
Surabaya, wartapoint — Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Surabaya menggelar Safari Subuh di Masjid Al-Ikhlash, Jl. Jelidro, Kecamatan Sambikerep, Surabaya, pada Minggu (16/8). Dalam tausiahnya, Ustadz Jufri Mustafa, S.Ag, M.Pd.I, mengupas makna filosofis angka 17 yang dinilai memiliki korelasi kuat antara kehidupan berbangsa dan beragama. Menurutnya, angka 17 merangkum tiga dimensi spiritual dan nasionalisme yang patut direnungkan oleh setiap warga negara sekaligus umat Islam.
Tiga Dimensi Filosofis Angka 17
- Kedaulatan Bangsa Indonesia: Angka 17 menandai tanggal 17 Agustus sebagai momentum lepasnya bangsa dari penjajahan. Nikmat kemerdekaan ini patut disyukuri dengan memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan Indonesia.
- Jumlah Rakaat Salat Fardhu: Angka 17 mewakili total rakaat salat lima waktu yang wajib dijalani setiap hari. Konsistensi dalam menjaga salat menjadi tolok ukur kedisiplinan serta jaminan keselamatan di dunia dan akhirat.
- Peristiwa Nuzulul Qur’an: Angka 17 merujuk pada tanggal 17 Ramadhan sebagai hari turunnya Al-Qur’an. Kitab suci ini wajib dijadikan pedoman utama agar umat berada dalam golongan orang yang beriman dan bertakwa.
Peringatan Ancaman Neraka Saqr
Ustadz Jufri menekankan bahwa meninggalkan salat fardhu mendatangkan konsekuensi berat di akhirat. Ia mengutip Surah Al-Muddassir ayat 42–43:
“Apa yang memasukkan kamu ke dalam Neraka Saqr? Mereka menjawab: ‘Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang melaksanakan shalat.’”
Pesan tersebut menjadi pengingat tegas agar jamaah tidak mengabaikan kewajiban salat. Kegiatan Safari Subuh yang dihadiri masyarakat sekitar ini berlangsung khidmat dan diakhiri dengan doa bersama untuk kemaslahatan umat serta bangsa. (Rudy/yupan)
#beritanasional #indonesia #jawatimur #surabaya #muhammadiyah





