Tumbuhkan Empati dan Sentuh Isu Karhutla, Siswa SMP Muhammadiyah 16 Surabaya Gelar Salat Istisqa

Must read

- Advertisement -

Surabaya, wartapoint — Sebanyak 167 siswa SMP Muhammadiyah 16 Surabaya (Spemnas) menggelar salat istisqa atau salat meminta hujan di lantai 3 rooftop sekolah, Jumat (23/10/2026).

​Aksi ibadah bersama yang diikuti para siswa, guru, dan tenaga kependidikan ini digelar sebagai bentuk kepedulian terhadap bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah daerah, sekaligus merespons kondisi cuaca panas ekstrem selama musim kemarau.

​Pelaksanaan salat istisqa dipimpin langsung oleh Kepala Urusan Islam, Kemuhammadiyahan, dan Bahasa Arab (ISMUBA) Spemnas, Ustadz Ilham, S.Pd. Bertepatan dengan momen Hari Santri Nasional (HSN) 2026, kegiatan ini difungsikan sebagai wujud refleksi nilai-nilai kepedulian sosial.

​Kepala SMP Muhammadiyah 16 Surabaya, Adib Adam, S.Pd., menyampaikan bahwa ibadah bersama ini merupakan langkah nyata para siswa dalam memaknai Hari Santri melalui penumbuhan empati terhadap sesama dan lingkungan.

​”Pada Hari Santri Nasional ini, kami memaknainya dengan saling peduli terhadap sesama. Utamanya melihat fenomena dan kondisi pada akhir-akhir ini, kami melaksanakan salat istisqa dalam rangka meminta hujan,” ujar Adib, Jumat (23/10/2026).

​Mendorong Kepedulian Bencana dan Pendidikan Karakter

​Adib berharap doa yang dipanjatkan oleh seluruh warga sekolah dapat diijabah oleh Allah SWT, sehingga hujan dapat segera turun dan meredakan dampak cuaca panas ekstrem.

​Ia menekankan bahwa keberadaan hujan sangat dinantikan, terutama untuk membantu memadamkan karhutla di wilayah Kalimantan dan Sumatra, serta meringankan beban masyarakat yang terdampak kemarau panjang.

​”Kita mengetuk pintu langit. Semoga Allah menurunkan hujan dengan rahmat-Nya, kebakaran lahan dan cuaca yang hari ini sangat panas segera mereda, serta kita semua menjadi lebih peduli dengan sesama,” tutur Adib.

​Selain sebagai bentuk ikhtiar spiritual, Adib menjelaskan bahwa penyelenggaraan salat istisqa ini juga menjadi bagian dari pendidikan karakter bagi para siswa. Melalui kegiatan ini, siswa diajak memahami pentingnya rasa empati terhadap korban bencana, membangun solidaritas sosial, serta menjaga kelestarian lingkungan.

​Cuaca Panas Mengganggu Efektivitas KBM

​Di samping isu lingkungan nasional, fenomena cuaca panas ekstrem rupanya turut berdampak langsung pada efektivitas Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di SMP Muhammadiyah 16 Surabaya.

​Adib mengakui bahwa lonjakan suhu udara memaksa pihak sekolah melakukan penyesuaian agenda kegiatan belajar agar kenyamanan siswa tetap terjaga.

​”Dengan cuaca yang panas ini, tentunya ada pengaruh terhadap proses belajar mengajar anak-anak. Kegiatan yang seharusnya bisa dilakukan secara tenang dan fokus, sekarang harus dilakukan sambil melakukan gerakan kipas-kipas,” ungkapnya.

​Melalui ikhtiar spiritual dan edukasi karakter ini, pihak sekolah berharap para siswa tidak hanya mengasah kecerdasan akademis, tetapi juga memiliki kepekaan sosial terhadap persoalan iklim dan lingkungan sekitar.

​Penulis: Pradana

Editor: (yupan)

- Advertisement -spot_img

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest article