Salinan dari Donasi Pembangunan Masjid Poster
Wednesday, June 24, 2026
Salinan dari Donasi Pembangunan Masjid Poster

Raker dan Gathering SD Muhammadiyah 10 Surabaya di Batu: Meneguhkan Tiga Filosofi Pendidikan Muhammadiyah

Must read

Batu, wartapoint-Suasana sejuk Kota Batu menyambut langkah para guru dan karyawan SD Muhammadiyah 10 Surabaya (Mumtas) yang mengikuti kegiatan Rapat Kerja dan Gathering selama dua hari satu malam di Crystal Inn Hotel Batu, Jawa Timur, pada 22–23 Juni 2026. Kegiatan yang diikuti seluruh pendidik dan tenaga kependidikan tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat semangat kebersamaan, meningkatkan kualitas layanan pendidikan, sekaligus menyusun langkah strategis sekolah menghadapi tahun pelajaran baru.

Hadir dalam kesempatan tersebut Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Simokerto Surabaya, Sudarusman, yang memberikan tausiyah sekaligus membuka kegiatan secara resmi.

Sebelum menyampaikan sambutannya, Sudarusman mengajak seluruh peserta merenungkan makna Surat Al-Insyirah ayat 5 dan 6 yang berbunyi, “Fa inna ma’al ‘usri yusrā, inna ma’al ‘usri yusrā”—sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.

“Dalam setiap kesulitan selalu ada kemudahan. Mau bekerja keras, mau bersusah payah, justru di situlah letak keindahan perjuangan,” ujarnya. Kalimat sederhana itu langsung menghidupkan suasana ruangan. Para guru tampak menyimak dengan penuh perhatian, seolah menemukan energi baru untuk menjalani amanah pendidikan yang tidak selalu mudah.

Dalam pemaparannya, pria yang pernah menjadi kepala SMAM X Surabaya ini menjelaskan tiga filosofi utama bekerja di Muhammadiyah. Pertama adalah ikhlas, yang menjadi ruh seluruh amal dan pengabdian. Menurutnya, pekerjaan yang dilakukan tanpa keikhlasan akan terasa berat dan melelahkan. Sebaliknya, ketika ikhlas menjadi landasan, setiap tugas akan terasa lebih ringan dan bernilai ibadah.

Filosofi kedua adalah profesional tanpa pamrih. Dengan gaya khas yang diselingi humor, ia mengundang senyum peserta saat mengatakan bahwa profesional saja kadang diukur dengan pertanyaan “wani piro”. Namun profesionalisme yang dibangun tanpa pamrih akan melahirkan kemajuan yang berkelanjutan.

Guru yang terus belajar, mengikuti pelatihan, membeli buku, hingga melanjutkan pendidikan merupakan wujud nyata profesionalisme yang membawa manfaat besar bagi sekolah dan peserta didik.lanjutnya.

Adapun filosofi ketiga adalah inklusif, yaitu pendidikan Muhammadiyah yang terbuka bagi semua kalangan tanpa membedakan latar belakang peserta didik. Sekolah harus menjadi rumah yang ramah, aman, dan nyaman bagi setiap anak.

Pada kesempatan itu, Sudarusman juga mengulas kebijakan terbaru tentang budaya sekolah yang aman, nyaman, dan berpihak kepada anak. Ia menegaskan bahwa pendidikan sejati adalah pendidikan yang menghargai fitrah setiap anak. Setiap peserta didik memiliki potensi, bakat, dan keunikan yang berbeda sehingga sekolah perlu menghadirkan pembelajaran yang mampu menumbuhkan seluruh potensi tersebut.

Menurutnya, pendidikan berbasis fitrah tidak hanya menekankan penguasaan akademik, tetapi juga membangun tiga kecakapan penting abad ke-21, yaitu literasi data, literasi teknologi, dan literasi humanisme. Literasi humanisme inilah yang melahirkan adab, empati, simpati, serta kemampuan hidup berdampingan dengan sesama.

Ia pun mengajak seluruh guru Mumtas untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat. “Guru yang baik tidak mudah marah ketika dikritik, tidak sibuk mencari kekurangan orang lain, tetapi selalu melihat sisi baik yang bisa dikembangkan,” pesannya.

Suasana yang hangat dan penuh keakraban membuat sesi pembukaan berlangsung hidup. Sesekali tawa peserta pecah saat pemateri menyampaikan kisah-kisah yang dekat dengan kehidupan guru. Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan, menandakan bahwa semangat untuk terus bertumbuh dan memberikan layanan pendidikan terbaik tetap menyala di lingkungan Mumtas.

Di tengah kesejukan Batu, para pendidik itu tidak hanya menyusun program kerja, tetapi juga meneguhkan kembali nilai-nilai keikhlasan, profesionalisme, dan kemanusiaan sebagai fondasi utama dalam mendidik generasi masa depan.

(Abu Saffa)

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article