
Surabaya, wartapoint – Talkshow Milad ke-109 ‘Aisyiyah Kota Surabaya menjadi salah satu sesi penting dalam rangkaian puncak milad yang digelar di Universitas Muhammadiyah Surabaya, Ahad, 20 Muharram 1448 H/5 Juli 2026 M. Mengangkat tema “Memperkokoh Dakwah Kemanusiaan untuk Mewujudkan Perdamaian”, talkshow ini menghadirkan tiga narasumber dengan sudut pandang berbeda, tetapi saling melengkapi dalam membahas peran dakwah Islam, gerakan perempuan berkemajuan, serta filantropi sosial.
Talkshow yang dipandu oleh Endang Mulyani Putro tersebut berlangsung dalam satu sesi diskusi dengan menghadirkan Dr. H. M. Sholihin Fanani, M.PSDM, Wakil Ketua PWM Jawa Timur; Dra. Siti Dalilah Candrawati, M.Ag, Wakil Ketua PWA Jawa Timur; serta Faisal Haqqi, S.E, Ketua Lazismu Kota Surabaya. Ketiganya membahas dakwah kemanusiaan dari perspektif Islam, peran ‘Aisyiyah, dan gerakan filantropi untuk memperkuat kehidupan umat.
Dalam pemaparannya, Dr. H. M. Sholihin Fanani menjelaskan bahwa dakwah Islam harus dipahami sebagai jalan untuk menghadirkan rahmat, rida, hidayah, dan keselamatan dari Allah Swt. Ia mengibaratkan konsep dakwah sebagai upaya mencari Pak Rahmat, Pak Ridho, Pak Hidayat, dan Pak Slamet. Makna dari ungkapan tersebut adalah bahwa dakwah tidak hanya bertujuan menyampaikan ajaran agama, tetapi juga menghadirkan kasih sayang, mencari rida Allah, mengantarkan manusia kepada petunjuk, serta membawa keselamatan dalam kehidupan.
Ia juga mengawali materinya dengan mengingatkan pentingnya Al-Qur’an sebagai pedoman kehidupan. Salah satunya melalui QS. Al-Anbiya ayat 10:
لَقَدْ أَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ كِتَابًا فِيهِ ذِكْرُكُمْ ۖ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa Al-Qur’an memuat kemuliaan, pelajaran, dan petunjuk bagi manusia. Selain itu, ia juga mengaitkan dakwah kemanusiaan dengan QS. Saba ayat 28:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
Melalui ayat tersebut, dakwah dipahami sebagai ajakan yang bersifat universal, membawa kabar gembira, peringatan, dan nilai kebaikan bagi seluruh manusia.
Lebih lanjut, Dr. Sholihin menegaskan bahwa dakwah kemanusiaan dalam Islam merupakan dakwah yang berorientasi pada pelayanan sosial, kasih sayang, dan keadilan tanpa membedakan agama, golongan, maupun latar belakang sosial. Dakwah semacam ini tidak berhenti pada ceramah, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang menyentuh kebutuhan masyarakat.
Menurutnya, strategi dakwah kemanusiaan perlu mengintegrasikan pesan spiritual, moral, dan sosial dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, warga Muhammadiyah perlu mengembangkan beberapa nilai penting, yaitu kolektivitas, humanitas, spiritualitas, moralitas, dan profesionalitas.
Dalam konteks profesionalitas, ia memperkenalkan enam ciri yang disebut dengan 6F, yaitu focus, fast, faith, fun, flexible, dan friendly. Keenam nilai tersebut menggambarkan pentingnya bekerja secara terarah, cepat, berlandaskan iman, menyenangkan, adaptif, serta ramah dalam membangun gerakan dakwah.
Dr. Sholihin juga menjelaskan bahwa kekuatan Muhammadiyah hingga saat ini ditopang oleh lima hal, yaitu manhaj, militansi, manajemen, meritokrasi, dan manfaat. Manhaj menjadi dasar dalam beragama, militansi menjadi semangat perjuangan, manajemen menjadi cara mengelola gerakan, meritokrasi menjadi prinsip penempatan peran sesuai kemampuan, sedangkan manfaat menjadi bukti nyata kehadiran Muhammadiyah di tengah masyarakat.
Sementara itu, Dra. Siti Dalilah Candrawati, M.Ag membahas Risalah Perempuan Berkemajuan serta peran ‘Aisyiyah dalam dakwah kemanusiaan untuk mewujudkan perdamaian. Ia menegaskan bahwa ‘Aisyiyah sebagai organisasi perempuan memiliki peran strategis dalam membangun kehidupan keluarga, masyarakat, dan umat.
