Salinan dari Donasi Pembangunan Masjid Poster
Tuesday, June 16, 2026
Salinan dari Donasi Pembangunan Masjid Poster

Bangun Sinergi Cerdas dengan Keluarga, MI Muhammadiyah 25 Surabaya Siapkan Fase Transisi Calon Siswa Baru

Must read

Surabaya, wartapoint — Madrasah Ibtidaiyah (MI) Muhammadiyah 25 Surabaya (MIM 25) terus memperkokoh pilar kolaborasi antara institusi pendidikan dan lingkungan keluarga guna mengawal fase transisi serta tumbuh kembang anak secara optimal.

​Langkah taktis tersebut diwujudkan melalui rangkaian agenda Parenting Education, pembacaan hasil pemetaan tes psikologi, serta pendistribusian perlengkapan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026/2027 yang digelar di aula pertemuan madrasah pada Selasa (16/6/2026).

​Mengusung tajuk “Sinergi Cerdas: Menyiapkan Generasi Hebat Menuju MIM 25”, acara ini dirancang khusus untuk menyambut dan mengedukasi para calon wali murid. Sejak pagi hari, atmosfer pertemuan telah disemarakkan oleh unjuk bakat para siswa eksis melalui penampilan Dai Cilik (Dacil) serta seni bela diri Tapak Suci, sebagai representasi wadah pembentukan karakter, nyali, dan ketangkasan di MIM 25.

​Acara resmi dibuka dengan khidmat melalui pembacaan ayat suci Al-Qur’an, yang kemudian disusul dengan lagu kebangsaan Indonesia Raya serta Mars Muhammadiyah. Prosesi ini menegaskan integrasi nilai keislaman, spirit kebangsaan, dan komitmen kemuhammadiyahan yang menjadi basis utama pendidikan di madrasah ini.

Pendidikan adalah Proses Kolaboratif

​Dalam pidato sambutannya, Kepala MI Muhammadiyah 25 Surabaya, Ferry Rismawan, M.Pd.I, menyampaikan apresiasi mendalam atas komitmen dan kehadiran para calon wali murid. Ia menggarisbawahi bahwa kesuksesan output pendidikan anak tidak bisa bersandar pada program sekolah semata, melainkan wajib ditopang oleh keterlibatan aktif orang tua di rumah.

​“Di MIM 25, kami berkomitmen menghadirkan pendidikan yang tidak hanya mengembangkan aspek akademik, tetapi juga karakter, akhlak, dan potensi anak. Karena itu, sinergi antara sekolah dan keluarga menjadi fondasi penting dalam mencetak generasi yang hebat,” papar Ferry.

​Pada kesempatan tersebut, Ferry turut memaparkan ragam budaya mutu dan keunggulan madrasah, mulai dari pembiasaan ibadah harian, internalisasi akhlak islami, metode pembelajaran aktif yang menyenangkan, hingga inkubator pengembangan bakat minat siswa.

​Gayung bersambut, Wakil Kepala Madrasah, Ustadzah Fuadah, menyatakan rasa syukurnya atas atensi luar biasa dari para orang tua murid. “Alhamdulillah, tingkat kehadiran mencapai sekitar 90 persen. Ini menunjukkan semangat orang tua untuk bersinergi dengan sekolah dalam mendampingi proses pendidikan anak sejak awal,” sebutnya.

Memahami Lima Aspek Tumbuh Kembang Anak

​Memasuki sesi inti pembelajaran, MIM 25 menghadirkan psikolog Khoirunnisa’, M.Psi., guna membedah aspek psikologis anak usia 6–7 tahun yang berada pada fase transisi krusial menuju lingkungan belajar formal yang lebih terstruktur.

​Dalam pemaparannya, Khoirunnisa’ mengurai lima dimensi perkembangan anak yang wajib dipahami secara menyeluruh oleh orang tua:

  1. Motorik Kasar: Anak mulai terampil mengontrol koordinasi tubuh, seperti berlari, melompat, dan menjaga keseimbangan yang dapat distimulasi lewat aktivitas fisik terarah.
  2. Motorik Halus: Kematangan jari dan tangan anak mulai terlihat saat menulis, menggambar, menggunting, hingga memakai kancing baju sendiri.
  3. Kognitif: Pola pikir anak bergerak lebih sistematis, mampu mengenali hubungan sebab-akibat, dan mulai sanggup memecahkan masalah sederhana sebagai modal dasar kesiapan sekolah.
  4. Bahasa: Terjadi lonjakan kosakata secara pesat; anak mampu bercerita dengan alur yang runut dan responsif terhadap instruksi kompleks.
  5. Sosial-Emosional: Anak mulai belajar beradaptasi dengan regulasi, bekerja sama, mengelola emosi, dan membangun empati demi menciptakan interaksi sosial yang sehat di sekolah.

Peran Strategis Penerimaan dan Apresiasi

​Lebih jauh, Khoirunnisa’ mengingatkan bahwa dukungan emosional orang tua memegang pilar strategis dalam tumbuh kembang anak. Pola pengasuhan yang hangat, tanggap, serta pemberian apresiasi pada setiap proses usaha anak dinilai lebih utama ketimbang hanya menuntut hasil akhir.

​“Anak membutuhkan lingkungan yang aman dan penuh dukungan. Ketika orang tua menghargai proses yang dilakukan anak, kepercayaan diri dan motivasi belajarnya akan tumbuh lebih baik,” terang Khoirunnisa’.

​Ia juga mewanti-wanti bahwa gangguan tumbuh kembang dapat dipicu oleh multiaspek, seperti faktor genetika, pola asuh, minimnya stimulasi, hingga problem kesehatan. Oleh sebab itu, skrining berkala dan deteksi dini menjadi hal yang wajib dilakukan orang tua.

​Sesi diskusi interaktif berlangsung dinamis saat para wali murid secara bergantian mengonsultasikan kendala komunikasi, kematangan emosi, hingga kesiapan akademis anak di rumah.

​Rangkaian acara ditutup secara sistematis dengan pembagian seluruh kelengkapan atribut SPMB kepada calon siswa baru. Melalui inisiasi ini, MI Muhammadiyah 25 Surabaya membuktikan bahwa penyambutan siswa baru bukan sekadar urusan administrasi, melainkan langkah awal penyamaan visi untuk mengantarkan generasi masa depan yang tangguh, berilmu, dan berakhlak mulia. (Siti Islaha)

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article