
Surabaya, wartapoint — Jam sekolah baru saja usai pada Senin (2/11/2026). Setelah seharian bergelut dengan kegiatan belajar di kelas, hari yang melelahkan seketika berubah menjadi momen paling seru bagi Leandra Khadeeja Mumtaz dan keempat sahabatnya: Zhafira, Nadhira, Kiara, dan Malaika.
Kelima siswi kelas V SD Muhammadiyah 22 Surabaya ini berkumpul di kediaman Leandra untuk menjalani latihan paduan suara menyanyikan lagu “Mars Aisyiyah”. Kegiatan ini bukan sekadar berkumpul biasa, melainkan persiapan penting guna menuntaskan tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan.
Cerita Perjalanan: Sempat Nyasar hingga Sambutan Hangat
Perjalanan menuju rumah Leandra diwarnai cerita unik. Leandra dan Zhafira memilih berangkat menaiki becak langganan, sementara Nadhira dan Kiara berboncengan motor jemputan, serta Malaika diantar oleh sang kakak. Namun, tantangan kecil sempat terjadi ketika Nadhira, Kiara, dan Malaika sempat tersesat dan kesulitan menemukan alamat rumah Leandra.
Beruntung, di tengah jalan mereka tak sengaja berpapasan dengan Leandra. Suasana pun kembali cair dan mereka tiba bersama-sama di rumah. Setibanya di sana, Mama dan Oma Leandra telah bersiap menyambut kedatangan mereka dengan senyum ceria di depan pintu. Setelah berebut masuk dengan antusias, kelima sahabat ini langsung menikmati hidangan makan siang bersama sambil diselingi gelak tawa dan obrolan akrab.
Studio Dadakan di Lantai Dua dan Gelak Tawa Fals
Usai perut kenyang, energi anak-anak yang tadinya sempat “loyo” karena lelah dan teriknya cuaca siang itu mendadak terisi kembali. Mereka berlarian menaiki tangga menuju lantai dua. Begitu memasuki ruangan yang sejuk dan instrumen lagu mulai bergema dari televisi, ruangan tersebut langsung berubah fungsi menjadi “studio rekaman dadakan”.
Tantangan sebenarnya dimulai saat mereka mulai melantunkan lirik demi lirik. Menyanyikan “Mars Aisyiyah” ternyata membutuhkan teknik tersendiri karena memiliki ketukan tegas, wibawa yang kuat, sekaligus keanggunan makna. Selama dua jam latihan, suasana dipenuhi gelak tawa. Suara Kiara dan Malaika kerap “kepeleset” mengikuti nada dominan dari Zhafira dan Nadhira, atau mendadak lupa lirik dan nada mereka sendiri. Tidak ada rasa canggung (jaim) di antara mereka, membuat sesi latihan terasa sangat hidup dan menyenangkan.
Puding Penyelamat dan Hasil yang Membanggakan
Di tengah keseruan latihan, Mama Leandra hadir membawa kudapan puding lembut dan minuman segar yang langsung menyelamatkan tenggorokan mereka yang mulai serak. Sambil beristirahat melingkar, mereka mendengarkan kembali lagu aslinya untuk mendalami makna lirik tentang gerakan perempuan berkemajuan.
Sesi latihan gelombang kedua pun berbuah manis. Berkat kerja keras dan kekompakan, suara mereka mulai sinkron, ketukan pas, dan pembagian suara tidak lagi saling bertabrakan. Bait terakhir berhasil dinyanyikan dengan harmonis. Seketika ruangan terdiam sejenak sebelum akhirnya pecah oleh tepuk tangan riuh tanda bangga.
Menjelang senja dan kumandang Magrib, sesi latihan pun bubar. Rumah Leandra kembali sepi saat Zhafira, Nadhira, Malaika, dan Kiara berpamitan pulang. Namun, di balik rasa lelah yang melanda, tersisa kenangan manis dan kebanggaan yang mendalam. Sebuah momen kebersamaan di masa sekolah dasar yang kelak akan paling dirindukan.
Laporan oleh: Leandra Khadeeja Mumtaz (Jurnalis Cilik SD Muhammadiyah 22 Surabaya)





