Benarkah Kita Sudah Menjadi Guru yang Baik?

Must read

- Advertisement -

Surabaya, wartapoint – Pertanyaan “Benarkah kita sudah menjadi guru yang baik?” sepintas terdengar sederhana. Namun, di balik kalimat tersebut tersimpan makna mendalam yang menuntut refleksi kritis atas realitas dunia pendidikan saat ini.

​Gagasan ini ditegaskan oleh Ustadz Jatim, selaku Penelitian dan Pengembangan (Litbang) SD Muhammadiyah 29 Surabaya. Menurutnya, pembahasan mengenai sosok guru seakan tak pernah usai—mulai dari tugas pokok dan fungsi (tupoksi), status, kompetensi, hingga capaian prestasi. Namun, poin paling krusial justru terletak pada implementasi peran guru sebagai seorang pendidik di lapangan.

​Mendidik vs Mengajar: Memahami Beda Karakter dan Transfer Ilmu

​Berdasarkan UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, tugas utama guru mencakup tiga hal: mendidik, mengajar, dan membimbing. Namun, Ustadz Jatim menyoroti bahwa hasil pendidikan nasional saat ini masih dihadapkan pada tantangan besar.

​Banyak orang tua mengeluhkan fenomena pergeseran perilaku anak—seperti lunturnya kesopanan, berkurangnya empati, hingga sikap acuh tak acuh terhadap keluarga yang dipicu oleh ketergantungan pada gadget (game online).

“Kita perlu merumuskan kembali perbedaan mendasar antara pendidikan dan pengajaran,” tegas Ustadz Jatim.

Pendidikan berfokus pada pembentukan karakter, moral, attitude, serta adab yang membutuhkan waktu dan pembiasaan konsisten.

Pengajaran lebih menekankan pada proses transfer ilmu pengetahuan (knowledge transfer) dalam durasi waktu yang relatif singkat.

Terjebak Rutinitas dan Mengabaikan Isyarat Perubahan Siswa

​Dalam amatannya, tak sedikit pendidik yang terjebak dalam rutinitas administratif dan mengabaikan sisi kemanusiaan siswa.

​Ia mengajak para guru untuk berani melakukan introspeksi melalui pertanyaan-pertanyaan mendasar:

  • Sudahkah kita menggali alasan saat siswa yang biasanya aktif mendadak menjadi pendiam?
  • Pernahkah kita mencari tahu penyebab anak sering mengantuk di dalam kelas?
  • Sudahkah kita mendekati siswa yang mudah marah hingga menemukan akar masalahnya?
  • Peran Orang Tua: Memberikan pengayoman, kehangatan, serta pengawasan tumbuh kembang anak secara bijak agar anak tidak kehilangan arah.
  • Peran Guru: Tidak sekadar menjadi pengajar, tetapi bertransformasi menjadi pendidik sejati yang digugu lan ditiru (dipercaya dan diteladani).

“Guru sejati adalah sosok yang dicintai peserta didik karena keteladanan, kelembutan, kesabaran, serta kemampuannya memberikan motivasi dan inspirasi yang dikenang sepanjang hayat,” pungkasnya.

Rilis Opini: Litbang SD Muhammadiyah 29 Surabaya (Ustadz Jatim)

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article