Hari Anak Nasional 2026, ‘Aisyiyah Jatim Beri Motivasi dan Harapan bagi Anak Binaan LPKA Blitar

Must read

Blitar, wartapoint – Pengurus Wilayah (PW) ‘Aisyiyah Jawa Timur menggemakan pesan harapan dan optimisme saat mengunjungi Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kabupaten Blitar, Jawa Timur, Selasa (21/7/2026). Kunjungan yang digelar dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional 2026 tersebut bertujuan untuk memberikan dukungan moral dan motivasi bagi ratusan anak binaan.

​Dalam kegiatan yang diinisiasi oleh pimpinan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah ini, para pengurus menekankan pentingnya melihat masa depan dengan penuh keyakinan, tanpa terbelenggu oleh kesalahan di masa lalu.

​Kesempatan untuk Memperbaiki Diri

​Ketua PW ‘Aisyiyah Jawa Timur, Rukmini, mengajak seluruh anak binaan untuk tetap bersyukur dan memanfaatkan waktu pembinaan di LPKA sebagai momen berharga untuk membenahi diri. Menurutnya, masa lalu bukanlah penentu akhir keberhasilan seseorang.

​”Teruslah bersyukur. Kalian masih memiliki kesempatan belajar dan memperbaiki diri di sini. Di luar sana, justru semakin banyak anak yang harus menjalani perawatan di rumah sakit jiwa. Karena itu, manfaatkan waktu ini untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik,” ujar Rukmini.

​Rukmini menegaskan bahwa setiap anak memiliki peluang yang sama untuk meraih cita-cita, selama ada kemauan keras untuk berubah. Keberhasilan, lanjut dia, tidak dapat diraih secara instan, melainkan membutuhkan proses panjang, latihan, serta ketekunan.

​Ia menyimulasikan pencapaian tersebut seperti para atlet profesional di ajang internasional. “Lihat saja pemain yang berhasil mencetak gol di ajang Piala Dunia, semua itu lahir dari proses latihan yang panjang. Kalau mau tekun, gigih, dan terus berlatih, pasti akan menemukan jalan menuju keberhasilan,” tuturnya.

​Pemenuhan Hak dan Pendampingan Anak

​Pada kesempatan yang sama, Wakil Ketua PW ‘Aisyiyah Jatim, Budiyati, menyampaikan bahwa keberadaan anak-anak di LPKA tidak mengurangi hak-hak dasar mereka sebagai anak. Kehadiran ‘Aisyiyah adalah untuk memberikan merangkul dan mendampingi, bukan untuk menghakimi.

​Budiyati menegaskan bahwa setiap anak berhak atas:

  • ​Perlindungan dan kasih sayang
  • ​Akses pendidikan yang memadai
  • ​Asupan makanan yang sehat dan bergizi
  • ​Pembinaan serta kesempatan menata masa depan
  • Pengutamaan kepentingan terbaik bagi anak (the best interests of the child).
  • Penghormatan terhadap martabat anak.
  • Perlindungan privasi dan kerahasiaan identitas anak binaan.

“Kehadiran kami hari ini bukan untuk menghakimi, tetapi untuk memberikan dukungan, motivasi, dan harapan agar mereka tetap semangat belajar, memperbaiki diri, dan mengembangkan potensinya,” kata Budiyati yang juga menjabat sebagai Koordinator Bidang Majelis Kesejahteraan Sosial (MKS) dan Majelis Hukum dan HAM (MHH) PW ‘Aisyiyah Jatim.

​Implementasi Fikih Perlindungan Anak

​Kunjungan dan rangkaian pendampingan ini juga menjadi bentuk aksi nyata dari implementasi Fikih Perlindungan Anak yang diusung oleh Muhammadiyah. Pendekatan ini mengedepankan beberapa prinsip utama, antara lain:

  1. Pengutamaan kepentingan terbaik bagi anak (the best interests of the child).
  2. Penghormatan terhadap martabat anak.
  3. Perlindungan privasi dan kerahasiaan identitas anak binaan.

​Melalui sinergi pendidikan, pelatihan keterampilan, dan dukungan psikologis dari berbagai pihak, para anak binaan diharapkan dapat kembali ke tengah masyarakat dengan rasa percaya diri. Bekal kemampuan dan mental yang tangguh menjadi modal utama mereka untuk menyongsong masa depan yang lebih baik.(Mom Yayuk/yupan)

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article