Kader Pesisir untuk Negeri

Must read

- Advertisement -

Surabaya, wartapoint — Semangat pengabdian dan persatuan lintas organisasi menjadi warna dalam kepengurusan Pimpinan Cabang Dewan Masjid Indonesia (PC DMI) Kecamatan Sukolilo periode 2026–2031. Salah satunya ditunjukkan Ahmad Mahmudi, M.Pd., kader Muhammadiyah dari kawasan pesisir Lamongan yang kini mengambil bagian dalam pengabdian keumatan di Surabaya.

Kiprah tersebut mengemuka dalam silaturahmi PC DMI Kecamatan Sukolilo dengan Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Sukolilo di Graha Masyitah, Jalan Menur Pumpungan No. 34, Surabaya, Jumat (21/8/2026).

Ahmad Mahmudi sebelumnya aktif di Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Lamongan. Kini, ia berkiprah sebagai guru di Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 16 Surabaya sekaligus mengambil peran dalam kepengurusan DMI Kecamatan Sukolilo.
Bagi Ahmad Mahmudi, keterlibatan tersebut menjadi bagian dari perjalanan pengabdian yang tidak berhenti pada batas daerah maupun organisasi. Pengalaman berorganisasi di kawasan pesisir Lamongan menjadi bekal untuk berkontribusi di tengah masyarakat yang lebih luas.

Ketua PC DMI Kecamatan Sukolilo, Drs. H. Barokah, M.Pd., mengatakan kepengurusan DMI periode 2026–2031 dibangun dengan semangat kebersamaan dan keterwakilan berbagai organisasi kemasyarakatan Islam.
“Pengurus PC DMI Kecamatan Sukolilo periode 2026–2031 dari berbagai unsur ormas. Insyaallah, masing-masing ormas sudah ada yang mewakili,” ujar H. Barokah.

Ketua KUA Kecamatan Sukolilo, H. Ahmad Tholhah, S.Ag., M.Ag., yang juga Ketua Lembaga Dakwah Khusus (LDK) PWM Jawa Timur, menyambut baik komposisi tersebut. Menurutnya, keberagaman organisasi merupakan kekuatan untuk membangun kemaslahatan bersama.
“DMI ini adalah milik bersama. Semua ormas Islam bersatu untuk membangun kemaslahatan umat,” kata Ahmad Tholhah.

Ia menilai semangat kebersamaan tersebut sejalan dengan kehidupan masyarakat Indonesia yang dibangun atas keberagaman dan gotong royong.
“Dari NU ada yang mewakili, dari LDII juga ada yang mewakili, dari Muhammadiyah diwakili oleh anak muda yang enerjik,” ujarnya.

Ahmad Tholhah secara khusus menyampaikan pesan kepada kader Muhammadiyah agar berani mengambil peran dalam ruang pengabdian yang lebih luas.
“Kader Muhammadiyah harus berperan aktif dalam organisasi keagamaan,” tegasnya.

Menurutnya, kader Muhammadiyah tidak cukup hanya aktif di lingkungan internal persyarikatan. Kader juga perlu hadir dalam berbagai organisasi sosial-keagamaan untuk memperkuat persaudaraan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Jangan hanya aktif di lingkungan sendiri. Ketika ada ruang untuk berkontribusi bagi umat, kader Muhammadiyah harus hadir,” katanya.

Pesan tersebut memiliki kedekatan tersendiri karena Ahmad Tholhah dan Ahmad Mahmudi sama-sama memiliki latar belakang dari Paciran, Lamongan. Keduanya kemudian melanjutkan pengabdian di Surabaya melalui ruang yang berbeda.

Dari kawasan pesisir Lamongan, Ahmad Mahmudi membawa pengalaman aktivitas kepemudaan Muhammadiyah menuju ruang pengabdian yang lebih luas. Sementara Ahmad Tholhah juga membawa pengalaman dari daerah asalnya dalam membangun kehidupan keagamaan di Surabaya.

Pertemuan keduanya di forum DMI menjadi gambaran bahwa pengabdian kader tidak mengenal batas wilayah.
“Perbedaan ormas jangan menjadi penghalang untuk bekerja sama. Yang paling penting adalah bagaimana kita membangun kemaslahatan umat,” ujar Ahmad Tholhah.

Ia berharap DMI mampu menjadi ruang bersama untuk memperkuat persatuan umat sekaligus memberikan solusi terhadap berbagai persoalan kemasjidan.
“Konflik internal di masing-masing takmir harus menjadi perhatian. DMI harus hadir memberikan arahan dan membantu mencari solusi,” katanya.

Ia juga mendorong pembinaan imam rawatib, terutama peningkatan kemampuan tahsin Al-Qur’an.
“Pembinaan imam rawatib penting. Bacaan Al-Qur’an harus terus ditingkatkan agar kualitas pelayanan ibadah di masjid semakin baik,” ujarnya.

Kebersihan masjid juga menjadi perhatian. Menurutnya, masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga ruang pelayanan masyarakat yang harus dijaga kebersihan dan kenyamanannya.

Penyuluh Agama Islam Fungsional Kecamatan Sukolilo, Ust. Mochammad Abdullah, menambahkan bahwa persoalan kemasjidan memiliki dinamika yang terus berkembang.
“Konflik kemasjidan selalu dinamis. Karena itu, DMI harus mampu mengakomodasi setiap permasalahan masjid,” ujarnya.

Abdullah juga mengingatkan pentingnya pengawalan legalitas masjid.
“Masjid yang berdiri di tanahnya hijau, kita harus mengawal legalitasnya,” katanya.

Selain legalitas, ia menekankan pentingnya peran marbot dalam menjaga kesucian dan kebersihan masjid.
“Marbot harus bisa menjaga kesucian masjid. Ini bagian penting dari pengelolaan masjid,” ujarnya.

Kiprah Ahmad Mahmudi menjadi salah satu gambaran bahwa kader dari daerah dapat terus bergerak melampaui batas geografis. Dari pesisir Lamongan, pengalaman organisasi dibawa ke Surabaya untuk mengambil bagian dalam kehidupan sosial-keagamaan.

Semangat tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pengabdian kader Muhammadiyah dapat menjadi bagian dari energi kebangsaan: berbeda latar belakang, berbeda organisasi, tetapi tetap bertemu dalam satu tujuan, yakni memberikan manfaat bagi masyarakat dan menjaga persatuan Indonesia.
“Kader Muhammadiyah harus berperan aktif dalam organisasi keagamaan. Hadir, berkontribusi, dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” pungkas Ahmad Tholhah. (red)

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article