelaraskan dengan angka “4” yang menjadi identitas SD Mudipat, Dikky menyampaikan 4 poin penting agar hafalan para siswa tetap terjaga dan tidak goyah oleh godaan zaman, yakni:
- 1. Niat yang Kuat dan Istikamah Menambah Hafalan Dikky berpesan agar para siswa menanamkan niat yang kokoh untuk menjadi Hafiz Qur’an. Ia memotivasi siswa untuk menambah hafalan minimal satu ayat setiap hari. Secara matematis, jika siswa konsisten menambah hafalan selama 6 tahun bersekolah, mereka akan mampu menguasai ratusan hingga ribuan ayat Al-Qur’an dengan mudah.
- 2. Banyak Beramal Saleh dan Berbakti kepada Orang Tua/Guru Kelancaran dan keberkahan dalam menghafal Al-Qur’an tidak akan lepas dari rida orang tua dan guru. Dikky meminta anak-anak untuk selalu membantu, menghormati, serta senantiasa memohon doa dari orang tua mereka.
- 3. Saling Menguatkan dan Menghindari Sifat Menyendiri (Kecanduan Gadget) Para penghafal Al-Qur’an diimbau untuk tidak asyik menyendiri, terutama menghabiskan waktu hanya untuk scrolling media sosial di handphone. Sebaliknya, mereka harus berkumpul (minimal 5 orang) atau duduk bersama orang tua di rumah untuk saling menyimak hafalan (murojaah).
- 4. Menanamkan Sifat Sabar Menjadi seorang penumpuk kalamullah membutuhkan kesabaran ekstra. Dikky menekankan bahwa seorang penghafal Al-Qur’an tidak boleh menjadi anak yang mudah mutungan (mudah merajuk/putus asa), melainkan harus sabar melakukan murojaah setiap hari.
Harapan Masa Depan
Menutup sambutannya, Dikky berharap agar kolaborasi antara sekolah dan orang tua terus berjalan erat, bahkan mengizinkan siswa untuk memanfaatkan waktu di sekolah demi memperkuat hafalan mereka.
Dunia saat ini sangat membutuhkan kehadiran generasi-generasi tangguh dan berakhlak Qur’ani. Melalui momentum Wisuda Munaqosyah XII ini, SD Mudipat Surabaya membuktikan komitmennya dalam mencetak kader islami yang siap membawa perubahan positif bagi bangsa dan agama. (yupan)





