Surabaya, wartapoint – Mengawali tahun ajaran baru 2026/2027, KB Aisyiyah 7 dan TK Aisyiyah 31 menggelar kegiatan parenting education sekaligus sosialisasi program sekolah. Acara yang dihadiri oleh lebih dari 50 orang tua murid ini menghadirkan praktisi pendidikan, Najib Sulhan, sebagai narasumber utama untuk membedah tema krusial: “Mendidik Anak di Era Digital Native”.
Dalam sesi tersebut, Najib membuka pemaparan dengan melemparkan dua pertanyaan reflektif kepada para peserta. Pertanyaan pertama, “Siapa yang tidak punya HP?”, langsung disambut keheningan dan senyum simpul dari para orang tua. Diamnya audiens menjadi jawaban mutlak bahwa gawai telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.
”Dengan semua orang tua memiliki gawai, artinya gawai kini sudah menjadi kebutuhan pokok. Oleh karena itu, orang tua harus bisa memanfaatkannya dengan bijak dan tetap waspada dalam penggunaan sehari-hari,” ujar Najib.
Ketergantungan terhadap teknologi semakin nampak saat Najib melontarkan pertanyaan kedua mengenai aktivitas pertama yang dilakukan setelah bangun tidur. Hampir 50 persen orang tua menjawab serempak bahwa mereka langsung memeriksa ponsel dengan berbagai alasan, mulai dari melihat waktu hingga mengecek pesan masuk.
Meneladani Keluarga Imran di Era Digital
Melihat fenomena tersebut, Najib mengajak para orang tua untuk kembali menengok konsep pendidikan keluarga yang termaktub dalam Al-Qur’an, khususnya kisah keluarga Imran. Ia menekankan bahwa meskipun Imran bukan seorang nabi maupun rasul, namanya diabadikan menjadi sebuah surah dengan 200 ayat karena keberhasilannya dalam mendidik keluarga.
Merujuk pada Surah Ali Imran ayat 35-37, Najib merinci lima pesan indah yang seharusnya menjadi panduan orang tua masa kini dalam mengasuh anak:
- Bernazar sejak dalam kandungan: Menyiapkan niat tulus untuk kebaikan anak bahkan sebelum ia lahir.
- Berpikir positif: Senantiasa berprasangka baik atas anak yang telah diamanahkan oleh Allah SWT.
- Memberikan nama terbaik: Menyadari bahwa nama adalah doa dan identitas awal anak.
- Memohon perlindungan: Berdoa agar anak diproteksi dari pengaruh buruk setan dan lingkungan.
- Menghadirkan pendamping yang tepat: Memastikan ada guru atau mentor yang mampu membimbing tumbuh kembang anak.
Dalam kisah tersebut, Allah SWT menunjuk Nabi Zakariya sebagai pendamping Maryam. Kedahsyatan doa Hana (ibu Maryam) membuat pemenuhan kebutuhan Maryam di dalam mihrab selalu tercukupi atas izin Allah, menunjukkan betapa besarnya kekuatan spiritual seorang ibu.
Anak sebagai Peniru yang Hebat
Di akhir paparannya, Najib mengingatkan bahwa di era digital native ini, peran aktif orang tua jauh lebih vital. Anak-anak merupakan peniru yang sangat ulung. Mereka merekam, meniru, dan mempraktikkan apa yang mereka dengar, lihat, dan rasakan dari orang-orang terdekatnya.
”Dari apa yang didengar, anak bisa menirukan. Dari apa yang dilihat, anak bisa berbuat. Bahkan dari apa yang dirasakan, anak bisa mengungkapkan. Itulah mengapa kewaspadaan dan pendampingan ekstra di era digital ini menjadi harga mati,” tegasnya.
Setelah sesi parenting yang interaktif tersebut selesai, acara dilanjutkan dengan sosialisasi program kerja dan kurikulum KB Aisyiyah 7 serta TK Aisyiyah 31 untuk menyelaraskan visi antara pihak sekolah dan orang tua murid selama satu tahun ajaran ke depan. (yupan)