Menurutnya, penguatan cabang dan ranting ‘Aisyiyah dapat dimulai dengan menghidupkan berbagai kegiatan yang bermanfaat. Dari kegiatan itulah gerakan dakwah dapat lebih terasa, lebih dekat, dan lebih mudah diterima oleh masyarakat. Ia juga menekankan bahwa organisasi ‘Aisyiyah tidak dapat dilepaskan dari keluarga, sehingga perubahan harus dimulai dari diri sendiri, keluarga, kemudian meluas kepada masyarakat.
Dalam materinya, Bu Candra menjelaskan nilai-nilai Risalah Islam Berkemajuan, di antaranya iman dan takwa, taat beribadah, akhlakul karimah, sikap tajdid, Islam wasathiyah, amaliyah shalihah, serta sikap inklusif. Nilai-nilai tersebut menjadi dasar bagi ‘Aisyiyah dalam menjalankan dakwah amar makruf nahi mungkar dan tajdid.
Ia juga mengingatkan bahwa dakwah tidak cukup hanya disampaikan melalui kata-kata, tetapi harus diwujudkan melalui keteladanan dan tindakan nyata. Hal ini sejalan dengan firman Allah Swt. dalam QS. As-Saff ayat 2:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ
Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa dakwah harus selaras antara ucapan dan perbuatan. Dengan demikian, gerakan dakwah ‘Aisyiyah diharapkan tidak hanya hadir di mimbar, tetapi juga turun langsung menjawab persoalan masyarakat.
Narasumber ketiga, Faisal Haqqi, S.E, memaparkan peran filantropi Lazismu dalam mendukung dakwah kemanusiaan. Ia menjelaskan bahwa Lazismu memiliki enam pilar utama dalam penyaluran dan pendayagunaan dana zakat, infak, dan sedekah, yaitu pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial dakwah, kemanusiaan, dan lingkungan hidup.
Pada bidang pendidikan, Lazismu berperan dalam peningkatan mutu sumber daya manusia dan pemenuhan kebutuhan pendidikan, seperti program beasiswa. Pada bidang kesehatan, Lazismu mendukung akses layanan kesehatan bagi masyarakat yang membutuhkan. Sementara pada bidang ekonomi, Lazismu turut mendorong pemberdayaan UMKM dan peningkatan kesejahteraan penerima manfaat.
Selain itu, pilar sosial dakwah diarahkan untuk penguatan ruhani dan pembinaan keagamaan. Pilar kemanusiaan diwujudkan melalui bantuan tanggap darurat, penanganan bencana, dan respons terhadap berbagai musibah. Adapun pilar lingkungan hidup menjadi bagian dari komitmen Lazismu dalam menjaga alam, mengurangi dampak perubahan iklim, dan meningkatkan kualitas lingkungan.
Sesi talkshow semakin hidup ketika peserta mengajukan pertanyaan mengenai peran keluarga, khususnya tentang keterlibatan ayah dalam mengayomi anak. Menanggapi hal tersebut, narasumber menekankan bahwa keluarga memiliki peran besar dalam pembentukan karakter anak. Ibu memang sering disebut sebagai madrasah pertama bagi anak, sebagaimana ungkapan al-ummu madrasatul ula, tetapi pendidikan anak tetap menjadi tanggung jawab bersama antara ayah dan ibu.
Dalam pembahasan tersebut, keluarga disebut memiliki pengaruh besar dalam membentuk kepribadian anak, disusul oleh pendidikan dan lingkungan. Karena itu, orang tua perlu hadir dalam momen-momen penting anak, seperti saat menjelang tidur dan ketika makan bersama. Momen sederhana tersebut dapat menjadi waktu yang baik untuk memberi nasihat, membangun kedekatan, dan menanamkan nilai kebaikan.
Pesan tersebut juga dikuatkan dengan QS. An-Nisa ayat 9:
وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
Ayat ini menjadi pengingat agar orang tua tidak meninggalkan generasi yang lemah, baik secara iman, akhlak, ilmu, maupun kesiapan hidup. Oleh karena itu, pendidikan keluarga menjadi bagian penting dari dakwah kemanusiaan.
Melalui talkshow ini, para narasumber menegaskan bahwa dakwah kemanusiaan bukan sekadar konsep, melainkan gerakan nyata yang harus diwujudkan dalam pendidikan, kesehatan, kepedulian sosial, penguatan keluarga, serta pemberdayaan masyarakat. Dengan semangat Milad ke-109, ‘Aisyiyah Kota Surabaya diharapkan terus menjadi gerakan perempuan berkemajuan yang menghadirkan manfaat, persaudaraan, dan perdamaian bagi kehidupan umat. (Mom Yayuk/yupan)





