
Surabaya, wartapoint – Bukan sekadar lancar membaca, siswa SD Muhammadiyah 16 Surabaya disiapkan untuk memiliki bacaan Al-Qur’an yang benar sebelum melangkah ke jenjang hafalan. Ikhtiar tersebut dilakukan Sekolah Kreatif Baratajaya melalui pembelajaran Al-Qur’an metode Tilawati bersama Nurul Falah.
Keseriusan itu salah satunya terlihat dalam evaluasi pembelajaran Al-Qur’an yang digelar di meeting room Sekolah Kreatif Baratajaya, Senin (14/9/2026) pukul 06.30 WIB. Sejumlah guru dari Nurul Falah hadir untuk mengevaluasi sekaligus menyusun agenda pembelajaran Al-Qur’an ke depan.
Koordinator Tilawati SD Muhammadiyah 16 Surabaya, Abdul Mujib, S.Ag., mengatakan evaluasi tersebut menjadi bagian dari persiapan sekolah dalam mengawal kemampuan membaca hingga hafalan Al-Qur’an siswa.
“Mulai dari jadwal pembelajaran harian, jadwal munaqosah, tasmik, hingga ujian tahfidz untuk persiapan wisuda tahfidz,” jelas Mujib.
Menurutnya, tahapan tersebut tidak dapat dilakukan secara instan. Kemampuan membaca Al-Qur’an harus terlebih dahulu diperkuat agar siswa memiliki dasar yang baik ketika memasuki program tahfidz.
“Untuk memperbaiki bacaan siswa kami sangat teliti dengan fashahah dan tajwid yang mereka ucapkan. Dari bacaan yang benar berlanjut dengan program tahfidz dengan hasil bacaan yang sudah disempurnakan,” ucapnya.
Mujib menegaskan, ketelitian dalam membaca menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Setiap siswa diarahkan untuk memperbaiki bacaan sebelum melanjutkan pada target hafalan.
Sementara itu, Kepala Urusan Al Islam, Kemuhammadiyahan dan Bahasa Arab SD Muhammadiyah 16 Surabaya, Taufik, S.Sos.I., mengatakan sekolah tidak ingin pembelajaran Al-Qur’an berhenti pada kemampuan siswa semata.
“Kami terus berupaya dalam memperbaiki bacaan Al-Qur’an siswa. Tidak berhenti di siswa saja dalam pembelajaran harian, kami juga meng-update bacaan guru melalui program tahsin Al-Qur’an,” ungkapnya.
Menurut Taufik, peningkatan kualitas guru menjadi bagian penting karena guru merupakan pendamping utama siswa dalam pembelajaran Al-Qur’an.
“Nurul Falah sebagai mitra kita dalam melaksanakan pembelajaran Al-Qur’an. Melalui metode Tilawati siswa dapat mengikuti pembelajaran dengan baik, mulai dari metode membaca klasikal, bergantian hingga privat,” katanya.
Ia menilai metode Tilawati memberikan pola pembelajaran yang sesuai dengan kondisi siswa Sekolah Kreatif Baratajaya.
“Metode Tilawati cocok dengan kondisi siswa Sekolah Kreatif,” tegas Taufik.
Kolaborasi dengan Nurul Falah pun diarahkan untuk memastikan setiap tahapan pembelajaran berjalan terukur. Mulai dari pembelajaran harian, munaqosah, tasmik, hingga ujian tahfidz disiapkan sebagai satu rangkaian.
Dengan pola tersebut, Sekolah Kreatif Baratajaya berupaya membangun budaya Qur’ani secara bertahap. Siswa tidak hanya didorong untuk mampu membaca Al-Qur’an, tetapi juga memiliki bacaan yang benar sebelum melanjutkan pada proses menghafal.
Target akhirnya bukan hanya siswa mampu menghafal ayat, tetapi mampu membaca dan menghafalkannya dengan kualitas bacaan yang baik. Dari Tilawati, tahsin, hingga tahfidz, seluruh proses diarahkan menuju lahirnya generasi Qur’ani yang tumbuh dari lingkungan sekolah.
(Ahmad Mahmudi)





