Kelangkaan Minyak Tanah di Oransbari, Biogas Kotoran Sapi Diharapkan Jadi Solusi

Must read

- Advertisement -

Manokwari Selatan, wartapoint — Tingginya harga dan terbatasnya pasokan bahan bakar rumah tangga masih menjadi beban bagi masyarakat di Distrik Oransbari, Kabupaten Manokwari Selatan. Menjawab tantangan tersebut, Kementerian Transmigrasi bersama Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengusulkan inovasi biogas berbasis kotoran sapi sebagai energi alternatif ramah lingkungan.

​Selama ini, warga Oransbari sangat bergantung pada minyak tanah bersubsidi seharga Rp20.000 per lima liter, atau Rp35.000 untuk opsi non-subsidi. Namun, distribusinya sangat terbatas dan diatur secara berkala dengan jatah satu jeriken per kepala keluarga. Di sisi lain, opsi LPG ukuran 12 kilogram harganya tergolong melambung tinggi, mencapai Rp500.000 hingga Rp800.000 per tabung saat terjadi kelangkaan.

​Kondisi tersebut mendorong Tim 8 Ekspedisi Patriot ITS yang diketuai oleh Dr. Ir. Arief Abdurrakhman, S.T., M.T. untuk menghadirkan solusi berbasis potensi lokal. Melalui pemanfaatan limbah kotoran sapi, teknologi tepat guna ini mampu menghasilkan tiga produk sekaligus: gas untuk memasak, energi listrik, dan pupuk organik.

​Solikin, pakar biogas asal Pasuruan yang digandeng dalam program ini, menjelaskan efisiensi pemanfaatan limbah peternakan tersebut.

​“Gas yang dihasilkan dari 10 ekor sapi dapat menyuplai hingga tiga rumah dengan jarak tidak lebih dari 50 meter, dengan penggunaan satu kompor biogas di tiap rumahnya,” terang Solikin, yang sebelumnya sukses mengembangkan desa mandiri energi di Jawa Timur.

​Selain efisiensi biaya, faktor keamanan operasional reaktor biogas juga menjadi perhatian utama masyarakat. Anggota tim ahli, Ayu Nur Lestari, S.Tr.T., M.T., menegaskan bahwa reaktor biogas yang dirancang aman digunakan oleh warga.

​“Jika gas yang ditampung di reaktor tidak digunakan, maka gas akan hilang secara alami, bukan meledak,” jelas Ayu terkait aspek keselamatan sistem reaktor.

​Program yang dijalankan oleh tim lintas disiplin—terdiri dari Ayu Nur Lestari, Febriyati, Moch. Fauzan Surya Earlyansyah, Lalu Muhammad Sapriandi, dan Jinan Elvaretta Aqilah Setyabudi—ini juga mengusung konsep ekonomi sirkular. Setiap hasil sampingan dari proses pengolahan limbah dimanfaatkan kembali agar memiliki nilai guna dan nilai ekonomi bagi warga.

​Langkah ini sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs 7 (Energi Bersih dan Terjangkau), SDGs 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), serta SDGs 13 (Penanganan Perubahan Iklim).

​Dengan mengoptimalkan limbah peternakan sapi yang melimpah, penerapan biogas ini diharapkan mampu memutus ketergantungan warga Oransbari terhadap bahan bakar fosil, sekaligus mewujudkan kemandirian energi daerah secara berkelanjutan. (Armand)

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article