
Jakarta, wartapoint – Pendekatan Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah dalam membangun perdamaian melalui aksi lingkungan lintas iman menuai apresiasi positif dari Delegasi Kedutaan Besar Kerajaan Belanda.
Pendekatan yang diinisiasi melalui program “Eco Bhinneka Muhammadiyah” tersebut dinilai berhasil menciptakan ruang kolaborasi nyata bagi masyarakat dari berbagai latar belakang agama sekaligus memperkuat kebebasan beragama atau berkeyakinan (Freedom of Religion or Belief/FoRB).
Apresiasi itu disampaikan langsung dalam dialog bertajuk “Building Peace through Interfaith Collaboration” yang digelar di Kantor PP Muhammadiyah, Jakarta, Rabu (8/7/2026).
Delegasi Belanda dipimpin oleh HE Paul Bekkers (Ambassador and Special Envoy for FoRB), didampingi Zilla Boyer (Second Secretary for Political Affairs), dan Edwin Arifin (Senior Policy Advisor). Kedatangan mereka disambut oleh Direktur Eco Bhinneka Muhammadiyah Hening Parlan, Ketua Himpunan Difabel Muhammadiyah (HIDIMU) Fajri Hidayatullah, serta jaringan anak muda lintas iman.
Titik Temu Lewat Isu Lingkungan
Direktur Eco Bhinneka Muhammadiyah, Hening Parlan, menjelaskan bahwa dialog lintas iman tidak boleh berhenti di meja diskusi, melainkan harus diwujudkan dalam kerja nyata guna menjawab persoalan di masyarakat. Oleh karena itu, isu lingkungan hidup dipilih sebagai titik temu.
“Melalui kegiatan seperti pengelolaan sampah, konservasi, pemberdayaan perempuan, hingga transisi energi, masyarakat dari berbagai agama dapat bekerja bersama tanpa melihat perbedaan identitas,” ujar Hening.
Selama enam tahun terakhir, gerakan ini telah memicu berbagai praktik baik di daerah, di antaranya:
- Pendampingan SMA Muhammadiyah Conservation di Manokwari: Wadah belajar bersama bagi siswa multiman untuk menjaga kelestarian alam.
- Gerakan 1000 Cahaya: Program efisiensi dan transisi energi bersih di tempat ibadah (masjid), sekolah, hingga pesantren.
- Pendekatan Ekofeminisme: Mempertemukan tokoh agama dan kelompok muda untuk isu keadilan lingkungan.
Indonesia Jadi Ruang Belajar Inklusi bagi Dunia
Duta Besar Paul Bekkers menegaskan bahwa kebebasan beragama adalah bagian mendasar dari hak asasi manusia. Menurutnya, apa yang dilakukan Eco Bhinneka Muhammadiyah membuktikan bahwa dialog antarummat beragama menjadi jauh lebih bermakna ketika menyentuh aksi sosial kemasyarakatan, terutama dengan melibatkan generasi muda.
”Indonesia memiliki pengalaman yang sangat berharga. Ketika orang-orang dari berbagai agama bekerja bersama, mereka tidak hanya saling mengenal, tetapi juga membangun kepercayaan. Pengalaman seperti ini penting untuk terus diperkuat,” kata Paul.
Pihak Kedutaan Besar Belanda pun menegaskan komitmennya untuk melanjutkan kerja sama penguatan FoRB di Indonesia melalui Program Joint Initiative for Strategic Religious Action (JISRA). Zilla Boyer menambahkan, praktik baik di Indonesia ini menjadi pembelajaran berharga bagi negara-negara lain di dunia yang tengah menghadapi tantangan dalam merawat keberagaman.
Merawat Bumi, Menembus Sekat Perbedaan
Manfaat ruang inklusif ini dirasakan langsung oleh Kristina Damayanti, pemuda dari Gereja Kristen Indonesia (GKI) yang bergabung dalam komunitas Sederek Eco Bhinneka Surakarta. Ia mengaku menemukan ruang aman untuk bersahabat dan bertumbuh bersama pemuda Muslim dan agama lainnya.
Senada dengan Kristina, perwakilan anak muda lintas iman, Ghifari Misbahudin, menyebut isu lingkungan hidup bersifat universal sehingga mampu menyatukan ego kelompok.
”Perubahan iklim tidak memilih korbannya. Karena itu, merawat bumi menjadi ruang bersama untuk saling mengenal, bekerja sama, dan membangun kepercayaan,” tegas Ghifari.
Di sisi lain, aspek inklusivitas program ini juga menyentuh kelompok rentan. Ketua HIDIMU, Fajri Hidayatullah, mengingatkan bahwa kebebasan beragama harus memastikan pemenuhan hak kelompok disabilitas. Bersama Eco Bhinneka, HIDIMU terus mendorong lahirnya rumah ibadah yang ramah difabel serta akses partisipasi yang setara di berbagai sektor kehidupan.
Pertemuan yang berlangsung hangat tersebut ditutup dengan penampilan apik dari Vocal Group GPIB Pancoran Rahmat Depok yang membawakan lagu-lagu bertema persaudaraan. Melalui kolaborasi ini, Muhammadiyah dan Kerajaan Belanda sepakat bahwa menjaga bumi sebagai rumah bersama dapat berjalan beriringan dengan misi menciptakan perdamaian global yang inklusif. (yupan)





