Kelas Tanpa Pintu hingga Pembacaan Gambar, Begini Cara Sekolah Kreatif Mendidik Anak

Must read

- Advertisement -

Surabaya, wartapoint — Kelas tanpa pintu, dua guru dalam satu kelas, hingga pembacaan gambar siswa. Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 16 Surabaya memilih pendekatan yang tidak sepenuhnya sama dengan pola sekolah konvensional.

Berbagai pendekatan tersebut dikembangkan untuk menghadirkan pembelajaran yang sesuai dengan karakter dan kebutuhan anak.

Salah satunya melalui pembacaan gambar siswa kelas I yang berlangsung 5–8 Oktober 2026. Heru Tjahyono, Ketua Tim Inovasi Pengembangan Sekolah (TIPS), terlibat langsung dalam kegiatan tersebut.

Koordinator kelas I, Soraya Churrotul Ain, S.Si., mengatakan kegiatan dilaksanakan selama empat hari.
“Pembacaan gambar oleh Ustadz Heru kita mulai sejak Senin (5/10/2026) sampai Kamis (8/10/2026),” katanya.
Kegiatan dilakukan secara bergiliran.
“Secara berurutan mulai dari kelas I Kutilang, I Lebah, I Lumba-lumba, dan I Kelinci,” jelasnya.

Wakil Kepala Sekolah, Ida Afifah, S.Pd., mengatakan kegiatan tersebut digunakan untuk memperoleh pemahaman lebih jauh tentang siswa.
“Pembacaan gambar hari ini sebagai tindak lanjut untuk menggali informasi mengenai struktur kepribadian siswa, emosi, mental, kemampuan konsentrasi, gaya belajar, serta hambatan siswa dalam belajar,” tuturnya.

Kepala Sekolah Kreatif, Ely Rhodlifah, SH., M.Pd., mengatakan pendekatan yang berbeda tersebut merupakan bagian dari komitmen sekolah.
“Mulai dari siswa kelas bawah kami bangun yang namanya Adab Dulu Baru Ilmu,” ujarnya.
Ia menyebut beberapa praktik yang dikembangkan sekolah.
“Meskipun dianggap aneh kelas terbuka tanpa pintu, untuk memaksimalkan pembelajaran setiap kelas ada dua guru sebagai fasilitator,” katanya.

Sekolah juga menggunakan fasilitas bermain sebagai media pembelajaran.
“Fasilitas bermain sebagai media belajar, seperti pasir pantai dan climbing,” jelas Ely.
Keterlibatan orang tua juga diperkuat melalui Parent Lighthouse Team.
“Komunitas Parent Lighthouse Team membantu kami dalam menyelaraskan antara sekolah dan orang tua,” tambahnya.

Heru mengatakan pembelajaran dirancang agar siswa aktif.
“Proses pembelajaran kita desain sesuai dengan karakteristik dan gaya belajar siswa dan pembelajaran berbasis inkuiri,” katanya.
Life Skill dan Entrepreneurship juga menjadi bagian dari pembelajaran di setiap jenjang.
“Kami punya Life Skill dan Entrepreneurship di setiap jenjang kelas untuk mempertajam kemampuan siswa,” ujarnya.

Sementara kurikulum Leader in Me digunakan untuk mengembangkan jiwa kepemimpinan siswa.
“Kurikulum Leader in Me adalah wadah untuk mengakomodasi kemampuan dan potensi siswa, melatih jiwa leadership dan mencetak generasi yang adaptif,” tutur Heru.

Menurutnya, inovasi pendidikan tidak harus terikat pada satu metode.
“Metode boleh dari mana saja, tapi tujuannya sama: melahirkan anak yang berani memimpin dirinya sendiri dan karyanya,” pungkasnya.
(Ahmad Mahmudi)

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article