Menyiapkan Generasi Masa Depan di Era AI: Dari “Safe AI” Menuju “Developmental AI”

Must read

- Advertisement -

Bali, wartapoint — Pesatnya perkembangan teknologi Kecerdasan Buatan (AI) kini bukan lagi sebatas materi fiksi ilmiah, melainkan telah menjadi realitas kehidupan sehari-hari bagi generasi muda dan anak-anak. Menanggapi fenomena tersebut, Pengajar Universitas Muhammadiyah Gresik sekaligus Chancellor United in Diversity, Suyoto, menekankan pentingnya perubahan paradigma mendasar dalam mendampingi anak-anak berinteraksi dengan AI.

​Pandangan tersebut disampaikannya dalam catatan interaksi forum XI International Scholas Chairs Congress 2026 bertajuk “AI and Human Meaning” yang digelar di United in Diversity Bali Campus, Bali, 4–6 September 2026.

​”Sebagai orang tua, pendidik, dan pengurus pendidikan, kita tidak bisa lagi berdebat tentang apakah AI harus masuk ke dunia anak-anak kita. Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana kita memastikan adopsi AI ini benar-benar untuk kebaikan hidup mereka,” ujar Suyoto.

​Mengapa Harus “Developmental AI”?

​Menurut Suyoto, pendekatan lama yang sekadar berfokus pada “Safe AI” bersifat defensif karena hanya menekankan pembatasan, penyensoran, dan pemblokiran. Sebaliknya, dunia pendidikan dan pengasuhan membutuhkan paradigma “Developmental AI” (AI yang Mendukung Tumbuh Kembang).

​Pendekatan proaktif ini berfokus pada pemanfaatan AI untuk melejitkan potensi terbaik anak, melatih ketahanan emosional, serta merangsang kreativitas dan kemandirian berpikir.

​Lima Prinsip Utama Pendampingan Anak

​Guna menerapkan paradigma Developmental AI secara efektif, terdapat lima prinsip panduan bagi orang tua dan pendidik:

1. Pengembangan (Development & Engagement): Keberhasilan interaksi AI tidak diukur dari seberapa lama anak menatap layar (screen time). AI yang ideal bertugas memicu proses belajar, regulasi emosi, dan melatih anak untuk berpikir kritis dengan cara mengajukan pertanyaan, bukan sekadar memberi jawaban instan.

2. Koneksi, Bukan Substitusi (Connection and Not Substitution): AI tidak boleh menggantikan hubungan manusiawi yang sejati. Sebaliknya, AI harus dimanfaatkan sebagai jembatan untuk mempererat hubungan antara orang tua-anak, guru-murid, serta antar-teman sebaya. Sisi kemanusiaan seperti empati, kolaborasi, dan imajinasi tetap menjadi prioritas utama.

3. Membangun Agensi, Bukan Ketergantungan (Agency Not Dependency): AI bertindak sebagai mitra berpikir (sparring partner) untuk mempertajam penalaran, bukan sebagai joki tugas sekolah. Tujuannya adalah membentuk anak agar kian mandiri dan kritis dalam mengambil keputusan.

4. Perlindungan Privasi dari Eksploitasi (Privacy Not Exploitation): Data anak, khususnya data emosional, merupakan informasi yang sangat sensitif. Penyedia teknologi dituntut menerapkan etika tertinggi dan dilarang memanfaatkan kerentanan anak demi profil komersial atau iklan bertarget.

5. Transparansi dan Akuntabilitas (Transparency & Accountability): Interaksi AI harus terbuka. Anak-anak perlu menyadari kapan mereka berbicara dengan sistem AI. Selain itu, harus ada jalur intervensi langsung dari orang tua atau pendidik apabila AI memberikan rekomendasi yang tidak tepat.

    ​Manusia Tetap Memegang Kendali

    ​Menerapkan prinsip-prinsip tersebut bermuara pada satu tolok ukur utama: “AI-in-the-loop, Human-in-charge” (AI di dalam proses, manusia yang memegang kendali). AI menyediakan kecerdasan yang dapat diskalakan, namun penilaian (judgment), empati, dan tanggung jawab moral tetap berada di tangan manusia.

    ​Suyoto juga mengutip pesan penting dari Co-founder dan Chief Scientist Meridian AI Medics China, John Yu: “Don’t optimize children for technology. Optimize technology for the healthy development of children” (Jangan optimalkan anak-anak untuk teknologi, tetapi optimalkan teknologi untuk tumbuh kembang anak-anak yang sehat).

    ​Tanggung Jawab Moral dan Agamis

    ​Dari perspektif nilai keagamaan, Suyoto mengingatkan pesan Al-Qur’an (QS. An-Nisa: 9) mengenai kewajiban orang tua agar tidak meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka, baik secara fisik, ekonomi, intelektual, maupun spiritual.

    ​Hal ini sejalan dengan pesan sahabat Nabi, Umar bin Khattab RA, yang mengingatkan agar mendidik anak sesuai dengan tantangan zamannya. Generasi tua bertanggung jawab untuk tidak bersikap naif terhadap kehadiran AI, melainkan menuntun generasi muda agar mampu menguasai teknologi tanpa kehilangan identitas dan nilai-nilai kemanusiaan. 

    - Advertisement -spot_img

    More articles

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here

    - Advertisement -spot_img

    Latest article