
Surabaya, wartapoint – Sekitar 200 jamaah memadati Masjid Raya Islamic Center Surabaya untuk mengikuti kajian rutin Jamaah Qalbun Salim. Mengangkat tema “Bahagia di Masa Senja dengan Zikir dan Syukur”, kajian yang berlangsung khidmat ini menghadirkan ustaz dan akademisi H. Muhamad Jemadi, S.Ag., M.A., M.Pd. sebagai penceramah utama.
Dalam pemaparannya, Jemadi menegaskan bahwa indikator kebahagiaan sejati dalam Islam sama sekali tidak diukur dari banyaknya harta, tingginya kedudukan, atau stamina fisik semata, melainkan dari ketenangan hati yang lahir akibat kedekatan diri kepada Allah SWT.
”Orang yang bahagia bukanlah orang yang tidak pernah diuji, tetapi orang yang tetap mampu mengingat Allah, bersyukur ketika memperoleh nikmat, dan bersabar ketika menghadapi musibah,” ujar Jemadi.
Membedah Konsep Bahagia Menurut Ulama Klasik
Untuk memperkuat pemahamannya, Jemadi mengutip pandangan sejumlah ulama besar Islam terkait makna kebahagiaan hakiki, yakni:
- Ibnu Taimiyah: Kebahagiaan sejati adalah ketika hati senantiasa dekat dengan Allah. Beliau menyebut ketenangan hati dari keimanan dan zikir sebagai “surga dunia” yang dirasakan seorang mukmin sebelum meraih surga di akhirat.
- Ibnu Qayyim al-Jauziyyah: Zikir merupakan bahan bakar dan kehidupan bagi hati. Hati yang hampa dari zikir akan mudah gelisah meskipun berada dalam kemewahan dunia.
- Imam Al-Ghazali: Kebahagiaan puncak tercapai ketika manusia mengenal Allah (ma’rifatullah), mencintai-Nya, serta menjadikan ibadah sebagai muara ketenteraman jiwa.
Tiga Pilar Kebahagiaan Masa Senja
Secara khusus bagi jamaah yang memasuki usia lanjut, Jemadi membeberkan tiga pilar utama yang wajib dimiliki untuk meraih ketenangan hidup, diantarnya:
- Iman yang Kokoh – Menjadi fondasi utama agar jiwa tidak mudah goyah oleh perubahan zaman dan kondisi fisik.
- Sikap Qanaah – Senantiasa merasa cukup atas karunia yang ada, sehingga terhindar dari sifat iri, dengki, dan gemar berkeluh kesah.
- Ridha terhadap Takdir – Lapang dada menerima setiap ketetapan Allah dengan keyakinan penuh bahwa segala takdir-Nya menyimpan hikmah terbaik.
Tiga Dimensi Syukur dan Terapi Hati
Tak hanya teori, Jemadi juga memperjelas manifestasi syukur yang terbagi dalam tiga dimensi konkret:
- Syukur Hati: Meyakini secara penuh bahwa seluruh nikmat mutlak berasal dari Allah SWT.
- Syukur Lisan: Membiasakan diri mengucap Alhamdulillah dan memuji-Nya dalam berbagai situasi.
- Syukur Perbuatan: Mengaplikasikan nikmat lewat amal saleh, memperbanyak ibadah, merawat silaturahmi, serta membantu sesama.
Di penghujung sesi, Jemadi mengajak seluruh jamaah untuk menjadikan zikir harian sebagai terapi jiwa paling efektif di masa lanjut usia. Ia menyarankan amalan ringan namun berbobot seperti istighfar, tasbih, tahmid, takbir, tahlil, hauqalah, dan shalawat yang bisa dilafalkan kapan saja—baik setelah salat, saat beraktivitas, maupun beristirahat.
Kajian rutin ini kemudian ditutup dengan doa bersama. Para jamaah khusyuk memohon kesehatan, keberkahan usia, keistiqamahan hati dalam berzikir, serta karunia akhir hayat yang husnul khatimah. (yupan)





